perubahan kementerian haji dan umroh

3 Poin Pengelolaan Baru Haji dan Umroh, Dosen Umsida: Sudah Menjadi Keharusan

Umsida.ac.id – Dalam pengurusan haji dan umroh yang sudah berpindah dari Badan Penyelenggara Haji (BP Haji) ke Kementerian Haji dan Umroh, ada beberapa perubahan dalam mekanisme pengelolaannya.

Lihat juga: Kementerian Haji dan Umroh Resmi Dibentuk, Dosen Umsida Tekankan Efisiensi Jemaah Haji

Beberapa perubahan tersebut seperti penghapusan persyaratan agama sebagai petugas, usia minimal haji, hingga kekhawatiran akan ketimpangan dengan Kementerian Agama.

Syarat Agama Petugas Haji dan Umroh Dihapus

Poin pertama dari pengelolaan haji dan umroh yang baru adalah penghapusan persyaratan agama sebagai petugas haji.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI mengungkapkan bahwa penghapusan syarat tersebut adalah hal yang wajar.

Berkaca dari pengalamannya, dosen yang biasa disapa Rahmad itu kerap menjumpai banyak kawan-kawan yang non muslim berpartisipasi sebagai petugas haji. 

“Kalau kita identifikasi, petugas haji tidak hanya petugas kloter saja. Ada petugas haji yang di bagian transportasi, konsumsi, kesehatan dan layanan administrasi (siskohat) yang bertugas di Arab Saudi selama musim haji,” ujar Rahmad.

Ada pula petugas haji yang di bagian persiapan pemberangkatan, pemulangan dan siskohat di tanah air, serta sebagai petugas kloter. 

Bagian-bagian selain petugas kloter itu, imbuhnya, terkadang diisi oleh petugas dari agama lain, apalagi saat jemaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah.

“Di sana bisa dipastikan ada beberapa petugas haji dari Indonesia yang tidak ikut melaksanakan wukuf, mereka stay di tempat tugasnya, misalnya keamanan dari TNI/POLRI, transportasi, konsumsi, atau bisa jadi petugas kesehatan,” tambah dosen yang sedang mengenyam pendidikan doktor di UMM itu.

Menurut Rahmad, hal ini berarti agama lain bisa berpartisipasi untuk menyukseskan pelayanan jemaah haji. 

Tidak hanya persoalan inklusivitas agama Islam saja, tapi juga ini menjadi hal yang biasa jika masyarakat memahami bagaimana proses pelayanan ibadah haji itu sendiri.

Usia Minimal Haji Menjadi 13 Tahun
perubahan kementerian haji dan umroh (Pexels) 3
Ilustrasi: Pexels

Sebelumnya, batas usia yang oleh menunaikan haji adalah minimal 18 tahun. Namun setelah diadakan rapat paripurna DPR RI, disepakati bahwa usia minimal haji turun di usia 13 tahun.

“Jika calon jemaah yang mendaftar pada umur 13 tahun, dia akan berangkat pada umur 33 tahun. Di umur ini secara mental dan spiritual sudah mapan, secara fisik masih sangat energik,” terang Ketua MPK-SDI PDM Kab. Pasuruan itu.

Menurutnya, hal yang selalu ditekankan dalam bimbingan manasik haji yang dilakukan oleh kementerian agama adalah bagaimana setiap jemaah haji bisa melakukan perjalanan haji secara mandiri, tidak tergantung pada pembimbing baik dari petugas kloter atau KBIHU.

Saat pelaksanaannya, ia melihat beberapa jemaah haji yang sudah diarahkan oleh pembimbing, diminta untuk merapat dalam satu barusan saat thawaf dan sa’i, disiapkan salon standar agar suara bacaan pembimbing bisa dijangkau oleh jamaah.

Namun, tambahnya, karena ada jutaan jemaah berkumpul di satu titik, dapat dipastikan ada jemaah yang terlepas. 

Di saat mereka terlepas dan tidak menguasai ilmu manasik, mereka tidak bisa melaksanakan manasik secara mandiri..

