Penulis : umsidaj4y4 August 21, 2018 / Berita

Minimnya keterampilan dalam mengembangkan modul dan media pembelajaran di Sekolah Alam (SA) serta kurangnya siswa memahami materi-materi pelajaran di sekolah menginspirasi dua dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) Vanda Rezania SPsi MPd dan Dian Novita MPd melakukan inovasi dan kreasi melalui Program  Kemitraan Masyarakat (PKM) demi tercapainya tujuan pembelajaran secara maksimal. Program yang didanai oleh Ristek DIKTI ini diterapkan pada siswa di SA Rumah Matahari di desa Wilayut Sukodono dan SA Al-Izzah di desa Junwangi Krian.

Mengusung tema Peningkatan Keterampilan Guru Sekolah Alam Melalui Pelatihan Penyusunan Modul Mind Mapping Semi 3D, Vanda dan Dian membina dan melatih guru Sekolah Alam untuk meningkatkan kemampuan berfikir, memiliki keterampilan dalam menyusun dan membuat modul mind mapping semi 3D. Tak hanya itu, “Mereka diharapkan mampu membuat media pembelajaran berbasis mind mapping semi 3D serta memaksimalkan potensi alam sebagai bahan pembuatan pembelajaran,” ungkap Vanda selaku ketua tim. “Dan yang paling penting adalah pemahaman materi pelajaran peserta didik akan jauh lebih baik melalui pembuatan modul dan media mind mapping semi 3D ini,” imbuhnya.

Kegiatan ini bentuk pengabdian dosen terhadap masyarakat sekitar, dilakukan secara berkelanjutan. Pelatihan penyusunan modul dan mind mapping semi 3D diselenggarakan selama dua hari di tempat yang berbeda. Hari pertama, Jumat lalu (18/8) di SA Al Izzah di Krian bersama 8 guru. Dilanjutkan pada hari Sabtu (19/8) di SA Rumah Matahari Sukodono bersama 10 orang guru. Program ini sebagai langkah untuk terwujudnya guru yang terampil dan kreatif di Kabupaten Sidoarjo.

Vanda, saat mengisi materi mengatakan, “Karena sekolah ini berbasis alam, maka alam dijadikan sebagai bahan dan sumber belajar bagi siswa. Sumber belajar yang berbasis alam ini mampu untuk meningkatkan prestasi dan minat siswa di dalam setiap pembelajarannya,” terangnya.

“Segala bentuk bahan yang dapat digunakan oleh guru untuk membantu proses pembelajaran, apapun, baik itu cetak maupun non cetak itu seperti internet, LCD, permainan monopoli, permainan ular tangga, buku dan LKS,” tuturnya.

“Mind mapping itu, semua dibuat dengan menggunakan bahan alam yg ada disekitar sekolah, seperti daun-daunan, tanah liat, pasir, ranting, dan lain-lain. Ditempel dengan lem kayu pada kertas karton tebal sehingga memunculkan kesan semi 3D. Sebagai contoh, untuk membuat ikan-ikanan, maka beberapa helai daun ditumpuk dengan lem lalu digunting agak miring dan ditata menyerupai ikan, begitu seterusnya,” tandasnya.

Beri

Vanda, saat membimbing para guru memilih bahan alam

Berikut beberapa media pembelajaran hasil karya para guru binaan dosen FKIP Umsida.

Adaptasi makhluk hidup tumbuhan dan hewan memiliki berbagai macam cara beradaptasi dengan lingkungannya.
Peredaran darah: dijalankan oleh jantung sebagai pusat organ, dikembangkanoleh organ-organ tubuh yang membantu proses peredaran darah
Proses fotosintesis

Dian menambahkan, “Bentuk bahan ajar yang sering kita temui versi cetaknya yaitu LKS. Boleh tidak sebenarnya LKS itu dipakai? Boleh, itu tidak apa-apa, karena LKS itu dapat membantu guru. Tetapi alangkah baiknya jika LKS atau bahan ajar itu disusun sendiri,” ujarnya.

“Dari situlah dibutuhkan kesadaran, pemahaman dan keterampilan dari seorang guru untuk dapat menjadi agen of change di dalam pendidikan. Dengan cara membuat mind mapping semi 3D disetiap pembelajarannya. Dengan hasil kreatifitasnya itu maka proses belajar mengajar di kelas menjadi lebih menyenangkan,” imbuh Dian.

Dalam pelatihan tersebut peserta juga diajak untuk mencoba membuat modul dan media mind mapping semi 3D secara berkelompok. Di sana mereka mulai menggambar sesuai kreatifitas dan imajinasinya. Dengan ini, mereka berlatih untuk membuat modul dan media mind mappingnya sendiri. Dan nantinya modul mind mapping ini akan diterapkan secara langsung di sekolah. (van/dian)

Related Post