Umsida.ac.id – Artificial Intelligence (AI) semakin mudah dijangkau dan meringankan kehidupan sehari-hari, mulai dari mencari informasi, menyusun tulisan, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, dan lainnya.
Di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan tantang sumbar daya yang menopang teknologi ini, dalam artian data center-nya.
Lihat juga: Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
Di media sosial bahkan beredar bahwa satu kali bertanya kepada ChatGPT disebut-sebut sama dengan menghabiskan sebotol air berukuran 500 mililiter.
Benarkah setiap kali kita bertanya kepada ChatGPT, ada air bersih dalam jumlah besar yang ikut digunakan?
Dr Uce Indahyanti MKom dari Pusat Studi Lingkungan dan Smart City Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PSLSC Umsida), mengatakan bahwa persoalan tersebut tidak sesederhana menganggap satu pertanyaan atau prompt setara dengan sekian mililiter air.
“AI memang mempunyai jejak lingkungan. Tetapi untuk persoalan air, kita perlu hati-hati membaca angkanya. Jangan sampai sebuah hasil penelitian yang sebenarnya sangat kontekstual kemudian berubah menjadi kesimpulan yang berlaku untuk semua AI,” ujarnya.
AI Tidak “Minum” Air
AI tentu tidak menggunakan air sebagaimana manusia mengkonsumsinya.
Di belakang layanan AI terdapat data center yang menampung server dan perangkat komputasi dalam jumlah besar.
Ketika bekerja, perangkat tersebut menghasilkan panas. Panas harus dikendalikan agar perangkat tetap dapat beroperasi dengan baik.
Namun, jejak air AI tidak hanya berasal dari proses pendinginan server.
Sebuah artikel tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Water Research pada 2026 menjelaskan tiga komponen yang berkaitan dengan jejak air AI, yakni penggunaan air secara langsung pada data center, penggunaan air tidak langsung dalam pembangkitan listrik yang memasok data center, serta air yang berkaitan dengan proses manufaktur semikonduktor.
“Karena itu, angka mengenai konsumsi air AI tidak seharusnya langsung diterima begitu saja tanpa melihat bagaimana angka tersebut dihitung” jelasnya.
Bagaimana dengan Satu Botol Air untuk Chat GPT?
Narasi ini menarik karena memang ada penelitian ilmiah yang membahasnya.
Namun, angka yang sering beredar ternyata kehilangan sebagian konteksnya.
Mengutip penelitian Pengfei Li, Jianyi Yang, Mohammad A Islam, dan Shaolei Ren, dalam Chat GPT 3 diperkirakan sekitar 500 mililiter air digunakan untuk menghasilkan kurang lebih 10 hingga 50 respons berukuran sedang, bergantung pada lokasi dan waktu model dijalankan.
“Ini yang sering hilang ketika sebuah angka menjadi viral. Itu pun estimasi pada model dan kondisi tertentu. Jadi saya kira kurang tepat kalau angka itu ditempelkan begitu saja pada setiap pertanyaan yang kita kirim ke AI sekarang,” jelasnya.
Hal lain yang perlu diperhatikan, angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan pemodelan.
Dengan kata lain, terang Dr Uce, tidak ada satu angka sederhana yang dapat mewakili jejak air setiap prompt pada semua model AI.
Jejak Air AI Tetap Perlu Diperhatikan
Meluruskan narasi satu pertanyaan sama dengan satu botol air bukan berarti persoalan air pada AI dapat diabaikan.
Dalam penelitian Li dan koleganya, pelatihan GPT-3 di data center Microsoft di Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan sekitar 700 ribu liter konsumsi air langsung di lokasi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pada skala komputasi yang besar, persoalan air tetap relevan untuk diperhatikan.
Penelitian yang sama juga memproyeksikan bahwa water withdrawal atau pengambilan air yang berkaitan dengan kebutuhan AI secara global dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Dr Uce menekankan bahwa istilah pengambilan air tidak sama dengan konsumsi air.
“Sebagian air yang diambil dapat dikembalikan ke sumbernya. Jadi istilahnya juga perlu kita pahami dengan tepat,” tuturnya.
Angka 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik tersebut juga bukan jumlah air yang telah terbukti digunakan AI saat ini, melainkan proyeksi berdasarkan skenario pertumbuhan kebutuhan komputasi AI.
Menurut Dr Uce, membedakan data aktual, estimasi, dan proyeksi menjadi penting ketika membicarakan dampak teknologi.
“Kalau penelitian menyebut proyeksi, ya kita sampaikan sebagai proyeksi. Jangan diubah menjadi seolah-olah itu angka penggunaan air yang sudah terjadi,” tuturnya.
