Saraseshan UKP-DKAAP – UMSIDA: Peradaban Baru, Keamanan Siber, dan Keindonesiaan Kita

Penulis : umsidaj4y4 May 24, 2019 / Berita

Umsida.ac.id – Kemajuan Teknologi tak diragukan lagi memberi pengaruh luar biasa dalam kehidupan manusia, hingga menghadirkan sebuah disrupsi, sebuah guncangan, pada hampir semua lini kebidupan manusia: ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan. Ini pun menjadi tantangan yang akan membawa pada peradaban baru umat manusia dan hal ini terjadi di semua belahan dunia, termasuk Indonesia.

Oleh: Kumara Adji Kusuma

Tak diragukan lagi, bahwa saat ini, kita hidup pada era disrupsi. Sebuah istilah yang menggambarkan fenomena ketika masyarakat kini telah mengalami pergeseran. Jamak kita saksikan, bahwa nyaris semua aktivitas manusia yang semula dilakukan di dunia nyata kini dilakukan dunia maya: transaksi ekonomi yang paperless, relasi sosial via media sosial, pengetahuan instan via internet, gerak budaya massa dan kemanusiaan, serta pola keagamaan masyarakat.

Berbagai hal tersebut disebabkan oleh kemajuan teknologi yang menyebakan dunia menjadi tidak lagi berbatas. Dunia tanpa batas ini pun bahkan menciptakan sebuah tatanan dunia baru yaitu dunia virtual yang bisa dimasuki dan dimainkan oleh siapa saja tanpa terkecuali; Hingga mind-hacking atau memengaruhi pikiran dan perilaku orang. Fenomena ini pun memberi tantangan baru bagi perubahan peradaban manusia.

Merespon fenomena tak terelakkan tersebut, Urusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban (UKP DKAAP) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menggelar sebuah sarasehan yang bertajuk “Indonesia: Disrupsi Teknologi dan Tantangan Peradaban” pada hari Rabu (22/05/2019) di Hotel Luminor Sidoarjo.

Cetak Biru Peradaban Indonesia

Pada saat teknologi telah menjadi sangat maju, ia pun merambah seluruh aspek kehidupan manusia. Berbagai fiksi yang dulu dianggap tidak mungkin ada, satu per satu dari mereka mulai berada di sekitar kita karena kecanggihan teknologi. “Fiksi telah menjadi bagian dari kehidupan kita yang tak terpisahkan. Artificial intelleigence (AI) akan menggantikan filsafat, agama, dan science,” kata Dr. Nyong Eka Teguh Santosa, M. Fil.I yang pemateri pertama dalam sarasehan tersebut mengawali ceramahnya.

Pak Nyong mempertanyakan terkait bagaimana Indonesia merespon berbagai kemewahan teknologi yang begitu menakjubkan. Diapun menjawab dari perspketif seorang Filsuf Martin Heidegger, bahwa Indonesia jangan berfikir dulu tentang Indonesia yang dalam angan-angan yang ada di sana (Das Solen) yang mengaplikasikan kecanggihan teknologi secara tapat, tetapi harus apa yang ada sekarang di sini (Dasein). “Apa Indonesia punya desain peradaban?,” ungkap Pak Nyong.

Melalui sejarah, Pak Nyong mengingatkan audience, bahwa pada dasarnya, para pendiri bangsa Indonesia telah mempersiapkannya.  “Akar peradaban harus dibangun dulu, dan indonesia sudah ada akar itu. Bapak founding fathers kita sudah punya pandangan itu. blue print tentang indonesia sudah ada. Sejak dini sudah dikenalkan di pembukaan UUD 1945. Tentang siapa itu Indonesia,” ujar pak Nyong dengan semangat. “Trisakti bung karno sudah megaskan juga bahwa Indonesia harus berdaulat secara politik, bedikari secara ekonomi. Berkepribadian sacara budaya,” kata Pak Nyong mengaskan tentang jati diri bangsa Indonesia yang telah tertata berdasarkan karakteristik bangsa Indonesia. Karena, apa pun bentuk peradabannya, blue print tersebut tetap melekat dalam diri warga Indonesia sebagai jati dirinya. “Keindonesiaan punya pakem sendiri,” ujarnya menandaskan.

