penentuan hilal (Pexels)

Penentuan Hilal dan Dinamika Keilmuan Islam di Nusantara

Umsida.ac.id – Hari ini, Selasa 17 Februari 2026 M, bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1447 H, langit nusantara seolah menjadi ruang diskusi terbuka di kalangan ulama’ dan para intelektual muslim.

Lihat juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 2026 pada 18 Februari

Hilal menjadi topik di ruang diskusi tersebut untuk menentukan awal bulan Ramadhan, seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya dalam menetapkan bulan Syawal dan Dzulhijjah. 

Di satu kelompok, para perukyat bersiap dengan teleskop dan data-data astronomi, menanti munculnya hilal di ufuk barat. 

Di kelompok lain, para ahli hisab telah memegang angka-angka presisi tentang posisi, tinggi dan lamanya hilal. 

Lalu publik bertanya: mengapa kadang berbeda? Perlukah kita memiliki Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)? Apakah rukyatul hilal masih relevan di era satelit dan Supercomputer?

Rukyat Vs Hisab

Perdebatan ini sering dipersempit menjadi “rukyat versus hisab”. 

Padahal, di baliknya ada dinamika keilmuan Islam yang panjang dan berakar pada turats (warisan keilmuan klasik), berkembang dalam sains falak, dan menemukan bentuk khasnya di Nusantara. 

Tulisan ini mencoba membaca kembali perdebatan tersebut dengan lebih jernih.

Bukan sebagai pertentangan, melainkan sebagai evolusi metodologi dalam bingkai maqashid syariah dan realitas muslim sosial modern.

Rukyatul Hilal: Teks, Makna, dan Penafsiran
penentuan hilal (Pexels) 3
Ilustrasi: Pexels

Dasar normatif rukyatul hilal dikenal luas melalui hadis Rasulullah SAW sebagai berikut:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلَاثِينَ

Artinya: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal, jika tertutup olehmu (hilal tersebut) maka sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Secara literal, teks yang termaktub dalam Hadis Shahih al-Bukhari dan Muslim ini, perintahnya jelas: ru’yah (melihat). 

Namun dalam tradisi keilmuan Islam, teks tidak pernah berhenti pada literalitas. 

Para ulama menelaahnya melalui perangkat ushul fiqh: apa makna “melihat”? Apakah ia murni visual-indrawi, ataukah bisa mencakup pengetahuan yang meyakinkan tentang keberadaan hilal?

Dalam mazhab Syafi’i yang menjadi arus utama di Indonesia, Imam al-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa rukyat adalah metode utama yang dipraktikkan pada masa Nabi dan para sahabat. 

Namun, beliau juga mencatat keberadaan hisab sebagai ilmu yang telah dikenal. 

Para ulama klasik memahami bahwa pada masa awal Islam, kemampuan astronomi masyarakat belum merata. 

Karena itu, rukyat menjadi metode yang paling mudah dan inklusif.

Menariknya, diskusi klasik tidak pernah menutup pintu bagi hisab. 

Dalam literatur falak klasik misalnya, tabel astronomi seperti Al-Zij al-Sabi’, kita melihat betapa seriusnya para ilmuwan Muslim mengembangkan perhitungan posisi benda langit. 

Tradisi ini menunjukkan bahwa hisab bukanlah produk modern yang asing dari Islam, melainkan bagian dari peradaban ilmiah Muslim itu sendiri.

Hisab dalam Turats: Dari Ilmu Bantu ke Metode Penentu
penentuan hilal (Pexels) 1
Ilustrasi: Pexels

Di masa Abbasiyah, ilmu falak berkembang pesat. 

Ulama seperti al-Biruni, al-Khawarizmi, dan Ibn al-Shatir mengembangkan model matematis untuk memahami pergerakan bulan dan matahari. 

Ilmu ini awalnya berfungsi sebagai ‘ulum alat (ilmu bantu), terutama untuk menentukan waktu shalat dan arah kiblat.

Namun seiring waktu, hisab menjadi semakin presisi. 

Dalam perdebatan fikih, sebagian ulama mulai mempertimbangkan validitas hisab sebagai alat bantu verifikasi rukyat. 

Di sinilah muncul pendekatan kompromi: rukyat sebagai dasar, hisab sebagai penopang. 

Kaidah ushul fiqh yang sering dikutip dalam konteks ini adalah: “Al-‘ibrah bi ‘umum al-lafzh la bi khushush al-sabab” (Yang menjadi pertimbangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab).

Dengan demikian, meskipun hadis berbicara tentang “melihat” “bil ‘aini”, maknanya bisa dipahami dalam konteks epistemologis yang lebih luas, yakni memperoleh keyakinan tentang masuknya bulan baru. 

Dalam karya ushul seperti Al-Muwafaqat, Imam al-Syathibi menekankan pentingnya maqashid al-shari’ah (tujuan syariat). 

Lihat juga: Lebih Taat kepada Allah SWT dengan 5 Kebiasaan Ramadan Ini

Jika tujuan syariat adalah kepastian ibadah dan kemaslahatan umat, maka metode yang paling mendekati kepastian ilmiah patut dipertimbangkan.

Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI

*(Dosen Umsida, muhasib, dan penggemar ilmu falak)

Berita Terkini

pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By
kunjungan IAD Probolinggo (2)
Kunjungi Umsida, IAD Probolinggo Perkuat Mutu Perguruan Tinggi
October 15, 2026By
hari kesehatan mental 1
Hari Kesehatan Mental, Satgas PPKPT dan Psikologi Umsida Buka Ruang Aman
October 12, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By

Opini

ilmu jadi amanah (6)
Ketika Ilmu Menjadi Sebuah Amanah
October 23, 2026By
kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By
olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By
bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By