isra miraj perjalanan antar ruang dan waktu pexels.jpg

Isra’ Mi’raj, Sebuah Perjalanan Rasulullah Antar Dimensi Ruang dan Waktu

Umsida.ac.id – Dalam perjalanan (Isra’ dan Mi’raj) Rasulullah SAW, diceritakan bahwa beliau di mi’rajkan (diangkat) menghadap Allah, dengan proses melalui melewati langit pertama sampai ke tujuh dan melakukan perjalanan antar ruang dan waktu.

Lihat juga: Isra’ Mi’raj, Memaknai Salat Sebagai Penyucian Jiwa dari yang Selain Allah SWT

Yang dimaksud dengan tujuh langit pada sebagian orang, diduga buka langit fisik yang berupa benda-benda langit. Mereka menganggap sebagai langit non fisik. 

Anggapan demikian muncul karena dalam kisah itu tercampur antara fenomena fisik di satu sisi dan beragam fenomena non-fisik ada sisi lain. 

Fenomena fisik misalnya, perjalanan dari Mekah ke Palestina, melihat kafilah dalam perjalanan yang menjadi bukti perjalanan Rasulullah, dan beliau meminum susu ketika ditawari dua bejana minuman. 

Tetapi disamping kisah-kisah tersebut, banyak juga fenomena non-fisik yang dialami oleh Rasulullah, misalnya perjalanan beliau bersama malaikat Jibril, pertemuan dengan para Nabi, dan melihat Sidratul Muntaha (QS.53:13-15).

Perjalanan Antar Dimensi
isra miraj perjalanan antar ruang dan waktu unsplash
Ilustrasi: Pexels

Perjalanan Rasulullah dalam kisah Isra’ Mi’raj ini lebih tepat dimaknai sebagai perjalanan antar dimensi. Hal ini karena fenomena fisik yang berada dalam bingkai ruang dan waktu, dan fenomena non-fisik di luar dimensi ruang dan waktu. 

Rasulullah dalam perjalanan diajak oleh oleh Jibril keluar dari dimensi ruang dan waktu menuju dimensi yang lebih tinggi. 

Dimensi adalah suatu kerangka acuan yang menggambarkan alam ini. Dimensi satu berupa garis, dengan gerak maju mundur saja. 

Dimensi dua berupa bidang dengan gerak yang lebih bebas: maju mundur, ke kiri atau ke kanan. 

Dimensi tiga lebih bebas lagi, selain gerak bidang datar, bisa ke atas atau ke bawah.

Dimensi empat geraknya bukan hanya ruang, tetapi juga gerak waktu. Kita hidup di dimensi empat, yaitu dimensi ruang dan waktu. 

Karena kita selalu mengukur berdasarkan ukuran seperti besar, kecil, jauh, dekat dan waktu seperti: masa lalu, sekarang, masa depan, lama dan sebentar.

Untuk memahami perjalanan antar waktu, kita ibaratkan ada alam dua dimensi berbentuk bidang “Ս” besar. Sebut saja makhluk di alam tersebut berupa semut. Semut untuk berpindah dari ujung “Ս” yang satu ke ujung lain harus menempuh jarak yang jauh. 

Kita hidup di ruang tiga dimensi dengan mudahnya mengangkat semut tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Mengajak semut tersebut keluar dari dimensi dua menuju dimensi tiga. Jaraknya jelas lebih pendek. 

Demikianlah analogi sederhana perjalanan antar dimensi. Mekanismenya di luar kemampuan sains, tetapi Allah telah memperjalankan hamba-Nya, Rasulullah bersama Jibril yang memang berada di luar dimensi yang lebih tinggi dari dimensi ruang dan waktu. 

Logika sains seperti ini hanya untuk menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj bukan hal yang mustahil memperjalankan Rasulullah dengan jasadnya, dan bukan hanya sekedar ruh.

Bersama Jibril, Rasulullah keluar dari dimensi ruang dan waktu yang membatasi pola pikir manusia pada jarak dan waktu. Sedangkan waktu dalam dimensi ruang tidak mungkin berjalan mundur. 

Dengan keluar dari dimensi ruang dan waktu, Rasulullah tidak lagi terikat oleh jarak dan waktu. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dapat dilakukan sekejap, sementara Rasulullah masih bisa mengamati kafilah dalam perjalannya dan tetap bisa merasakan fenomena fisik dimensi ruang dan waktu, seperti minum susu yang ditawarkan Jibril.