Eksistensi bangsa Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia ada bukan karena faktor penguasaan. “NKRI milik kita ada bukan dominasi, tetapi konsensus bersama, kesejajaran, wasathiyah. Nilai nilai ini pun ada dalam agama yang ada di Indonesia dan memiliki kontribusi positif,” kata pak Nyong menjelaskan. Dia membandingkan dengan Negara Jepang yang mencanangkan Indonesia 5.0, yang mana agama bagi Negari Sakura ini tidak memiliki pengaruh apa pun. Namun berdasarkan sebuah survei menyebutkan bahwa anak muda Indonesia hampir 90 persen merasa bahagia yang faktornya adalah komitmen agama. “Karena itu berindonesia, warganya bisa 100 persen beragama, 100 persen berindonesia,” ungkapnya menutup ceramahnya.

Peradaban Era Digital

Dalam konteks semakin meningkatknya penggunaan teknologi seperti cloud computing, big data, internet of things (IOT), artificial intelligence (AI), umat manusia sudah tidak dapat dilepaskan dari gadget bernama handphone Ketua Indonesia Cyber Security Forum Dr. Yuliardi Sutedja mengungkapkan bahwa hal ini telah menimbulkan berbagai tantangan serta kebutuhan atas keamanan, kepatuhan, perlindungan data, dan sebagainya.

“Dalam konteks ke-Indonesia-an, Transformasi digital merupakan bagian dari sebuah proses pemanfaatan teknologi tinggi. Karenanya transformasi teknologi di Indeonsia sepatutnya bukan persoalan ganti teknologi, karena itu akan menciptakan ketergantungan, tetapi transformasi teknologi adalah kita menyiapkan orangnya,” kata pak Ardi, sapaan akrab dari pemateri kedua Sarasehan ini.

Ruang siber merupakan ruang tanpa  batas dan sekat. Kecanggihan ruang siber telah mendukung berbagai kemajuan yang memudahkan hidup manusia. Dengan adanya pemaduan antara dunia nyata dan dunia virtual dengan adanya seperti transportasi online, internet yang menyentuh aspek aspek penting dalam kehidupan, kendali jarak jauh dengan internet, data yang tersedia secara cepat saat dibutuhkan, dan lain sebagainya.

Indonesia telah berada di ruang yang sama. Namun sayangnya, Indonesia tidak pernah melewati proses panjang hingga sampai pada era ini. “Kita tidak pernah melewati fase industri sebelumnya tapi lamgsung melompat ke industri 4.0,” kata Ardi yang menjelaskan proses Industri telah melewati fase Industri 1.0 hingga industri 4.0, bahkan di Jepang sudah masuk era Industri 5.0 “Ketertinggalan ini menyebabkan dependensi Indonesia terhadap teknologi menjadi terlalu besar,” kata Ardi.

Kecanggihan teknologi dalam dunia komunikasi menyediakan media sosial baru, namun juga dengan bencananya. “Hoax menjadi sesuatu yang niscaya terjadi, namun hoax ini hanyalah bagian kecil dari dunia siber, karena ada ancaman yang lebih besar dari hoax. Data setiap pengguna internet masuk ke dalam cloud dan ini sangat rentan untuk ditembus dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang merugikan pemilik data,” kata pak Ardi yang juga mengakui dirinya sebagai Chief of Provocateur Officer (CPO) dan memberikan rasa ketakutan. “karena itu dieperlukan cyber security,” ungkap pria yang kini menjadi pemimpin dari Indonesia Cyber Security Forum.

