Umsida.ac.id – Prof Sigit Hermawan SE MSi menjadi guru besar ke-7 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Prof Sigit mendalami bidang intellectual capital (IC) dan analisis keuangan. Kedua bidang tersebut, menurutnya, berfokus pada satu tujuan besar, yakni peningkatan kinerja kelembagaan.
“Yang saya dalami sesuai SK guru besar itu adalah intellectual capital dan analisis keuangan. Tapi kalau ditarik ke atas, tujuannya adalah meningkatkan kinerja kelembagaan,” jelasnya.
Lihat juga: Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
Ia menuturkan bahwa IC dan analisis keuangan menjadi instrumen penting untuk membantu lembaga mengelola sumber daya secara optimal.
Kontribusi pada SDGs dan Lembaga Amil Zakat

Dalam beberapa tahun terakhir, objek risetnya banyak berfokus pada lembaga amil zakat (LAZIS).
Ia menyebut risetnya relevan dengan SDGs, khususnya pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan
Menurut Prof Sigit, lembaga amil zakat memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah mengatasi kemiskinan (SDGs-1) dan memperkuat ketahanan pangan (SDGs-2).
Ia meneliti bagaimana lembaga tersebut dapat meningkatkan kinerja, baik dalam penghimpunan dana maupun dalam pemberdayaan mustahik.
“Jadi bagaimana peran-peran dari lembaga amil zakat ini saya teliti untuk bisa meningkatkan kinerjanya. Termasuk juga dalam pemberdayaan Mustahik menjadi Muzakki atau menjadi orang yang tidak lagi miskin,” jelas dosen Prodi Akuntansi itu.
Dalam riset-risetnya, Prof Sigit berupaya memberikan solusi konkret kepada lembaga amil zakat agar mampu meningkatkan kinerja melalui penguatan intellectual capital dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kinerja ini mencakup optimalisasi pengumpulan dana zakat, peningkatan transparansi, hingga inovasi program pemberdayaan masyarakat.
Dengan kinerja yang baik, lembaga amil zakat dapat lebih responsif terhadap bencana, charity, penghimpunan dana, santunan, membantu daerah kekeringan melalui pembangunan sumur bor, hingga mendukung ketahanan pangan.
“Tujuan akhirnya adalah memberikan kontribusi nyata pada pengentasan kemiskinan dan zero hunger,” kata Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Umsida itu.
Prof Sigit juga berpendapat bahwa peran Umsida sangat besar dalam perjalanan risetnya.
Skema hibah internal kampus menjadi pijakan awal sebelum ia mengembangkan riset ke tingkat nasional melalui berbagai program pendanaan.
“Peran Umsida sangat membantu, terutama melalui skema riset internal yang bisa saya naikkan ke level nasional,” ungkap dosen Prodi Akuntansi itu.
Prof Sigit: Mengajar Saja Tidak Cukup

Bagi Prof Sigit, gelar guru besar bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga tantangan untuk memberi manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Ia bersyukur dapat meraih guru besar sebelum usia 50 tahun. Namun, ia menyadari bahwa gelar tersebut membawa tanggung jawab besar.
“Guru besar itu bukan untuk duduk di menara gading. Ini tantangan untuk lebih banyak memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Dengan diraihnya gelar ini, Prof Sigit menilai bahwa pendidikan dan riset saja belum cukup jika tidak diikuti pengabdian masyarakat.
“Dalam Catur Dharma, dulu saat jadi dosen muda, mayoritas ingin mengajar yang banyak. Tapi semakin disadari, hal itu tidak cukup. Harusnya ilmu itu dipraktekkan,” tandasnya.
Menurutnya, seusai pendidikan, hal yang harus dilakukan adalah melakukan pengabdian masyarakat, tidak hanya berhenti di riset saja.
Dalam beberapa tahun terakhir, ia aktif membina UMKM, terutama yang berada di bawah naungan Aisyiyah dan Muhammadiyah.
Salah satu yang dibinanya adalah UMKM telur asin Ayu yang kini berkembang dari satu produk menjadi tiga varian berkat pendampingan produksi, branding, dan pemasaran.
Produk tersebut bahkan telah masuk ke jaringan ritel.
Selain itu, ia juga mendampingi UMKM Kuping Gajah, Dapur Bu Fat, usaha katering, hingga UMKM pukis di Desa Boro.
Lihat juga: Milad ke-37, Umsida Gelar Rapat Terbuka Senat dan Kukuhkan Guru Besar
“Ngajar saja di kelas itu kurang. Ilmu harus dipraktikkan. Bagi saya, pengabdian itu justru level yang lebih tinggi,” pungkasnya.(Romadhona)



















