Penulis : umsidaj4y4 November 29, 2018 / Berita

Segala cobaan dan rintangan rupanya bukan dijadikan alasan oleh mahasiswa program studi PGMI ini, Nur Intan Rizqi. Sepeninggal ayahnya saat kelas 5 SD membuatnya sangat terpukul, pasalnya sang ayah, orang terdekat dengan dirinya. Dari ayahnya Intan belajar baca tulis dan hal-hal lainnya yang membuatnya mandiri seperti sekarang. Menjadi wisudawati angkatan 32 terbaik Fakultas Agama Islam, ipk nyaris sempurna 3,94 dengan predikat pujian. (27/11/2018).

Baginya yang terpenting dalam hidup, membahagiakan kedua orang tuanya, sempat sangat terpukul kembali seperti mengorek luka lama pada saat sang Ibu juga dijemput sang pencipta. Bertepatan dengan semester tujuh dimana ia di sibukkan dengan penyusunan skripsi masa itu. “Aku saat itu sudah sangat malas untuk mengerjakan skripsi karena tujuan kuliah untuk orang tuaku, saat mereka sudah tidak ada lalu buat apa lagi aku kuliah.” Ungkap putri pasangan almarhum Sumali dan almarhumah Siyami.

Berkuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), bukanlah sebuah impian baginya. “Lulus SMA, aku ikut jalur undangan perguruan tinggi Negeri tapi atas takdir Allah aku tidak lolos,” ujarnya gadis penyuka gado-gado ini. “Lalu, ikut jalur tes dengan tujuan Universtas Negeri impianku, namun karena takut larangan keluarga akhirnya tidak mengikuti tes saat itu.” Paparnya lagi.

Ibunya yang bekerja di pabrik gula setiap enam bulan sekali, sisanya berjaulan roti goring keliling kampong. Intan ingat betul biaya kuliah pertamanya ia menggunakan uang tabungan dari ibunya.

Awal semester dihadapi dengan setengah hati dan ingin mengikuti jalur tes kembali di tahun depan. “Tetapi di Umsida aku sangat merasa beruntung,” ungkapnya. “Dulu aku sangat pemalu karena lingkungan di SMA ku dulu kebanyakan dari orang berada, tapi di Umsida mereka menerima aku apa adanya. Ramah, saling mendukung dan tidak saling menonjolkan dirinya. Begitupun dengan dosen yang sangat baik-baik sekali.” Jelasnya.

Intan, mengaku di tengah-tengah semester ia sempat ingin putus kuliah sebab biaya dan kurangnya dukungan keluarga. Namun, saat bercerita dengan salah seorang dosen, beliau selalu memberi motivasi bahkan pernah membantu sedikit biaya kuliahnya. “Pada semester satu sampai empat, aku bekerja di sebuah pabrik dari pagi hingga sore jam empat. Aku selalu membawa seluruh barang keperluan kerja dan kuliah sekaligus, lalu menitipkan di tukang parkir pabrik.” Katanya, “Lalu sorenya langsung ke kampus dan mandi di pom atau masjid terdekat sambil ganti baju.” Lanjutnya. Hampir setiap hari Intan telat pada akhirnya selalu mendapat tugas tambahan.

“Di Umsida aku berubah banyak hal, dari akademik dan keagamaan. Serta sikap sopan santun seorang muslimah yang baik.” Jelasnya, “Aku dulunya pendiam, lalu belajar publik speaking dari organisasi kemasyarakatan di desaku Singopadu. Kalau di Umsida aku bergabung dengan Himpunan Mahasiswa PGMI sebagai ketua departemen Sumber daya manusia dan Badan Eksekutif Mahasiswa FAI di Departemen Pengkaderan.” Paparnya.

Tak pernah menyangka dirinya menjadi wisudawan terbaik seperti sekarang, baginya membahagiakan orang tua adalah terpenting. Hanya orang tua yang mendukungnya untuk bersekolah, sebab paham akan kemampuan putrinya satu ini. Saat SD ayahnya tidak datang ke Wisuda, SMA juga bertepatan kala ibunya sakit dirumah sakit, dan tidak disangka saat kuliah keduanya tidak bisa datang karena sudah berbeda Alam. “Aku percaya ini semua takdir Allah, tapi aku akan tetap meneruskan sekolahku dengan baik. Ini semua untuk meraka, agar bangga denganku disana.” Tukasnya sambil mengusap air matanya saat wawancara. (Igip).

Related Post