Ardi menjelaskan lebih jauh, bahwa dengan adanya dunia cyber ini meniscayakan perang baru. Yakni perang dunia ke-6. “Yaitu perang kognitif,” kata Ardi yang dalam konteksini adalah bagaimana teknologi dapat mempengaruhi pemikiran orang. Ini telah terjadi di berbagai Negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat. “Pada saat Brexit, sebanyak 60 juta warga Inggris merasa tertipu sehingga menginginkan referendum ulang. Bahkan terpilihnya Trump adalah karena perang kognitif ini dalam dunia cyber yang memengaruhi pikiran pemilihnya,” ujar Ardi menjelaskan fakta perang kognitif tersebut. Selain itu, perang ini juga menyebabkan kehancuran Negara, “buktinya hancurnya Afghanistan dan Suriah. Pertanyaanya selanjutnya, siapkah Indoneia dengan perang multi dimensi ini,” kata Ardi menandaskan.

Fakta terdekat di Indoensia, adalah pembajakan pembicaraan telepon Presiden SBY. “Banyak vulnerabilities, kerentanan yang ada dalam Indonesia,” kata Ardi yang juga menegaskan bahwa Indonesia tidak siap dengan perang multi dimensi ini. “Kita tidak punya blue print untuk itu,” kata Ardi menjelaskan persoalan utama yang dihadapi Indonesia. Pada tahun 1978 Indonesia punya satelit komersiap Palapa, namun ironisnya tidak ada inovasi teknologi meski demikian. Yang terjadi ada kita adalah comsumer. “Tidak pernah terfikir apa tujuanmya. Mak2 hanya tahu tekan2 tombol. Dan ini adalah wake up call,” ujar Ardi mengingatkan. Solusinya, “Benteng terakhir kita adalah pendidikan, namun Kebiasaan membaca kita lemah karena teknologi. Ini adalah tanggung jawab bersama,” ujar Ardi menandaskan.

Senada dengan Ardi Sutedja, Asisten UKP DKKAP Riefqi Muna, Ph.D menjelaskan banyak persoalan sosial akibat teknologi, “Bagian kecil nya hoax, bagian dalam kerangka perang informasi hoax ini untuk mempengaruhi. Dan muncullah post truth,” kata Pak Riefqi. “Hoax pelakunya bukan saja orang dewasa bahkan senior yang well educated,” ungkap Riefqi. Problem yang dihadapi ini adalah persoalan yang memadukan antara kognitif dan psikologi.

Perpaduan ini menjadi dimensi baru. “Ada persoalan berkaitan dengan otoritas yang lebih tinggi. Ada hierarkhi yang membuat complicated,” kata Riefqi. Mengapa kita memposting sebuah hoax, salah satunya karena menerima dari orang yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. “Dirsupsi teknologi ini berkaitan erat dengan perilaku,” ungkap Riefqi. Teknologi ini sebenarnya netral, dia menjadi tidak netral setelah digunakan.

Karena hal tersebut, maka para orang tua harus mempersiapkan generasi yang akan datang untuk siap menghadapi dirsupsi teknologi ini yang mengakibatkan disrupsi peradaban baru. Dia pun mengutip sebuah hadits tentang mempesiapkan anak-anak di masa depan, “Ajarilah anak-anakmu untuk bisa hidup di jamannya. Alhadits,” ujar Riefqi mengakhiri ceramahnya.

Pesat Wasahiyah Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

“Kami harapkan sarasahen ini berguna bagi kita, terutama bagi generasi yang akan datang mengingat dunia digital sudah tidak dapat lagi dipisahkan dari kehidupan umat manusia saat ini,” Ujar Prof Syafiq A. Mughni selaku Kepala UKP-DKAAP dalam sambutannya. Dia menambahkan bahwa UKP-DKAAP mengemban tugas Negara untuk membangun dialog atau kerukunan anta umat beragama, membangun peningkatan peradaban, dan mengembangkan prinsip wasatiah yang keseluruhannya dikembangkan baik di dalam maupun luar negeri Indonesia.

