Umsida.ac.id – Setiap Ramadan, pasar tradisional dan supermarket tampak lebih ramai dari biasanya.
Aneka takjil, bahan pokok, hingga lauk pauk laris diburu. Padahal waktu makan justru lebih sedikit. Lalu, mengapa konsumsi pangan justru meningkat saat puasa?
Lihat juga: Pakar Umsida: Banyak Bahan Makanan Alami Pengganti Produk Gluten Free
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rahmah Utami Budiandari STP MP menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar asumsi, tetapi dapat dijelaskan dari sisi pola makan, budaya, hingga faktor psikologis.
Konsumsi Pangan Melonjak Walau Cuma Makan 2x

Menurut Rahmah, meskipun frekuensi makan hanya dua kali utama, yakni sahur dan berbuka, konsumsi total bahan pangan tetap meningkat karena beberapa faktor.
“Konsumsi bahan pangan meningkat saat Ramadan karena porsi makan lebih besar. Ditambah lagi dengan tradisi sosial berbuka puasa dan kecenderungan menyiapkan makanan berlebih,” jelasnya.
Beberapa alasan yang menyebabkan lonjakan konsumsi pangan antara lain:
a. Dua waktu makan utama dengan porsi besar
Penelitian di Nutritional Journal menyebutkan bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi berbagai jenis makanan saat sahur dan berbuka, termasuk makanan tinggi energi seperti daging, pastry, dan minuman manis.
Meski frekuensi makan lebih sedikit, total asupan energi tetap tinggi.
b. Kecenderungan menyiapkan makanan berlebihan
“Masyarakat sering tergoda menyiapkan aneka takjil dan dessert yang menggugah selera, sehingga makanan yang disiapkan melebihi kebutuhan,” ujar Ketua Prodi Teknologi Pangan Umsida itu.
c. Ramadan meningkatkan aktivitas ekonomi dan konsumsi
Penelitian Haris et al (2025), menunjukkan bahwa Ramadan memicu peningkatan konsumsi makanan dan minuman serta penjualan sektor pangan karena tradisi berbuka bersama dan aktivitas sosial.
d. Perubahan jenis makanan ke yang lebih tinggi lemak dan energi
Mengutip dari studi nutrisi, Rahmah menjelaskan bahwa meski frekuensi makan berkurang, konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol seperti gorengan meningkat, sehingga total konsumsi pangan tertentu tetap tinggi.
Penyebab Lonjakan Konsumsi Saat Puasa
Rahmah menjelaskan bahwa fenomena meningkatnya konsumsi pangan saat Ramadan bukan hanya karena kebutuhan gizi, tetapi kombinasi beberapa faktor.
“Ini terjadi karena perubahan pola makan, pola belanja, budaya sosial, hingga faktor psikologis,” ujarnya.
Beberapa faktor tersebut di antaranya:
1. Perubahan pola makan dan kebutuhan energi
“Masyarakat cenderung makan dalam porsi lebih besar saat sahur dan berbuka. Jenis makanan yang dikonsumsi pun sering kali manis dan berlemak,” terang Rahmah.
2. Perubahan pola belanja dan persiapan makanan
Ada kecenderungan membeli dan menyiapkan bahan makanan dalam jumlah lebih banyak untuk stok sahur dan berbuka, sehingga pembelian meningkat meskipun tidak semuanya langsung dikonsumsi.
3. Faktor budaya dan sosial
Rahmah berpendapat bahwa salah satu tradisi berbuka bersama keluarga, teman atau kegiatan sosial akan meningkatkan makanan yang disediakan.
4. Faktor psikologis dan kebiasaan
Setelah menahan lapar dan dahaga seharian, muncul keinginan untuk makan lebih banyak dan mencoba berbagai hidangan, sehingga konsumsi bahan pangan meningkat.
Cara Agar Konsumsi Pangan Tetap Stabil Saat Ramadan

Agar konsumsi pangan selama Ramadan tidak berlebihan, Rahmah membagikan beberapa solusi praktis berdasarkan jurnal gizi dan rekomendasi lembaga kesehatan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
a. Membuat perencanaan menu dan belanja
Penelitian dalam Journal of Nutrition and Consumer Behavior menunjukkan bahwa perencanaan menu membantu mengurangi pembelian impulsif dan pemborosan makanan.
“Dengan membuat daftar belanja sesuai kebutuhan sahur dan berbuka, masyarakat dapat menghindari membeli bahan pangan secara berlebihan,” jelasnya.
b. Mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan gizi, bukan keinginan sesaat
Menurut rekomendasi WHO, kata Rahmah, tubuh tidak membutuhkan kalori berlebihan saat berbuka. Konsumsi makanan seimbang sudah cukup untuk memulihkan energi.
c. Menghindari belanja saat lapar
Studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa orang yang berbelanja saat lapar cenderung membeli lebih banyak makanan, terutama makanan tinggi kalori dan gula.
“Oleh karena itu, lebih baik jika berbelanja dilakukan setelah makan atau dalam kondisi tidak lapar,” ungkapnya.
d. Mengutamakan porsi secukupnya dan makan bertahap
Ia juga mengutip Jurnal Appetite yang menjelaskan bahwa makan perlahan membantu tubuh mengenali rasa kenyang dan mencegah konsumsi berlebihan.
e. Meningkatkan kesadaran menghindari pemborosan makanan
Food and Agriculture Organization (FAO) yang ia kutip juga menekankan bahwa kesadaran masyarakat tentang pemborosan pangan dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.
Lihat juga: Gorengan Tiap Buka Puasa, Aman atau Tidak? Ini Penjelasan Ahli
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga belajar mengendalikan konsumsi.(Romadhona)
Sumber: Rahmah Utami Budiandari STP MP



















