WhatsApp Image 2017-04-20 at 14.05.56

Memahami Sistem Pendidikan dari Negeri Penuh Konfik Palestina

Menerima informasi, pendidikan dan pengajaran dari luar negeri sudah hal yang tak asing bagi Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Dosen dan mahasiswanya yang selalu haus akan ilmu pengetahuan tentang arti kedamaian sebuah negara tak puas hanya dengan membaca buku dan menyimak diskusi dari pengarang maupun pembicara dalam negeri dengan notabene permasalahan yang sama.

Dengan mengetahui permasalahan dan bagaimana pemecahannya dari berbagai macam perspektif, Dekan FAI Dr. Istikomah, M.Pd yakin mahasiswanya akan menjadi generasi penuh semangat untuk menerapkan, dan mengembangkan pendidikanyang sesuai dengan ajaran islam dan tetap membawa nama baik UMSIDA yang Unggul, Mandiri, Sinergi, Islami, Dinamis dan Amanah. Hal ini sejalan dengan yang didiskusikan dalam kuliah tamu bersama Mr. Ahmed Omar Al-Madani asal Palestina (20/4).

Ahmed, pemuda dari negeri konflik yang mempunyai semangat untuk bisa melakukan kedamaian ditimur tengah, tidak hanya dengan berkuliah dan menuntut ilmu di Indonesia, akan tetapi dalam penerapan sistem pendidikannya. Banyak dari sistem pendidikan di Palestina dapat diaplikasikan di Indonesia, terutama kebanyakan mahasiswa FAI adalah calon pendidik. Para mahasiswa dan dosen sangat antusias dengan kegiatan tersebut diihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka lontarkan terutama terkait bagaimana keadaan di palestina yang sebenarnya. (dian)

john3

John Fontain: Mengapa Saya Menerima Islam

Sebagai umat muslim yang tinggal di negara dengan populasi penduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, tentunya kita pantas berbangga hati karena sangat mudah melaksanakan aktivitas keagamaan kapanpun dimanapun. Berbeda dengan John Fontain, pria kelahiran Manchester, UK, ini terlahir dan dibesarkan di negara yang penduduknya mayoritas kristen.

John datang ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) (25/3) bukan sebagai bagian dari organisasi tertentu, namun dengan tujuan berdakwah, ia menyebarluaskan agama islam berdasarkan pengalaman ia hijrah dari kristiani menjadi muslim melalui kegiatan dakwah dan pendidikan.

Ia terlahir sebagai seorang Kristen dari keluarga Kristen. Akan tetapi selama hidupnya dia memang sudah memiliki keraguan terhadap Yesus. Dia dulunya penyanyi jazz sejak usia 14 tahun. Hingga umur 22 tahun dia mengatakan bahwa secara materi, dirinya sukses. Perkenalannya dengan Islam dimulai ketika dia berumur 18 tahun, ketika dia menjalani usaha di Sierral Leone. Ketika itulah dia mulai mengenal orang orang Islam, namun tidak dengan serta merta dia memluk Islam kala itu juga.

Dalam realitanya, ia bertemu dengan banyak sekali tipe orang Islam, mulai dari yang taat, sampai yang mempraktikkan sihir, dsb. Ketika muncul pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya, kemudian dia mulai mencari informasi dari sejumlah muslim lainnya, hingga mendapatkan pencerahan soal bagaimana sejatinya Islam. Dengan dasar ini, kemudian pengetahuannya soal Islam bertambah, sampai akhirnya dia memeluk Islam lima tahun kemudian.

Ketika menjadi mualaf, cobaan yag dihadapi tidaklah ringan, karena dia harus berbenturan dengan keluarga dan masyarakat sekitar, terutama karena maraknya propaganda hitam terhadap Islam. Untuk memahami Islam, kita harus membaca alQuran sekaligus memahaminya, dan membaca penjelasan serta tambahannya yang tertuang dalam Sunnah. Dalam memahami, kita juga harus belajar dari tafsir karena belum tentu kita langsung memahami hanya dari ayat/ terjemahannya. John Fontaine meyakini bahwa kitab yang dipakai orang Kristen dan Yahudi saat ini merupakan hasil reproduksi, tulisan manusia, bukan kitab Injil dan Taurat yang disebutkan dalam AlQuran.