Rasulullah pun juga dapat berdialog dengan para Nabi karena tidak ada lagi batasan waktu. Rasulullah juga mendapat gambaran surga dan neraka yang juga bukan fenomena ruang-waktu kita, sehingga tidak mungkin dijelaskan secara tepat di mana dan kapan terjadinya.

Langit ke Tujuh Bukan Langit Fisik
isra miraj perjalanan antar ruang dan waktu unsplash
Ilsutrasi: Pexels

Langit pada kisah Isra’ bukan merupakan langit fisik seperti “Tujuh Langit” dalam ungkapan al-Qur’an (QS.2:29). 

Lihat Juga :  Isra’ Mi’raj, Memaknai Salat Sebagai Penyucian Jiwa dari yang Selain Allah SWT

Sementara itu, ayat pertama pada QS.17:17 dan QS. 53: 13-18, menceritakan sekilas tentang Isra’ dan Mi’raj dengan tidak menyebutkan tujuh langit. 

Sebutan langit pertama sampai langit ke tujuh pada kisah Isra’ Mi’raj hanya ada dalam hadits. Informasi Rasulullah ini menggambarkan perjalanan yang tidak lazim menurut kebiasaan manusia, tetapi diyakini benar terjadi. 

Dimensi ruang dan waktu tidak lagi membatasi perjalanan beliau.

Setelah Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah Mi’raj ke langit. Di langit pertama sampai langit ke tujuh, Rasulullah bertemu dengan para Nabi. 

Di langit pertama bertemu Nabi Adam. Di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit keempat. 

Lalu Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. 

Jelas pertemuan dengan para Nabi tersebut bukan di planet-planet tertentu di langit, karena para Nabi yang telah wafat tidak ada di planet-planet tertentu.

Sidratul Muntahā pun bukan suatu tempat dan saat yang keberadaannya dalam dimensi ruang dan waktu. 

Keyakinan adanya dimensi lain di alam juga didasari pada keyakinan adanya jin dan malaikat yang berada di luar dimensi ruang dan waktu. 

Dua jenis makhluk Allah itu tidak dibatasi ruang yang sehingga dengan mudahnya pergi ke manapun dan tidak dibatasi waktu sehingga tidak ada kematian bagi mereka, kecuali dengan ketentuan Allah. 

Kalau mengikuti analogi makhluk di dimensi dua tersebut di atas, kita yang hidup di dimensi ruang dimensi tiga bisa melihat tingkah laku makhluk berupa semut tersebut, tetapi makhluk itu tidak mengetahui keberadaan kita karena di luar dimensinya.

Demikian juga halnya manusia tidak mengetahui keberadaan jin dan malaikat, walau kita tahu mereka berada di alam (dimensi) mereka dan mampu mengetahui gerak-gerik kita.

Isra’ Mi’raj Tak Berhubungan dengan Teori Relativitas
isra miraj perjalanan antar ruang dan waktu unsplash
Ilustrasi: Unsplash

Kisah Isra’ Mi’raj tidak dapat dianalisis dengan teori relativitas dengan anggapan Rasulullah berjalan dengan kecepatan cahaya bersama buraq. 

Bila kita gunakan teori relativitas, fenomena yang terjadi justru kebalikannya. Menurut teori relativitas, pada kerangka yang bergerak dengan mendekati kecepatan cahaya, waktunya yang tercatat di jam menjadi lebih lambat. 

Artinya orang yang berjalan mendekati kecepatan cahaya akan merasa lebih muda dan waktu yang dialaminya lebih singkat dibandingkan dengan orang yang ditinggalkannya.

Oleh karenanya kita mengenal dengan istilah “paradok anak kembar” pada teori relativitas. Saudara kembar yang merantau dengan kecepatan mendekati cahaya akan mendapati saudaranya yang ditinggalkan lebih tua dari dirinya menurut rekaman waktu yang dibawanya. 

Yang dialami Rasulullah, justru kebalikannya. Rasulullah mengalami perjalanan waktu yang sangat panjang sehingga bertemu dengan para Nabi dan berbagai kejadian/peristiwa lainnya, sedangkan para sahabat yang ditinggalkannya hanya merasakan waktu satu malam.

Logika sains untuk menggambarkan perjalanan Rasulullah sebagai perjalanan antar dimensi hanyalah upaya untuk menjelaskan bahwa Isra’ Mi’raj benar adanya dan dilakukan dengan fisik, bukan sekedar mimpi atau perjalanan ruh Rasulullah. 

Perjalanan antar dimensi oleh manusia biasa mungkin belum dimungkinkan secara eksperimen, tetapi konsep dimensi fisik yang lebih dari sekedar dimensi ruang dan waktu dikenal dalam sains. 

Lihat juga: Dosen Umsida Jelaskan Sejarah Singkat Bulan Rajab dan Amalan yang Dianjurkan

Sains dapat membantu memperkuat akidah kita, tanpa harus mereka-reka dalam cerita pseudosains saja. Subhanaka la ‘ilma lana illa maa ‘alamtana (shd).

Sumber Rujukan:

  1. Kementerian Agama RI, Penciptaan Jagat raya dalam Perspektif al-Qur’an dan Sains, 2012
  2. Tim Baitul Kilmah, Ensiklopedia Pengetahuan al-Qur’an dan Hadits, Jakarta: kamil Pustaka, 2013
  3. Agus Purwanto, D.Sc, Nalar Ayat-ayat Semester, Bandung: Mizan, 2012

 Penulis: Rahmad Salahuddin

Berita Terkini

duta pencerah 2026 2
Tutup Fortama, Umsida Kukuhkan Duta Pencerah 2026 Hingga Ajak Lawan LGBT
September 28, 2026By
maba 2026 (2)
UKM Umsida Ajak Maba 2026 Temukan Ruang Mengembangkan Diri
September 28, 2026By
mastama 2026
Mastama Umsida 2026 Kenalkan Ortom Kampus Lewat Konsep Baru
September 27, 2026By
wali mahasiswa baru umsida (2)
Mengapa Wali Mahasiswa Mempercayakan Putra-Putrinya ke Umsida?
September 26, 2026By
sinergi pendidikan dengan wali maba
Percayakan Pendidikan di Umsida, Fortawa 2026 Perkuat Sinergi Wali Maba
September 26, 2026By
fasilitator pkmu 2026
Menuju PKMU 2026, Fasilitator Umsida Didorong Hadir dengan Keteladanan
September 25, 2026By
Akidah dan Akhlak
Jelang PKMU 2026, Umsida Matangkan Kesiapan Pendampingan Akidah dan Akhlak
September 23, 2026By
mahasiswa baru 2026
4 Pilar yang Harus Dimiliki Mahasiswa
September 21, 2026By

Riset & Inovasi

kunjungan perpustakaan daerah 2
Kunjungi Perpustakaan Daerah, PLP 2 Umsida Tumbuhkan Minat Baca Siswa
September 24, 2026By
Pasar Desa Samiler
Buka Pasar Desa Samiler, PPK Ormawa Himagro Sajikan Nuansa Tradisional
September 22, 2026By
ekspor gula kelapa
Siapkan Produk Gula Kelapa Siap Ekspor, Umsida Dampingi PT Delima Nira Natural
September 21, 2026By
beras rumput laut
Keunggulan Diarice, Beras Analog dari Rumput Laut yang Kaya Nutrisi
September 16, 2026By
pelatiahn coding plugged
Dosen Umsida Kenalkan Coding Ramah Anak untuk Guru PAUD
September 14, 2026By

Prestasi

beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By
snap and style
Snap and Style Antar Inovasi Bisnis Digital Umsida Tembus KMI Expo XVII 2026
September 9, 2026By
lomba pajak nasional_11zon
Umsida Juara 3 Lomba KTI Nasional IKPI, Usung Smart Tax Governance Index
August 29, 2026By
LSP Umsida.jpg 1
LSP Umsida Raih Hibah Sertifikasi Kompetensi 2026 dari Belmawa Kemdiktisaintek
July 3, 2026By
inovasi obat kumur
Buat Obat Kumur Mengandung Asam Hialuronat dan Ekstrak Buah Naga, Dosen Umsida Raih Bantuan Paten 2026
June 30, 2026By

Opini

karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By
satanic dan seni
Gunakan Simbol Satanic Saat Perayaan Seni, Ini Tanggapan Pakar Umsida
September 15, 2026By
solusi data desil
Desil Banyak Dipersoalkan, Pakar Umsida Beri Penjelasan
September 11, 2026By
Bahaya asap karhutla dan abu vulkanik
Bahaya PM 2.5 dari Asap Karhutla dan Erupsi, Ini Solusi Pakar Umsida
September 10, 2026By