Lihat Juga :  Medali Perunggu Pomprov Jatim 2025 Cabor Karate, Atlet Ini Persembahkan untuk Rumah Keduanya

“Hal ini yang dikhawatirkan oleh para petugas sebagai pelayan jemaah haji. Makanya, umur 12 tahun batas minimal itu menurut saya sudah cukup, dan jemaah haji indonesia yang melakukan perjalanan haji 20 tahun kedepan bisa jamaah yang masih muda-muda, sebagaimana di negara Malaysia,” jelas Rahmad.

Tumpang Tindih dengan Kementerian Agama

Poin selanjutnya dari pengelolaan haji dan umroh yang menjadi kekhawatiran adalah terjadinya tumpang tindih dengan Kementerian Agama.

“InsyaAllah tidak ada potensi tumpang tindih selagi sudah ada pembagian tugas masing-masing,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa dalam proses penataan Badan menjadi Kementerian membutuhkan waktu yang lama dan sumber daya yang besar. 

Proses peralihan tersebut, imbuh Rahmad, sementara pelayanan perjalanan dan pendaftaran ibadah haji tetap berjalan, dalam hal proses pendaftaran calon jemaah haji dan kegiatan bimbingan manasik haji bisa dilaksanakan oleh kementerian agama kabupaten dan KUA, mengingat kementerian haji dan umrah belum memiliki fasilitas dan SDM di tingkat tersebut.

Sedangkan dalam hal koordinasi antar negara, kebijakan, layanan pemberangkatan dan perjalanan haji, bisa langsung ditangani oleh Badan/Kementerian Haji dan Umroh. 

“Tapi hal ini bisa saja terjadi diluar prediksi tergantung kecepatan dan ketepatan cara berpikir dan kerja kementerian yang baru tersebut,” katanya.

Kebijakan yang Sesuai

perubahan kementerian haji dan umroh

Secara keseluruhan, Rahmad menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan suatu keharusan, dan untuk menjawab tantangan dari Arab Saudi yang mengharuskan pelaksanaan ibadah haji ditangani oleh kementerian tersendiri. 

Ia menilik dari kebijakan negara tetangga yang pelaksanaan ibadah haji ditangani oleh kementerian tersendiri, pelayanan ibadah haji di negara tersebut lebih maksimal, biaya haji murah, antrian menjadi pilihan dengan perbedaan biaya yang tidak jauh. 

Ia menyoroti panjangnya masa tunggu haji di Indonesia yang rata-rata mencapai 20 tahun. Menurutnya, biaya haji pun terus fluktuatif karena mengikuti kebijakan kementerian.

“Kalau ingin berangkat haji lebih cepat, masa tunggu minimal 5 tahun, tetapi dengan biaya fantastis, yakni setidaknya Rp250 juta,” jelas Rahmad.

Ia menambahkan, sebenarnya ada banyak biaya yang bisa dihemat, terutama pada aspek akomodasi dan konsumsi di maktab. 

jemaah haji kerap harus menunggu cukup lama di maktab ketika pemulangan ke tanah air bagi jamaah gelombang kedua, atau menanti di pemondokan sebelum perjalanan ke Armuzna bagi jamaah gelombang pertama.

Lebih jauh, Rahmad menilai keberadaan Kementerian Haji dan Umroh akan semakin mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Arab Saudi, khususnya dalam meningkatkan pelayanan haji. 

Ia menyinggung kabar terbaru bahwa pemerintah Arab Saudi bersedia melepaskan sebidang tanah di wilayah Haramain untuk dijadikan pemondokan khusus jemaah haji Indonesia.

Lihat juga: Balada Kebijakan Haji Furoda Tahun 2025, Ini Kata Dosen Umsida

“Jika rencana itu terealisasi dan dikelola langsung oleh Kementerian Haji dan Umroh, maka pelayanan jemaah haji kita akan jauh lebih baik. Jamaah Indonesia bisa merasa seperti berada di kampung sendiri, jumlah jamaah yang tersesat semakin berkurang, dan makanan pun akan lebih sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ungkapnya.

Penulis: Romadhona S.

Berita Terkini

orang tua wali wisudawan (3)
Cerita Orang Tua di Balik Perjuangan Wisudawan Umsida hingga Lulus
October 27, 2026By
wisudawan berprestasi umsida (2)
Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian
October 26, 2026By
pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By
ilmu jadi amanah (6)
Ketika Ilmu Menjadi Sebuah Amanah
October 23, 2026By
kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By
olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By