John menyampaikan ada enam perangkap syetan, menurut Ibnul Qayyim, bahwa syetan akan mengajak manusia melakukan Syirik dan kufur, bid’ah, dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil. Selain itu, syetan akan mengajak manusia melakukan perbuatan yang baik, untuk menghindarkan dari perbuatan yang lebih baik dan mengajak manusia melakukan perbuatan yang tidak ada manfaatnya/ tidak mendatangkan pahala.

Semoga kita semua terhindar dari hal-hal demikian. (dian)

Berikut adalah foto-foto diskusi bersama John Fontain, lihat aksinya yang sangat ramah.

john1

John memberikan hadiah anggur merah pada Sahlan, mahasiswa FAI, karena menjawab pertanyaannya dengan sangat baik

john4

John menerima cinderamata dari rektor

john2

Wow… Cinderamatanya ketebak, BATIK, dia sangat bahagia dan langsung memakainya.

john3

Selfie dulu sebelum akhiri sesi kuliah umum

2

UMSIDA Tambah Kerjasama Dengan Aliansi Perguruan Tinggi di Taiwan

Bersama Puluhan Universitas Muhammadiyah di seluruh Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menambah kerjasama dengan aliansi Perguruan Tinggi di Taiwan. Kerjasama tersebut diprakarsai oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Indonesia dan walikota Tainan City, Taiwan. Menurut Kasi. KUI Wahyu Taufiq M.Pd., keikutsertaan UMSIDA dalam MoU dengan aliansi Perguruan Tinggi di Taiwan tak lain karena untuk mengembangkan kerjasama, “Kerjasama ini menggagas tentang pertukaran mahasiswa, pertukaran fakultas, pengembangan kurikulum, kolaborasi penelitian  yang berkaitan dengan implikasi ekonomi, budaya, etik, politik, dan sosial pada konteks global teknologi kontemporer.”

Kedua belah pihak bersepakat akan melaksanakan dan mengembangkan kerjasama yang telah tertera dalam nota kesepakatan bersama yang berlangsung selama tiga tahun. (dian)

Hadapi MEA dengan Pendidikan Berkemajuan

Pendidikan selalu menjadi isu yang tak lekang diperbincangkan mulai dari masyarakat bawah hingga atas. Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini, pendidikan di Indonesia sedang sudah tak boleh lagi berfokus pada pengembangan pemikiran intelektual saja, namun harus mampu memenuhi kebutuhan publik. Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) (18/3) menjawab tantangan problematika pendidikan. Pada tahun 2030, sebanyak 113 jt dibutuhkan tenaga terampil  sehingga perlu perbaikan mutu dan akses tenaga terampil untuk memenuhi pendidikan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Dr. Hidayatulloh dalam keynote speech nya menyampaikan tiga hal yang mempengaruhi mutu pendidikan, yaitu metode, guru dan ruh pendidik. Kualitas Sumber Daya Manusia dibutuhkan adalah mereka yang memiliki integritas diri, percaya diri, disiplin, kreatif, penyelesaian masalah, belajar sepanjang hayat, berani mengambil resiko, berfikir kritis, dan holistik.

Dari kacamata Muhammadiyah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’thi menyampaikan kepada 1200 peserta tentang bagaimana muhammadiyah menyiapkan diri meningkatkan kualitas pendidikan untuk mempersiapkan MEA. “Peta dunia abad 21, perubahan dari Europe sentris menjadi Asian sentris karena beberapa faktor yaitu: 1) demografi, penduduk banyak di Asia, 2) tingkat produktivitas tinggi, 3) capaian ekonomi, peningkatan SDM dan dinamika politik. Negara-negara Asia terkuat adalah Jepang, Korea, Cina, India. Indonesia di tahun 2030 berada di 5 terbesar dalam capaian ekonomi.” Ungkapnya.

“Sebuah negara akan mati jika bermasalah dalam demografi,” sambung Mu’thi “Penduduk di Indonesia masuk pada peringkat terbanyak ke-4 di dunia dan konsumtif. Negara paling gencar expansi ke Indonesia adalah Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Asean Economic Community (AEC) atau yang kita kenal MEA adalah sebuah upaya utk masyarakat tumbuh dan maju bersama. Selain itu, Asia juga membentuk Asean Political Community. AEC diharapkan terjadi mobilitas antar negara asia. Implikasinya terhadap kawasan terbuka dalam ketenagakerjaan. Dalam konteks ekonomi, Indonesia adalah pasar sehingga banyak yang ingin bekerjasama dengan Indonesia. Sekarang, bagaimana Indonesia jg maju, jangan sampai jadi tamu di negara sendiri. Kuncinya ada 2, yaitu mahasiswa harus ber-qualitative learning orientation dan menjalin networking.” (dian)

Ditinjau dari sisi pendidikan, ilmu bisa diperoleh dengan cara bertanya baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Prof. Warsono, Rektor UNESA menyebutkan, “Akal digunakan untuk berpikir secara deduktif. Sains dan bahasa adalah sarana untuk mengkomunikasikan ide kepada orang lain untuk menghasilkan output yan berkarakter.”

Bagaimana cara bertanya, Warsono menyampaikan agar kita menggunakan pertanyaan 5W 1H. Ilmu adalah sebab akibat sehingga menjadi sumber analisis, how menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan akal dan mnghasilkan pengetahuan baru. “Masalah yang sering muncul dalam proses belajar mengajar adalah siswa malas bertanya sehingga membuat pemikiran mereka tidak kritis dan analitik. Agar siswa bertanya, guru dapat menstimulus dengan pertanyaan-pertanyaan sebelum memulai pembelajaran. Guru bertanya terlebih dahulu di setiap pertemuan dengan metode ekspositori sehingga merangsang pikiran untuk berkembang.” Ungkap Rektor UNESA sebelum mengakhiri sesi paparannya. (dian)

yulina

Dua Kaprodi ini Berhasil Meraih “The Best Article”

Yuli Astutik, M.Pd (tengah) dan Choirun Nisak Aulina, M.Pd (kanan) pantas bangga dengan prestasi yang diraihnya melalui artikel-artikel yang mereka presentasikan pada Seminar Nasional Pendidikan dengan tema “Pendidikan Berkemajuan Untuk Semua” di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) pada Sabtu, (4/3). Bagaimana tidak, keduanya adalah dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang mendapatkan penghargaan sebagai penyaji artikel terbaik dalam seminar nasional tersebut.

Padatnya aktivitas Yuli yang saat ini menjabat Ketua Program Studi (Kaprodi) Bahasa Inggris dan Lina sebagai  Kaprodi PG-PAUD, tidak pernah menurunkan semangat mereka untuk terus berkarya dengan melakukan banyak penelitian. Buktinya, keduanya mampu meraih the best article  bertajuk “Strategi Pembelajaran Speaking Mahasiswa di Tingkat Universitas”. Yuli dan Lina berkolaborasi melaksanakan penelitian tersebut untuk meningkatkan kualitas speaking mahasiswa UMSIDA agar mampu berkompetisi secara global. Hal ini seiring dengan tujuan dilaksanakannya seminar nasional di UMG, yaitu untuk meningkatkan kualitas SDM yang berkemajuan dan mempunyai daya saing global yang tinggi sehingga mampu memberikan kebermanfaatan bagi semua.  (dian)

IMG_2747

Rakernas dan Worksop series Electronic Journal

Setelah dipercaya sebagai Koordinator Daerah Relawan Jurnal Indonesia (RJI) di Jawa Timur, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menjadi tuan rumah Series Workshop Electronic Journal dan Rapat Kerja Nasinonal RJI pada dua hari ini (14-15/4) yang dihadiri oleh 336 Orang pengelola jurnal yang tersebar di seluruh Indonesia.

Acara sengaja di desain menjadi dua bagian yakni hari pertama Series Workshop Electronic Journal dan hari kedua Rapat Kerja Nasinonal RJI. Workshop Electronic Journal ditujukan untuk mengakomodir para pengelola jurnal yang ingin lebih mendalami lagi terkait tatakelola jurnal elektronik menggunakan platform Open Journal System (OJS). Yang menarik, workshop ini dipilah-pilah kelasnya sesuai dengan level pengetahuan calon peserta workshop, ada kelas beginner, intermediate, advance dan expert. Tujuannya yakni untuk memberi pilihan kepada calon-calon peserta workshop untuk memilih kelasnya sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Bukan hanya itu saja, pemisahan kelas ini juga ditujukan agar peserta dapat diskusi dengan baik dan para tutor fokus menyampaikan materinya.

