Khutbah Idul Adha 1440 H/2019 M Oleh Rektor Umsida

Penulis : umsidaj4y4 August 10, 2019 / Berita

SEMANGAT BERQURBAN DAN KESADARAN BARU UMAT ISLAM*

Oleh: Dr. Hidayatulloh, M.Si.

أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3(

 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَان للهِ بُكْرَةَ وَاَصِيْلاَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

اَلْحَمْدُا ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ وَلآنَبِىَ بَعْدَهُ. اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .  اَمَا بَعْدُ

وَقآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم:

 يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin sidang jamaah sholat idul adha yang dimuliakan Allah SWT.

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah SWT. atas limpahan Rahmat, Nikmat, Taufiq  dan Hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat hadir di tanah lapang ini untuk mengikuti shalat idul adha secara berjamaah dalam keadaan sehat wa al-‘afiat. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Rasulullah SAW. beserta para keluarga, sahabat, dan penerus risalah perjuangannya, termasuk kita yang hadir di lapangan ini.

Pada pagi hari ini dalam waktu yang bersamaan dan beriringan seluruh umat Islam di dunia mengumandangkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid. Semua membesarkan Allah, mentauhidkan Allah, dan memuji Allah SWT., termasuk yang kita lakukan di lapangan ini. Dalam waktu yang bersamaan pula ada jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di tanah suci makkah al-mukarramah untuk menunaikan ibadah haji sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima, yang wajib ditunaikan oleh umat Islam yang sudah mempunyai kemampuan. Kita doakan semoga mereka diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar dan aman, sehingga kelak bisa pulang kembali ke tanah air dengan bahagia dan menjadi haji yang mabrur.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT.

Pada Hari Raya idul adha ini, kita yang mempunyai kemampuan materi disyariatkan untuk menunaikan ibadah qurban, sebagai wujud ketaatan kita kepada Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAW. Ibadah qurban ini kita lakukan sebagai wujud kesyukuran kita kepada Allah SWT. atas karunia nikmat yang sangat banyak, sebagaimana  ditegaskan oleh Allah SWT. di dalam al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 1-3.

إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ.

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 1-3).

Allah SWT. telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada kita, bersifat materi dan non-materi, kesehatan diri dan keluarga kita, bahkan rizki kita yang berupa materi serta nikmat lainnya yang tidak bisa kita hitung banyaknya. Atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. itu kemudian kita diperintahkan untuk mendirikan shalat dan berqurban.

Kepatuhan kita kepada Allah tidak cukup hanya dengan mendirikan shalat, tetapi harus sampai pada kemauan dan kesungguhan kita dalam berqurban. Berqurban menjadi salah satu indikator kepatuhan, ketundukan, dan kesungguhan kita di dalam menjalankan perintah Allah SWT. Pelajaran shalat dan berqurban mempunyai dimensi vertical dan horizontal. Shalat mengajarkan kepada kita untuk membangun hubungan baik dengan Allah SWT. (hablun minallah), dan berqurban mengajarkan kepada kita untuk membangun hubungan baik dengan sesame manusia (hablun minannas).

Sejarah disyariatkannya berqurban di jalan Allah ini telah ditunjukkan dalam drama kehidupan Nabi Ibrahim AS., dimana dalam usianya yang sudah tua Ibrahim belum dikaruniai keturunan dan dia secara terus-menerus berdo’a memohon kepada Allah SWT. untuk diberikan keturunan, memohon untuk diberi anak yang sholih, yang diharapkan bisa melanjutkan dakwah dan perjuangannya dikemudian hari. Atas kesungguhan do’anya itu, kemudian Allah SWT. mengabulkannya dengan memberi keturunan, maka lahirlah seroang anak yang kemudian diberi nama Ismail. Dengan hadirnya Ismail ini Nabi Ibrahim AS. merasa senang dan tentram serta mempunyai harapan akan keberlangsungan dakwah dan perjuangannya di masa depan.

Di saat Ismail tumbuh dan berkembang dengan sempurna secara lahir dan batin, Nabi Ibrahim AS. mendapat ujian dari Allah SWT. yang teramat berat, yaitu dalam mimpinya Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya yang teramat disayangi dan dicintainya, dan Nabi Ibrahim menjalaninya dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Persitiwa ini diabadikan di dalam QS. Ash-Shaaffaat: 99-111 sebagai berikut:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Artinya: “Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99-111).

Ujian Nabi Ibrahim AS. dan Ismail ini telah berhasil dijalani dan dilewati dengan sempurna, penuh kepatuhan dan ketaatan menunaikan perintah Allah SWT. Karena totalitas kepatuhannya kepada Allah SWT., dalam peristiwa ini sesaat ketika Nabi Ibrahim AS. mau menyembelih Ismail, Allah SWT. menyelamatkan Ismail dan menggantinya dengan seekor domba yang besar, sehingga Ismail terselamatkan dan yang tersembelih oleh Nabi Ibrahim AS. adalah domba yang besar  sebagai tebusan dari Allah SWT.

Dari peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS. dan putranya Ismail inilah yang menjadi tonggak disyariatkannya ibadah qurban. Begitu luar biasanya kepatuhan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS. dan putranya Ismail dalam menjalankan perintah Allah SWT., sampai urusan nyawapun diberikan demi mewujudkan ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah SWT. Atas ketaatan dan kepatuhannya itu kemudian Allah menyelamatkan Ismail dan memberi tebusan dengan seekor domba yang besar. Pelajaran yang diberikan oleh Nabi Ibrahim AS. dan Ismail itu mengandung spirit berqurban yang perlu kita teladani dan kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT.

Allah SWT. telah memberikan kepada kita nikmat yang sangat banyak dan oleh karena itu kita diperintahkan untuk mendirikan shalat dan berqurban. Kita yang diberi kelebihan rizki dan kemampuan untuk berqurban harus menunaikan ibadah qurban, sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Begitu kuatnya perintah berqurban ini untuk ditunaikan, sampai-sampai Rasulullah SAW. memberikan peringatan keras dan tegas kepada umatnya, sebagaimana termuat di dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, sebagai berikut:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim).

Semangat berqurban melahirkan semangat berbagi, berbagi kepada sesama manusia, terutama mereka yang kurang mampu, dan mereka yang membutuhkan. Semangat berqurban juga melahirkan semangat berbagi kemanusiaan secara lebih luas, tidak hanya di waktu idul adha sebagai hari raya qurban, tetapi juga di hari-hari lain di luar idul adha.

Dalam konteks Indonesia, kita patut bersyukur dan bangga bahwa bangsa yang kita cintai ini mempunyai banyak kelebihan dan keunggulan, tetapi kita juga menemukan banyak kekurangan dan kelemahan, jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Setidaknya bisa saya sebutkan tiga keunggulan Indonesia, yaitu:

Pertama, dilihat dari jumlah penduduknya. Indonesia mempunyai jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sebanyak 269.738.816 jiwa, setelah China sebanyak 1.420.430.892 jiwa, India sebanyak 1.369.821.675 jiwa, dan Amerika Serikat sebanyak 329.264.515 jiwa (http://www. worldmeters, 28 Juli 2019, pukul 08.05). Besarnya jumlah penduduk ini bisa menjadi kekuatan luar biasa, jika penduduk yang besar itu terdidik dan berkompeten.

Kedua, dari sisi sumber daya alamnya, Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, termasuk terbaik di dunia, di dalamnya mengandung berbagai tambang, kekayaan laut dan darat yang luar biasa, dan lain-lain, sehingga menjadi incaran pengusaha dari berbagai Negara. Kekayaan alam Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke merupakan karunia dari Allah SWT. yang sangat besar dan harus dikelola dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Ketiga, pada sisi pertumbuhan ekonomi. Dari beberapa data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan gambaran yang bagus. Data yang dirilis oleh lembaga internasional McKansey Global Institute tahun 2012 menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada peringkat 16 dan diprediksi peringkatnya melesat ke urutan 7 di dunia pada tahun 2030 (McKinsey Global Institute, 2012). Sementara itu lembaga internasional PWC (Pearce Water-house Coopers) pada tahun 2017 menyatakan bahwa dilihat dari PDB (Product Domistic Bruto) Indonesia akan menempati peringkat 5 pada tahun 2030. Secara berurutan PDB terbesar dari lima Negara di tahun 2030 adalah: (1) China  sebesar US$ 38.008 Triliun, (2) Amerika Serikat sebesar US$ 23.475 Triliun, (3) India sebesar US$ 19.511 Triliun, (4) Jepang sebesar US$ 5.606 Triliun, dan Indonesia sebesar US$ 5.424 Triliun.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT.

Jumlah penduduk yang besar ditambah dengan sumber daya alam yang melimpah dan pertumbuhan ekonomi yang bagus belum meniscayakan Indonesia menjadi bangsa yang maju dan kuat yang disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Pertumbuhan ekonomi yang tergolong baik belum meniscayakan pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia, masih banyak anggota masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dan rendahnya sumber daya manusia. Data Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan sebesar 25,95 juta jiwa (9,82%), dengan komposisi di perkotaan sebesar 7,02% dan di pedesaan sebesar 13,20%.

Selain masih besarnya jumlah penduduk yang miskin, ketimpangan kesejahteraan masyarakat Indonesia antara yang kaya dengan yang miskin juga masih sangat lebar. Ketimpangan ini setidaknya bisa dilihat dari angka indeks gini rasio Indonesia menurut BPS. Pada bulan Maret tahun 2019 secara nasional gini rasio Indonesia masih berada diangka 0,382 yang berarti 1% penduduk Indonesia menguasai kekayaan nasional Indonesia sebesar 38,2%. Angka gini rasio ini sedikit menurun dibandingkan dengan gini rasio pada bulan Maret 2018, yaitu sebesar 0,389.

Gini rasio di daerah perkotaan pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,392, naik dibandingkan gini rasio pada bulan September 2018 yang sebesar 0,391 dan turun dibandingkan dengan gini rasio pada bulan Maret 2018 yang sebesar 0,41. Sementara itu gini rasio di daerah pedesaan pada bulan Maret 2019 tercatat sebesar 0,317, mengalami penurunan dibandingkan dengan gini rasio pada bulan September 2018 yang sebesar 0,319 dan gini rasio pada bulan Maret 2018 yang sebesar 0,324. Di Jawa Timur indeks gini rasionya sedikit lebih baik dari rata-rata nasional. Pada bulan Maret 2019 sebesar 0,370. Angka ini turun sebesar 0,001 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2018 yang sebesar 0,371.

Selain tidak meratanya ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, pada bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, Indonesia masih jauh tertinggal dari Negara-negara manju. Dalam proporsi sumber daya manusia dilihat dari tingkat pendidikan, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Negara-negara OECD, posisi Indonesia masih jauh tertinggal di bawah. Prosentase rata-rata tingkat pendidikan rakyat Indonesia mayoritas baru lulusan pendidikan dasar (70,40%), pendidikan menengah (22,40%), dan pendidikan tinggi (7,20%). Prosentase rata-rata tingkat pendidikan rakyat Malaysia mayoritas lulusan pendidikan menengah (56,30%), pendidikan dasar (24,30%), dan pendidikan tinggi (20,30%). Sementara prosentase rata-rata tingkat pendidikan rakyat negara-negara OECD mayoritas lulusan pendidikan tinggi (40,30%), pendidikan menengah (39,30%), dan pendidikan dasar (20,40%).

Dilihat dari tingkat kesiapan sumber daya manusia, Indonesia masih jauh di bawah Negara-negara maju. Indeks pembangunan manusia Indonesia (IPM) menurut UNDP (United Nation Development Program) posisi Indonesia dari Negara-negara lain yang dinilai ditunjukkan sebagai berikut: pada tahun 2012 dan 2015 dari 187 negara Indonesia menduduki ranking 121 dan pada tahun 2018 dari 188 negara Indonesia berada pada peringkat 113.

Di Jawa Timur, dari 34 Provinsi di Indonesia indeks pembangunan manusianya  pada tahun 2018 berada pada urutan ke-15, berada diangka 70,77, di bawah rata-rata nasional yang sebesar 71,39. Usia harapan hidup masyarakat Jawa Timur berada diangka 70,97 tahun, berada di bawah rata-rata nasonal yang sebesar 71,2 tahun. Rata-rata bersekolah masyarakat Jawa Timur adalah 7,39 tahun, berada di bawah rata-rata nasional yang sebesar 8,17 tahun. Sementara itu rata-rata pengeliaran perkapita masyarakat Jawa Timur mencapai 11,38 juta/tahun, di atas rata-rata nasional sebesar 11,06 juta/tahun. Dari data ini menunjukkan bahwa uang yang dibelanjakan oleh masyarakat Jawa Timur lebih besar dibandingkan dengan masyarakat di luar Jawa Timur dan sebagian besar pengeluaran itu kemungkinan besar tidak berkakitan langsung dengan peningkatan IPM Jawa Timur.

Di lihat dari kesiapan sumber daya mansuaia untuk menyongsong masa depan Indonesia, dari data yang ada masih belum menujukkan posisi yang siap untuk berkompetisi dan berkolaborasi, setidaknya bisa kita lihat dari hasil penilaian terhadap kesiapan para pelajar dari Negara-negara yang mengikuti PISA (Program for International Students Assesment). PISA ini menilai kemampuan para pelajar berusia 15 tahun dalam tiga bidang, yaitu kemampuan matematika, sains, dan membaca.

Dari hasil penilaian PISA pada tahun 2012 yang diikuti oleh 65 Negara, Indonesia berada pada peringkat 64. Negara-negara yang masuk kedalam peringkat 10 tertinggi sacara berturut-turut adalah Shanghai-China, Singapura, Hongkong-China, Taiwan, Korea Selatan, Makau-China, Jepang, Liechtenstein, Swiss, dan Belanda. Tiga tahun berikutnya posisi Indonesia pada PISA 2015 berada pada peringkat 64 dari 72 negara. Negara-negara yang masuk kedalam peringkat 10 tertinggi sacara berturut-turut adalah Singapura, Jepang, Estonia, Chinese-Taipei, Finlandia, Makao-China, Canada, Vietnam, Hongkon-China, dan BSGJ-China.

Hadirin yang dimuliakan Alah SWT.

Dari beberapa data di atas menunjukkan adanya kesenjangan yang sangat besar bahwa pertumbuhan ekonomi dan kekayaan sumber daya alam belum diikuti oleh peningkatan sumber daya manusia dan pemerataan kesejahteraan rakyat Indonesia, sehingga rasa keadilan di negeri ini belum dirasakan secara luas. Kondisi ini tidak sejalan dengan tujuan didirikannya bangsa ini dan juga tidak sejalan dengan sila ke-lima dari Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari awal bangsa ini dibangun menginginkan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak boleh terjadi kekayaan menumpuk hanya pada sebagian kecil orang, sementara masih terlalu banyak masyarakat yang miskin dan bahkan berada di bawah garis kemiskinan. Adanya ketimpangan itu mestinya tidak sampai terjadi kalau kita semuanya mempunyai kesadaran yang tinggi dan bersungguh-sungguh dalam memberi pertolongan kepada warga masyarakat yang kurang mampu. Pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemilik modal, dan pihak lain yang terkait, perlu menumbuhkan kesadaran baru dalam ikhtiar meningkatkan perhatian dan keberpihakannya dalam meningkatkan sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat yang miskin dan lemah.

Kondisi bangsa yang timpang itu tidak akan bisa berubah jika bangsa itu sendiri tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk merubahnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11 sebagai berikut:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat di atas dengan jelas mengingatkan kepada kita bahwa perubahan keadaan suatu bangsa mensyaratkan adanya kesungguhan dalam melakukan perubahan. Perubahan yang kita inginkan tidak akan terwujud kalau kita tidak mempunyai kemampuan atau kapasitas. Untuk itulah kita mesti harus berusaha untuk meningkatkan kemampuan atau kapasitas dan perubahan yang diinginkan itu secara sengaja (by design) harus dirancang dengan sungguh-sungguh.

Menyadari akan hal di atas, maka semua pihak yang mempunyai kemampuan perlu melakukan berbagai usaha sinergis sesuai bidang dan tanggung jawabnya masing-masing. Pemerintah melaksanakan political will dengan membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil yang kurang mampu, demikian juga elemen-elemen masyarakat yang mampu juga melakukan gerakan filantropi, gerakan  menyintai sesama manusia dan nilai kemanusiaan, gerakan menyumbangkan pikiran, waktu, tenaga, dan harta yang dimiliki untuk menolong orang lain yang kurang mampu, sehingga secara bertahap dan sistemik akan mengangkat warga masyarakat yang lemah menjadi kuat, dan akhirnya juga memperkuat Indonesia sebagai bangsa di pentas dunia.

Hadirin sidang jamaah shalat idul adha yang dirahmati Allah SWT.

Semangat kita untuk berqurban di hari raya idul adha ini di beberapa daerah telah menunjukkan antusiasme yang luar biasa, sehingga daging qurbannya melimpah, sementara di sebagian wilayah Indonesia yang lain tidak ada yang berqurban. Semangat berqurban harus melahirkan semangat untuk berbagi, bukan hanya berbagi kepada masyarakat di sekitar yang dekat dengan rumah kita, tetapi juga perlu diperluas jangkauannya sampai di daerah-daerah yang jauh dengan tempat tinggal kita, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Kita perlu mengurangi ego sektoral dan mengembangkan ego komunal, semangat yang bersifat lokal perlu dikembangkan lagi dengan membangun semangat lintas sektoral, lintas daerah, dan lintas wilayah, sehingga secara bersama-sama kita ikut membahagiakan dan mengangkat mereka yang membutuhkan sentuhan dan pertolongan kita yang mampu dan berkecukupan.

Semangat berqurban dan berbagi umat Islam ini tidak cukup hanya dilakukan pada hari raya idul adha, tetapi perlu diteruskan pada hari-hari dan bulan-bulan berikutnya. Umat Islam perlu secara terus-menerus menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran baru untuk terus berbagi kepada masyarakat luas sesuai dengan kemampuan-nya. Masyarakat kita yang kurang mampu tidak hanya butuh daging qurban, tetapi mereka membutuhkan kehidupan yang lebih baik secara lahir dan batin, fisiknya sehat, kebutuhan ekonominya tercukupi, anak-anaknya punya kesempatan untuk menempuh pendidikan sampai pendidikan tinggi, mereka mempunyai kemampuan untuk mengembangkan usaha yang menguntungkan, sehingga pada akhirnya mereka juga ikut saling berbagi kepada sesama.

Di dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. banyak sekali peringatan dan anjuran kepada kita untuk mau dengan sungguh-sungguh memperhatikan dan sekaligus memberikan pertolongan kepada meraka yang perlu dibantu. Beberapa diantaranya kami kemukakan berikut ini:

أرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢)وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣)فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦)وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)

Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1),  Itulah orang yang menghardik anak yatim (2), dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin, (3) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (4), (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5), orang-orang yang berbuat riya (6), dan enggan (menolong dengan) barang berguna (7). (QS. al-Ma’uun: 1-7).

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ 

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran: 92)

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

          Artinya: “Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya (sudah tercukupi kebutuhannya). Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya”. (Muttafaq ‘alaih: HR. Bukhari (no. 1427) dan Muslim (no. 1034).

عن أبي همزة أنس بن مالك رضي الله عنه – خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم – عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه ” رواه البخاري ومسلم

Artinya: “Dari Abu Hamzah Anas Bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu pembantu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak sempurna Iman seseorang sehingga ia mencintai saudaanya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR Al-Bukhori dan Muslim).

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ  فِيْ تَرَاحُمِهِمْ  وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عَضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

(رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, yang sebagiannya mengokohkan bagian yang lain”. (HR Abu Ya‘la, Ahmad, Bukhari, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, Muslim, Nasa’i, Thabrani, Tirmidzi dan Qudha‘i ).

Hadirin Sidang Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Mengakhiri khutbah idul adha ini marilah kita memanjatkan do’a kepada Allah SWT. semoga ibadah shalat dan qurban kita, serta semua perjuangan kita diterima dan dicatat sebagai amal shalih di hadapan Allah SWT. Semoga saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah diberi kelancaran dalam ibadahnya dan keberkahan dalam kehidupannya serta meraih haji yang mabrur. Semoga saudara-saudara kita di manapun berada yang saat ini sedang mengalami kesusahan segera mendapatkan pertolongan dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

Kita bermunajat kepada Allah SWT. semoga hidup kita di dunia ini senantiasa berada di jalan yang benar, mampu beribadah dan menjalankan tugas kekhalifahan di muka bumi ini dengan baik dan benar, selalu dalam bimbingan-Nya, dan semoga di akhirat kelak kita dimasukkan ke dalam surganya Allah SWT, Aamiin ya Rabb al-‘Aalaiin.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ
اَلّلَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ يَامُجِيبَ السَّاءِلَتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ تَقَبَّلْ مِنّآ صَلاَتَنا َوَجَمِيعَ عِبآدَتِنآ بِرِضآكَ وَفَضْلِكَ الْكَرِيْم  وَتُبْ عَلَيْنآ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَابُ الرَّحِيْمُ .
رَبَّنآ لاَتُزِغْ قُلُوْبَنآ بَعْدَ إِذْ هَذَيْتَنآ وَهَبْ لَنَآ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ الْوَهَآبُ.

رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار.

سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ
واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُه

*Disampaikan pada Khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1440 (11 Agustus 2019), bertempat di Tugu Pahlawan, Kota Surabaya.

Related Post