Kebutuhan komputasi AI terus meningkat, maka teknologi data center juga tidak berhenti berkembang.
Data Center Baru Microsoft
Microsoft, misalnya, sejak Agustus 2024 memperkenalkan desain data center baru yang ditujukan untuk beban kerja AI dengan sistem pendinginan closed-loop.
Air bersirkulasi di dalam sistem sehingga tidak terus-menerus diuapkan untuk mendinginkan perangkat.
Microsoft membuat desain tersebut untuk menghindari penggunaan lebih dari 125 juta liter air per tahun pada setiap data center untuk proses pendinginan.
“Namun, istilah zero water for cooling bukan berarti fasilitas tersebut sama sekali tidak membutuhkan air. Air tetap digunakan untuk kebutuhan lain seperti toilet dan dapur,” terang DR Uce.
Google juga menjalankan program water stewardship.
Dalam laporan lingkungan 2026, perusahaan tersebut menyebut proyek-proyeknya telah melakukan replenishment sekitar 7,7 miliar galon air sepanjang 2025, setara dengan sekitar 78 persen konsumsi air tawar Google pada tahun tersebut.
Menurut Dr Uce, istilah replenishment juga perlu dipahami dengan tepat.
“Bukan berarti air yang sudah digunakan kemudian begitu saja dikembalikan ke data center,” tandasnya.
Program tersebut berkaitan dengan berbagai upaya untuk memulihkan atau meningkatkan ketersediaan air pada daerah aliran air dan masyarakat.
Upaya tersebut setidaknya menunjukkan bahwa persoalan jejak air AI tidak berhenti pada angka konsumsi.
Teknologi data center sendiri terus bergerak mencari cara untuk menggunakan air secara lebih efisien.
“Jadi saya kira kurang tepat kalau kita melihat persoalan ini hanya dari satu sisi, seolah-olah semakin banyak AI pasti semakin buruk,” katanya,
Ia berpendapat bahwa ada persoalan yang harus diwaspadai, tetapi ada juga perkembangan teknologi yang terus berusaha membuat data center lebih efisien.
Yang Perlu Dilakukan Pengguna Teknologi
Pertanyaan akhirnya mungkin kembali kepada pengguna.
Setelah mengetahui bahwa AI juga mempunyai jejak air, apakah kita perlu mengurangi atau bahkan merasa bersalah setiap kali menggunakannya?
“Kesimpulannya, bukan penggunaan AI secara wajar oleh individu harus dihentikan karena persoalan air,” terang dosen yang bergabung dalam Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC) Umsida itu.
Menurutnya, perhatian yang lebih besar justru perlu diberikan pada bagaimana infrastruktur AI dalam skala besar dibangun dan dikelola.
Misalnya saja dari sisi teknologi pendinginannya, sumber energi dan air yang digunakan, efisiensi komputasinya, serta lokasi data center.
Namun, sebagai pengguna, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan.
“Menurut saya prinsipnya sederhana. Gunakan AI seperlunya dan sebesar manfaatnya. Satu prompt yang jelas dan tepat sasaran mungkin lebih baik daripada berkali-kali bertanya karena sejak awal kita sendiri belum jelas apa yang ingin kita tanyakan,” jelas Dr Uce.
Ia menambahkan bahwa kesadaran terhadap jejak lingkungan tidak seharusnya membuat masyarakat takut terhadap teknologi.
Justru pengetahuan tersebut dapat membuat pengguna lebih kritis sekaligus lebih bijak.
“AI tetap teknologi yang sangat bermanfaat. Tidak perlu setiap kali memakai AI kita merasa bersalah karena membayangkan ada air yang habis,” pesannya.
Namun, lanjut Dr Uce, pengguna juga perlu sadar bahwa dunia digital bukan berarti tanpa sumber daya.
Ada listrik, air, perangkat keras, dan infrastruktur fisik yang bekerja di belakangnya.
Persoalannya bukan memilih antara menggunakan atau meninggalkan AI.
Lihat juga: Kuatkan Kualitas Akademik, Dosen Umsida Ikuti Konferensi AI dan Big Data 2026
Menurutnya tantangannya adalah bagaimana manfaat teknologi dapat terus dikembangkan tanpa mengabaikan sumber daya yang menopangnya.
“Teknologinya semakin pintar. Semoga kita yang menggunakannya juga semakin bijak,” pungkasnya.(Dhona)
Sumber: Dr. Uce Indahyanti, M.Kom
