Selain itu, RJI juga selenggarakan rapat kerja nasional yang pertama. Rapat ini tujuannya untuk menegaskan posisi RJI dalam ranah publikasi di Indonesia. Seperti diketahui bersama bahwa semangat para penggagas RJI dan seluruh Anggota RJI adalah untuk membantu pengelola jurnal di Indonesia mewujudkan pengelolaan jurnal secara elektronik yang berkualitas dan bereputasi di kancah Nasional tanpa mengkotak-kotakkan. Maka, perlu kiranya RJI menyamakan persepsi dan menyusun program kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Sementara itu, bekerjasama dengan UMSIDA, RJI menawarkan penginapan gratis bagi 60 orang peserta yang terlebih dahulu melakukan donasi . (dian)

bedah buku - Copy

Bedah Buku: “Terorisme dan Radikalisme, Akar Ideologi dan Tuntutan Aksi”

Maraknya kasus terorisme vs radikalisme di Indonesia membuat penulis kondang Prof. Achmad.Jainuri, MA, PhD., meluncurkan buku terbarunya bertajuk “Terorisme dan Radikalisme, Akar Ideologi dan Tuntutan Aksi”. Menanggapi bagaimana sesungguhnya bentuk teroris dan radikalisme, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menyelenggarakan Bedah Buku karangan Achmad Jainuri tersebut (25/5).

Kegiatan yang dihadiri ratusan mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Psikologi UMSIDA ini berlangsung gayeng lantaran gaya pembicara utamanya, Prof Jainuri, sangat menyenangkan saat menguraikan isi buku. Radikalisme menurut Jainuri, dapat berada di ranah ide maupun tindakan. Sejauh masih berada di ranah ide/ gagasan, hal tersebut tidaklah masalah. Namun jika sudah berupa  tindakan kekerasan yang merugikan orang lain maka itulah yang tidak diperbolehkan. Hukum di Indonesia, menurut Emy Rosna Wati, SH, MH, secara tegas melarang tindakan radikal yang mengarah pada kekerasan.

Tidak hanya soal radikalisme, Prof. Jain juga mengungkapkan secara sederhana bagaimana konsep teror yang sebenarnya. Teror merupakan tindakan yang dilakukan untuk menakut-nakuti orang lain. Ciri seseorang yang dapat berbuat radikal dan terror salah satunya adalah suka menyendiri atau menjauh dari pergaulan sosial. Namun yang patut disayangkan adalah, labelisasi teroris nyaris selalu dilekatkan pada agama tertentu, yang ini tentu saja tidak fair. Saat pemerintah suatu negara bertindak represif, menciptakan ketidak-adilan pada masyarakat muslim dan banyak tersebar fitnah, maka seharusnya kita bertindak, demi mewujudkan ketertiban bersama. (fat/dian)

RAKERNAS JURNAL (1)

UMSIDA Dipercaya Menjadi Tuan Rumah Pada Rakernas Relawan Jurnal Indonesia Pertama

Setelah dipercaya sebagai Koordinator Daerah Relawan Jurnal Indonesia (RJI) di Jawa Timur. Pertengahan April tepatnya tanggal 14-15 April 2017 UMSIDA kembali dipercaya sebagai tuan rumah Series Workshop Electronic Journal dan Rapat Kerja Nasinonal RJI. Acara ini dihadiri oleh 336 Orang pengelola jurnal yang tersebar di seluruh Indonesia. Seperti terlihat pada portal http://rakernas.jurnalindonesia.org/.

