Penulis : umsidaj4y4 October 16, 2017 / Persyarikatan

DSC_0188

UMSIDA.AC.ID– Membaca bisa diartikan sebagai hakikat ilmu. Allah menurunkan ayat pertama iqro’ yang berarti “bacalah” kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril bukan tanpa alasan, namun untuk membuka pikiran kita dalam menjalani, memahami, dan memaknai kehidupan untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Membaca merupakan nutrisi untuk akal kita, karena dengan membaca, kita memperoleh ilmu pengetahuan, “Nutrisi akal adalah ilmu yang diperoleh dari membaca, dari belajar. Nutrisi hati adalah dzikir kepada Allah,yang berarti berhubungan/berkomunikasi dengan Allah. Sedangkan nutrisi organ tubuh adalah makanan dan minuman seimbang,” ungkap Dr. Khaled Saad dari Sudan International University memulai paparannya dengan tema Dinamika Pendidikan Dunia Islam: Dari Afrika Hingga Asia Ternggara di UMSIDA (9/6). “Masalah yang terjadi pada manusia sekarang adalah ketidak seimbangan akal, hati dan jasmani. Maka ilmulah yang menjadi alat penyeimbang,” imbuhnya.

Masalah pendidikan terletak pada kurikulum yang kebanyakan hanya mengakomodir ranah kognitif, belajar di kelas kemudian ujian dan lulus. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah mahasiswa belajar karena kesadaran ataukah paksaan. Karena itu, kurikulum perlu  disusun oleh para pakar agar bisa mengadopsi apa yang diperlukan peserta didik. “Di Sudan, semua ilmu terintegrasikan dengan nilai-nilai keIslaman. Seharusnya beginilah cara mendidik agar generasi muda menguasai peradaban,” ungkap Khaleed tentang kondisi pendidikan di Sudan.

Lima unsur dalam pendidikan yang wajib diperhatikan secara serius diantaranya pertama manhaj, kurikulum harus berkembang, tidak boleh statis, sama dengan semester sebelumnya. Disinilah sesungguhnya tanggungjawab pengajar sangat berat. Kedua adalah mahasiswa. Makna mahasiswa sesungguhnya orang yang punya perasaan, keinginan, dan masalah yang harus diperhatikan sebelum proses belajar berlangsung. Mereka juga berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda (apakah anak petani, saudagar, dll). Hal ini berpengaruh pada pengalaman awal mahasiswa dalam belajar. Ketiga adalah Mu’alim (pengajar). Di dunia kita Islam guru adalah sumber utama belajar. Masalah yang terjadi adalah banyak pengajar yang tidak cinta dengan pekerjaannya. Maka sebagai pendidik butuh pengorbanan yang besar. Dalam model pembelajaran bermacam-macam diantaranya: talkin, ta’awun dan musyawarah. Wawancara dengan mahasiswa setelah menjelaskan agar mengetahui kemampuan atau daya serap mahasiswa tersebut. Memberi semangat kepada mahasiswa untuk memberikan keparcayaan diri sehingga berhasil. Perlunya pengajar itu menggunakan kata-kata positif.  Ada cara yang bisa dicontoh, diakhir mahasiswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kemudian pertanyaan tersebut dicatat, dan kemudian di tanyakan kembali kepada mereka.

Keempat adalah Madrasah. Madrasah atau yang kita kenal dengan sekolah atau kampus, adalah tempat mereka menuntut ilmu pengetahuan. Madrasah harus memiliki sarana prasarana penunjang kesuksesan proses belajar dan memberikan kenyamanan bagi peserta didik.

Kelima adalah orang tua. Peran orang tua sangat strategis dalam pendidikan. Orang tua berkolaborasi dengan sekolah menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak ketika di rumah, sehingga pembelajaran yang terintegrasi di madrasah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (dian)

Related Post

Type your Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *