Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menjadi tuan rumah kegiatan Pelatihan 7 Jurus Guru BK Hebat jenjang SMA/SMK yang diikuti oleh sekitar 500 perwakilan sekolah negeri dan swasta di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo.
Lihat juga: Gelar Pelatihan Integrasi AI, Umsida Tingkatkan Kemampuan Dosen di Era Digital
Beberapa tamu penting turut menghadiri kegiatan ini, seperti Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr Aries Agung Paewai SSTP MM, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo Surabaya yakni Dr Kiswanto SPd MPd, Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur, Dr Abu Khaer MPd, dan Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi.
Tingkatkan Kemampuan Guru BK dalam Membimbing Siswa
Latar belakang terselenggaranya acara ini adalah kompleksitas permasalahan siswa yang semakin meningkat.
Guru perlu memiliki keterampilan,membimbing, dan penguatan kapasitas melalui pelatihan yang dirancang praktis, kolaboratif dan mudah dibahaskan.
Oleh karena itu, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing siswa dan memberikan strategi praktis maluin tujuh jurus guru BK yang hebat.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr Kiswanto.
“Guru-guru ini nanti harus bisa mendampingi anak-anak didik secara akademik dan non-akademik, khususnya pendidikan karakter untuk semua anak sehingga tidak terjadi lagi bullying di sekolah,” terangnya.
Menurut Dr Kiswanto, saat ini jumlah guru BK di sekolah sangat minim.
Oleh karena itu, ia berharap guru wali ini nanti harus selalu berkolaborasi dengan wali kelas dan guru BK agar pembimbingan yang ada di sekolah jadi lebih baik.
Penguatan Peran Konselor di Sekolah

Dalam sambutannya, Rektor Umsida menekankan pentingnya peran guru BK dalam mendampingi perkembangan siswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga aspek mental dan sosial.
“Karena itulah kami menyambut baik ikhtiar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan kepada seluruh siswa di Indonesia khususnya di Jawa Timur ini,” terang Dr Hidayatulloh.
Atas nama pimpinan Umsida, ia mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang telah bekerjasama dengan Umsida untuk memberikan penguatan pelatihan kepada seluruh guru wali yang hebat di Sidoarjo dan Surabaya.
Umsida, lanjutnya, sangat terbuka di tiga kampus untuk memfasilitasi berbagai kegiatan edukatif dengan banyak pihak, termasuk juga untuk ruang kelas yang bisa digunakan sebagai tempat pelatihan.
Di momen ini pula, ia memperkenalkan Umsida sebagai institusi yang saat ini telah bersaing di kancah global dan setara dengan perguruan tinggi lainnya.
“Kami sekarang sedang membina sekitar 11.500 mahasiswa yang tersebar di 6 fakultas dan 37 program studi. Alhamdulillah kami juga sudah terakreditasi unggul oleh BAN-PT,” jelasnya.
Dari sisi pemeringkatan oleh Kemdiktisaintek pun Umsida juga mencetak banyak prestasi.
Sejak tahun 2025, Umsida sudah masuk klaster perguruan tinggi yang paling atas yaitu klaster mandiri.
“Dari hasil pemeringkatan penelitian, publikasi, dan inovasi yang dilakukan oleh Kementerian tahun 2025, Umsida menempati peringkat 6 dari sekitar 4.600an PTN-PTSI Indonesia, tepat di bawah IPB, Unair, UGM, UI, ITS,” terang Dr Hidayatulloh.
Ia menegaskan bahwa berbagai capaian tersebut tidak lepas dari komitmen Umsida dalam mengembangkan kualitas SDM, termasuk melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti dalam kegiatan pelatihan ini.
Pentingnya Pendampingan Mental Siswa
Selanjutnya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr Aries Agung Paewai SSTP MM menyampaikan bahwa peran guru Bimbingan Konseling (BK) saat ini telah mengalami perubahan yang sangat signifikan dibandingkan masa lalu.
Menurutnya, paradigma lama yang menganggap guru BK hanya bertugas menangani siswa bermasalah sudah tidak relevan.
“Guru BK juga punya peran penting di dalam peningkatan prestasi dan juga cita-cita yang diinginkan oleh murid-murid kita terutama dari orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah,” tuturnya.
Dr Aries juga menegaskan bahwa tidak ada istilah “anak nakal” dalam dunia pendidikan. Yang ada adalah anak-anak yang membutuhkan bimbingan, perhatian, dan pendampingan.
“Tidak ada anak yang tidak bisa diatur. Yang ada adalah kita belum mengenali tipe mereka. Masing-masing punya karakter sendiri sehingga permasalahan dan solusinya jelas berbeda,” tegasnya.
Ia mengingatkan pentingnya membangun kedekatan terlebih dahulu sebelum memberikan koreksi kepada siswa.
“Bangun koneksi dulu, baru koreksi. Jangan sebaliknya. Kita perlu konsultasi dengan orang tua atau bahkan psikolog. Itu titik temu yang harus kita lakukan” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti tantangan baru di era digital, di mana siswa kini semakin dekat dengan teknologi, bahkan menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat mencari solusi.
Hal ini menjadi peringatan bahwa jika guru tidak mampu hadir sebagai pendamping yang relevan, maka peran tersebut bisa tergantikan oleh teknologi.
“Kalau tidak bisa mendekatkan diri dengan siswa, maka mereka itu akan beralih dengan AI. Jangan sampai kita tergantikan dengan AI, kita perlu berkolaborasi,” jelas Dr Aries.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siswa, bukan sekadar tempat menampung.
“Sekolah harus menjadi tempat menyelesaikan masalah, bukan hanya tempat penampungan,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, ia berharap guru bisa merawat sekolah untuk menjadi tempat yang nyaman dan kondusif.
Lihat juga: Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar Jadi Topik Abdimas Dosen Umsida di SD MICA
Hal tersebut bertujuan agar siswa yang sudah stres di rumah, tidak diperparah dengan keadaan di sekolah.(Romadhona)



