Acara sengaja di desain menjadi dua bagian yakni hari pertama Series Workshop Electronic Journal dan hari kedua Rapat Kerja Nasinonal RJI. Workshop Electronic Journal ditujukan untuk mengakomodir para pengelola jurnal yang ingin lebih mendalami lagi terkait tatakelola jurnal elektronik menggunakan platform Open Journal System (OJS). Yang menarik, workshop ini dipilah-pilah kelasnya sesuai dengan level pengetahuan calon peserta workshop, ada kelas beginner, intermediate, advance dan expert (detail kelas ada di http://rakernas.jurnalindonesia.org/). Tujuannya yakni untuk memberi pilihan kepada calon-calon peserta workshop untuk memilih kelasnya sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Bukan hanya itu saja, pemisahan kelas ini juga ditujukan agar peserta dapat diskusi dengan baik dan para tutor fokus menyampaikan materinya.

Selain itu, RJI juga selenggarakan rapat kerja nasional yang pertama. Rapat ini tujuannya untuk menegaskan posisi RJI dalam ranah publikasi di Indonesia. Seperti diketahui bersama bahwa semangat para penggagas RJI dan seluruh Anggota RJI adalah untuk membantu pengelola jurnal di Indonesia mewujudkan pengelolaan jurnal secara elektronik yang berkualitas dan bereputasi di kancah Nasional tanpa mengkotak-kotakkan. Maka, perlu kiranya RJI menyamakan persepsi dan menyusun program kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Sementara itu, bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, RJI menawarkan penginapan gratis bagi 60 orang peserta yang terlebih dahulu melakukan donasi (http://www.jurnalindonesia.org/rji-sediakan-penginapan-gratis-peserta-rakernas/).

upload2

Pengukuhan Mahasiswa Baru 2016

Pagi ini, 9 september 2016 bertepatan dengan 7 Dzulhijjah 1437 Hijriyah, Rektor UMSIDA Bapak Dr. Hidayatulloh, M.Si mengukuhkan mahasiswa baru dengan disematkannya jas almamater kepada seluruh mahasiswa baru baik Program Diploma Tiga, Sarjana Strata Satu dan Strata Dua yang berjumlah 2455. Seluruh mahasiswa penuh bangga mengenakan jas kebanggaan, tanda dimulainya hidup mereka sebagai mahasiswa. Berikut dokumentasinya.

up1

up2 - Copy

up3

up4

up5

updahnil

upload

upload2

 

 

 

 

semkes

Pasangan Sehat untuk Kehamilan Sehat

Banyaknya pasangan muda yang kurang informasi tentang persiapan kehamilan yang sehat dan bebas dari virus toxoplasma secara tidak langsung dapat menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi di Indonesia. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) Sri Mukhoddin Farida Hanum., SST.,MM.,M.Kes menyebutkan, “Menurut data, di Sidoarjo sendiri  angka kematian ibu (AKI) mencapai 72,1 per 100.000 kelahiran hidup.”

semkes2

Menanggapi hal tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) menyelenggarakan Seminar Kesehatan dengan tema Bahaya Toxoplasma Bagi Ibu Hamil, kemarin (4/12) untuk mewujudkan generasi yang berkualitas sejak dalam kandungan. Seminar yang bertempat di aula “Siti Khodijah” kampus 4 UMSIDA ini dihadiri 180 peserta yang terdiri dari remaja putra putri hingga mahasiswa baik dari umsida sendiri maupun berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya.

semkes3ed

Drh. Yos Adi Prakosa, salah seorang pembicara dalam seminar tersebut menyampaikan banyak sekali informasi tentang apa itu toxoplasma, bagaimana siklus hidup, transmisi dan distribusi toxoplasma pada manusia, serta cara penularan toxoplasma dan bagaimana mencegahnya agar terhindar dari virus toxoplasma. Sedangkan Tutik Rusdiyati, A.Per.Pen., M.Kes, menyebutkan toxoplasma bagi ibu hamil sangat berbahaya, oleh karena itu perlu diketahui kejadian-kejadian toxoplasma pada ibu hamil, faktor resikonya, bagaimana mendiagnosa, serta cara penanganan pd ibu hamil dengan toxoplasma dan mengetahui komplikasi atau dampaknya.

Tindak lanjut dari kegiatan ini menurut Dekan FIKES, “Meningkatkan kontribusi civitas akademika FIKES UMSIDA dalam kegiatan penelitian dan pengabdian pada masyarakat untuk membantu menurunkan AKI dan AKB mulai dari persiapan keluarga baru / calon pengantin yang sehat.” (dian)