Umsida.ac.id – Lailatul Qadar sering dipahami oleh sebagian umat muslim sebagai malam yang penuh keajaiban yang harus dicari dengan tanda-tanda tertentu di langit atau dengan pengalaman spiritual yang luar biasa.
Lihat juga: Alasan 10 Hari Terakhir Ramadan Menjadi Waktu Terbaik untuk Beribadah
Namun jika ditelusuri secara lebih mendalam di al-Qur’an dan Hadits, sesungguhnya Lailatul Qadar pada hakikatnya hanyalah sebuah waktu yang dimuliakan oleh Allah, yang kebaikannya melebihi dari seribu bulan.
Tafsir dalam Surah Al Qadr
Lailatul Qadar bukanlah sesuatu yang selalu disertai dengan fenomena yang luar biasa.
Allah menyebutkan kemuliaan malam ini dalam surat Al-Qadr:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar [1] Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? [2] Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan [3] Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan [4] Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar [5].
Dalam tafsir Ibn Katsir, dari kalimat “innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr” terdapat kata anzalnâhu merupakan kata kerja lampau “fi’il madhi” yang berarti telah menurunkan.
Kata anzalnâhu terdiri dari beberapa bagian antara lain: “anzala” adalah kata kerja lampau bermakna telah menurunkan, nâ adalah dhomir muttasil sebagai fa’il (pelaku) bermakna kami, dan hu adalah dhamir muttashil sebagai maf’ul bih disandarkan pada al-Qur’an.
Sedangkan kalimat “fî lailatil-qadr” berfungsi sebagai zharf zaman (keterangan waktu) dalam kalimat, yang menjelaskan kapan diturunkannya al-Qur’an.
Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar terletak pada waktunya, yaitu malam yang dipilih oleh Allah sebagai momen turunnya al-Qur’an dan malam yang dilipatgandakan kebaikannya.
Malam itu bukanlah obyek yang bisa ditangkap secara kasat mata seperti benda yang diperoleh ketika kita melaksanakan ibadah kepada Allah, tetapi hanyalah sebuah dimensi waktu yang penuh keberkahan hingga waktu fajar.
Tak Perlu Mencari Tanda Aneh dan Mistis Lailatul Qadar
Dalam ayat lain di surat Ad-Dukhan ayat 4, Allah menjelaskan bahwa malam itu juga menjadi waktu turunnya berbagai ketetapan-Nya:
فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ
Artinya: “Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
Dalam tafsir Ibnu Katsir menerangkan bahwa pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapan takdir untuk satu tahun kedepan.
Hal ini semakin menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah sebuah waktu dalam sistem ketetapan Allah (qadar), bukan fenomena mistis yang harus selalu terlihat.
Karena itu Rasulullah Muhammad Saw tidak memerintahkan umatnya untuk mencari tanda-tanda aneh atau pengalaman spiritual tertentu.
Sebaliknya, beliau justru memerintahkan untuk menghidupkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan dengan ibadah dan memperbanyak do’a kepada Allah.
Karena antara sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan terdapat malam yang telah ditetapkan oleh Allah nilai kebaikannya melebihi dari seribu bulan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari-Muslim)
Juga dalam riwayat lain yang lebih spesifik dari Aisyah binti Abu Bakar Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
Perintah ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak ditentukan secara pasti bagi manusia, karena ia berpindah-pindah diantara malam-malam tersebut.
Jika malam itu diketahui secara pasti, tentu manusia hanya akan beribadah pada satu malam saja.
Hikmah dirahasiakan waktu tersebut agar umat yang beriman bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
Dengan demikian, pemahaman bahwa Lailatul Qadar hanyalah sebuah waktu memberikan pelajaran penting.
Alasan lailatul Qadar Tidak Ditulis dengan Pasti

Bahwa fokus utama seorang mukmin bukanlah mengejar sensasi atau tanda- tanda tertentu, tetapi menghidupkan waktu tersebut dengan ibadah berupa; shalat malam, membaca aL-Qur’an, berdo’a, beristighfar, shodaqoh dan kebaikan lainnya.
Kemuliaan Lailatul Qadar itu bukan karena manusia merasakannya, tetapi karena Allah yang memuliakan dan menetapkannya.
Seorang hamba bisa saja mendapatkan kemuliaan di waktu Lailatul Qadar tanpa menyadari ia telah mengalaminya, selama ia menghidupkan malam tersebut dengan keimanan dan keikhlasan.
Akhirnya, Lailatul Qadar mengajarkan kepada kita bahwa dalam kehidupan ini ada waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah SWT.
Siapa saja yang memanfaatkannya dengan iman dan amal saleh, akan mendapatkan pahala/kebaikan yang luar biasa, bahkan lebih baik dari ibadah selama seribu bulan.
Namun jika mereka abai terhadap waktu tersebut, termasuk golongan orang-orang yang merugi “اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ”.
Oleh Karenanya yang terpenting bukan mengetahui secara pasti kapan malam itu terjadi, tetapi bagaimana seorang hamba mampu memanfaatkan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Karena sesungguhnya Allah itu dekat, hanya terkadang kita saja sebagai manusia yang lupa akan asal dan tujuannya yang selalu menjauh kepada Allah SWT.
Lihat juga: Jangan Lupa Sedekah Ketika THR Sudah Cair
Semoga menjadi pelajaran bagi kita bersama terutama bagi mukmin yang menjalankan ibadah puasa, agar tidak sia-sia hanya merasakan lapar dan dahaga saja, tetapi mendapatkan predikat benar-benar bertaqwa. (Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI)



















