Haedar Nashir : Tiga Prinsip yang Membuat Muhammadiyah Tetap Selamat dari Pusaran Kekuasaan

Penulis : umsidaj4y4 March 31, 2019 / Berita

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir mengatakan salah satu yang diperlukan oleh Muhammadiyah saat ini adalah membangkitkan kembali etos kemajuan dan pergerakan generasi awal.

“Etos Muhammadiyah itu perlu dibangkitkan agar tetap tumbuh subur. Bahkan, terus hidup di dalam jiwa, alam pikiran, dan orientasi tindakan seluruh pimpinan Muhammadiyah,” katanya ketika membuka Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Jatim, di Auditaorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Sabtu (30/3/19).

Haedar berharap, etos Muhammadiyah itu harus diwariskan ke generasi baru Muhammadiyah yang sedang memulai internalisasi nilai kemajuan dan pergerakan ini. Yakni, para siswa didik Muhammadiyah di tingkat dasar.

“Mereka yang mewarisi etos Muhammadiyah akan dapat membawa nilai Islam untuk membangun peradaban semesta, dan untuk semua orang. Sebab Muhammadiyah bukan hanya untuk warganya. Tapi untuk kemajuan umat Islam, bangsa, dan kemanusiaan global,” jelasnya.

Kemudian, lanjut dia, memperkokoh manhaj keislaman warga Muhammadiyah lewat apa yang telah diletakkan pondasinya oleh tarjih dalam Manhaj Tarjih dan Pemikiran Islam. “Nah, itulah yang harus menjadi rujukan buat warga Muhammadiyah,” tuturnya.

Haedar menyebutkan, adapun pendekatan pemahaman keislaman Muhammadiyah bertumpu pada bayani, burhani, dan irfani. “Jadi, jangan terbawa arus pemikiran yang secara fundamental berbeda dengan Muhammadiyah,” tegasnya.

Ia melanjutkan, warga Muhammadiyah harus tetap memedomani kepribadian, khitah, dan prinsip ideologi yang selama ini menjadi kekuatan besar Muhammadiyah.

“Sebagai orang yang lahir dari pergumulan pergerakan Persyarikatan, sejak dari IPM hingga ke PP Muhammadiyah, dan mencoba belajar Muhammadiyah dari A sampai Z, saya menghayati betul bahwa kepribadian, khitah, dan prinsip ideologi inilah yang membuat Muhammadiyah tetap selamat dari pusaran kekuasaan dan lainnya,” urainya.

Bahkan, kata dia, Muhammadiyah tetap bergerak karena nafas ideologis ini. “Jadi khitah dan kepribadian kita bukanlah penghambat. Justru menjadi penggerak,” ungkapnya.

Terakhir, adalah perlunya dinamisasi amal usaha Muhammadiyah. “Empat hal inilah yang diperlukan oleh Muhammadiyah sekarang ini,” ujarnya. (Aan)

Tags: Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Jatim, UMSIDA,

Related Post