UKP DKAAP telah dan terus bekerja dengan berkolaborasi dengan berabgai lembaga yang punya kepedulian yang sama untuk mengembangkan perdamaian dam kemaslahatan pada level nasional maupun global. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa permasalahan agama adalah persoalan pemahaman. “Diperlukan pemahaman yang otentik,” kata Syafiq. Pemahaman keagamaan yang otentik itu adalah pemahaman yang komprehensif untuk menciptakan kerukunan dan peradaban mulia. Konsep wasathyiah adalah konsep yang otentik tersebut. Dan konsep ini telah disetujui oleh semua agama.

Prof Syafiq, menandaskan bahwa disrupsi teknologi ini juga membawa dampak ketidakrukunan dan kerusakan peradaban. Hal ini bisa diatasi dengan mengembangkan paradigma wasatiyah sebagai ajaran yang meliputi 7 (tujuh) nilai utama yaitu: Tawassut (posisi di jalan tengah dan lurus), I’tidal (berperilaku proporsional dan adil dengan tanggung jawab), Tasamuh (mengenali dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan), Syura (mengedepankan konsultasi dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai consensus), Islah (terlibat dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama), Qudwah (merintis inisiatif mulia dan memimpin umat untuk kesejahteraan manusia), Muwatonah (mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan).

Gagasan mengenai wasathiyah ini telah didiseminasikan ke berbagai Negara. Ini juga dalam rangka mempromosikan indonesia agar punya pengaruh dan martabat yang tinggi dari negaranlain dan memberikan sumbamgan yang bisa diaplikasikan pada internasional. “Kami ingin membangun poros wasahtiyah ini,” ungkap Syafiq yang bulan Juni mendatang akan ke Denmark dan Norwedia setelah sebelumnya melakkukan diseminasi ke Negara-negara Asia.

Prof. Syafiq menegaskan bahwa peradaban Indonesia tidak ingin menjadi bangsa yang tertinggal. “Kita ingin perdaban baru untuk generasi yang akan datangn dengan cirri-ciri yang berbeda. Kita harus membekali dengan nilai-nilai yang baik. Ini merupakan usaha penting bagian dari dialog antar peradaban, bukan bukan tesis Huntington tentang clash of civilization Tapi kebersamaan dan pengertian dalam dialog antar peradaban,” Ungkap Syafiq dalam akhir sambutanya.

Rektor Umsida Dr. Hidayatulloh, M.Si. mendukung kerja sama yang dijalankan bersama UKP DKAAP ini. Di masa dpean diharapkan kerjasama lebih lanjut akan dikembangkan untuk memujudkan peradaban yang lebih baik bagi generasi Indonesia mendatang. “UMSIDA telah menjadi salah satu PTM yang berkembang dengan signifikan. Berbagai capain baik akademik maupun non akademik tercapai dengan baik. Ini merupakan ikhtiar untuk meningkatkan mencerdaskan kehidupamn bangsa. Dna kami menyambut dengan baik kerjasama untuk generasi mendatang yang lebih baik,” ungkap pak Hidayat dalam sambutannya.

Peserta sarasehan ini berasal dari berbagai latar belakang agama dan organisasi, Sepert yang tetera dalam daftar hadir yakni antara lain dari FKUB Kab Sidoarjo, PCNU Sidoarjo, MUI Sidoarjo, GKJW Sidoarjo, HKBP, GBI Sentro, Santa Maria Anuntiata, Santa Maria Krian, PUBI sidoarjo, PHDI, Klenteng Krian, PDM Sidoarjo, PDA Sidaoarjo, Muslimat NU, Pemuda Anshor, PDPM Sidoarjo, Bakesbangpol, Yayasan Stanim (yatim mandiri), Rektor Umaha, Akper Kerta Cendekia Sidoarjo, dan dosen UMSIDA.

Related Post