Pentingnya Silaturahmi Untuk Keberkahan Hidup

IMG20170704122653

Mengawali bekerja di bulan syawal setelah libur panjang, Pengurus Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) Dr. H. Abu Sofyan menekankan makna perjalanan hidup manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT, yang paling taqwa disisi Allah adalah siapa saja yang bekerja dengan ikhlas tidak membedakan jabatan dalam pekerjaan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

“Salah satu cara bertakwa kepada Allah adalah dengan menjaga tali silaturahmi,” tambahnya. Abu mengutip sabda Rasululloh, “Kebajikan yang cepat pahalanya ada dua yaitu, berbakti kepada apa saja karena Allah dan orang yang rajin silaturahim. Dan ada dua yang siksanya cepat, pertama orang yang berbuat kekejian dan kedua orang yang memutus tali silaturrahim (HR.ibnu Majjah),” terangnya dalam tausiyah pentingnya silaturahmi untuk keberkahan hidup dalam acara silaturahim dan halal bi halal dosen dan tenaga kependidikan UMSIDA kemarin (1/7).

Menurut Hadis Mutafaqun ‘Alai: nabi bersabda: menjalin silaturrahmi sangat penting tergantung di ‘Ars. Hadis hudtsi: ada dua orang yang nanti tidak dilihat Allah, yaitu tetangga yang hasud dan memutus silaturrahim. Abu menghimbau agar seluruh dosen dan karyawan membiasakan untuk berjabat tangan minimal kepada 10 orang setiap kali usai shalat berjama’ah lantaran dapat mengurangi masalah, “Biasakan setelah sholat berjamaah, jabat tangan minimal 10 orang. Hal ini bisa mengurai permasalahan2 kita.”

Dikaitkan dengan pemembangunan kampus, Abu menghimbau untuk membangun kampus UMSIDA berdasarkan taqwa dengan tiga dimensi pemahaman. Pertama, dimensi individu. Dosen dan karyawan harus memiliki integritas moral yang tinggi seperti jujur dan amanah karena keduanya adalah pengantar ke surga. Selain itu, harus adil yaitu menempatkan sesuatu pada porsinya karena keadilan dekat dengan ketaqwaan serta memegang amanah. Tidak disebut iman apabila ia ingkar dan tidak islam seseorang itu jika tidak menepati janji.

Kedua, dimensi sosial. Sebagai muslim, kita wajib tebarkan salam dimanapun kita berada, saling memberi makan untuk bangun sistem ekonomi yang Islami, serta membangun komunikasi dengan sesama manusia, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas). Bangunlah malam ketika semua orang terlelap. Jika empat hal dimensi sosial itu dilasankan pastilah jannah balasnnya. Ketiga, dimensi kealaman, Makmurkan dunia dengan cara menjaga keseimbangan lingkungan. (dian)