Umsida.ac.id – “Busana Muslim dalam Pandangan Islam Berkemajuan.”
Tema itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat.
Apakah memakai pakaian muslim cukup dengan “yang penting menutup aurat”? Atau ada nilai yang lebih dalam dari sekadar kain yang membungkus tubuh?
Lihat juga: Pola Makan Saat Puasa Ala Rasulullah SAW, Yuk Terapkan!
Dalam Tausiyah Ramadan yang disampaikan Dr Puspita Handayani MPdI, pembahasan tentang busana muslim tidak berhenti pada soal mode atau tren.
Ia mengajak peserta melihat kembali makna berpakaian dari perspektif Al-Qur’an dan nilai Islam berkemajuan.
3 Fungsi Pakaian dalam Islam

Dr Puspita mengawali penjelasannya dengan mengutip QS. Al-A’raf ayat 26.
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa pakaian memiliki tiga fungsi utama.
“Berpakaian itu tidak hanya sekedar menggunakan saja. Ada tiga fungsi yang disebutkan dalam Al-Qur’an,” jelas Kabid AIK Direktorat AIK Umsida itu.
Pertama, sebagai penutup aurat. Kedua, sebagai perhiasan. Ketiga, sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah.
Artinya, pakaian tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.
Cara seseorang berpakaian mencerminkan kesadarannya dalam menjaga kehormatan diri dan ketaatannya kepada Allah.
Dr Puspita menjelaskan batasan aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan beserta dalilnya.
Aurat laki-laki adalah dari pusar hingga lutut, sementara perempuan menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Namun Dr Puspita menegaskan bahwa menutup aurat saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan nilai kesopanan dan etika.
“Bagaimana kita berpakaian itu kelihatan baik, tanpa meninggalkan syariat dan etika moral yang ada di lingkungan,” tuturnya.
Makna Jilbab yang Sangat Luas
Dalam penjelasannya, Dr Puspita juga mengamati fenomena penyempitan makna jilbab di masyarakat.
Ia menyinggung bagaimana jilbab sering dipahami sekadar penutup kepala, padahal secara syariat maknanya lebih luas.
“Jangan sampai pengertian jilbab itu hanya sekedar menutup kepala saja,” tegasnya.
Lantas ia merujuk pada QS. An-Nur ayat 30–31 dan QS. Al-Ahzab ayat 59 yang menekankan pentingnya menjaga pandangan dan menutup aurat secara sempurna, termasuk menjulurkan kerudung hingga menutup dada.
“Jilbab adalah salah satu identitas seorang muslimah,” ujarnya.
Justru Islam memberi ruang bagi model yang modis dan estetis, selama tetap sesuai syariat.
Menurutnya, seseorang boleh saja mengenakan busana modern, bahkan celana dalam kondisi tertentu seperti pekerjaan, selama tidak ketat, tidak transparan, tidak menyerupai lawan jenis, dan tidak berlebihan hingga mengundang perhatian yang tidak perlu.
Ia mengutip Hadits Riwayat Muslim mengenai perempuan yang “berpakaian tetapi telanjang,” yakni memakai baju yang terlalu ketat atau transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuh.
Ada pula perempuan yang kepala-kepalanya seperti punuk-punuk unta yang miring.
“Busana itu jangan sampai memicu fitnah atau mengundang syahwat,” pesan Dr Puspita.
Busana Muslim sebagai Cerminan Ketakwaan dan Identitas

Bagi Dr Puspita, inti dari busana muslim dalam Islam berkemajuan adalah kesadaran bahwa pakaian mencerminkan pribadi.
“Pakaian adalah cerminan diri,” tandasnya.
Dalam konteks Islam, busana menunjukkan ketaatan, kesopanan, dan kehormatan di hadapan Allah dan masyarakat,” jelasnya.
Busana syar’i bukan sekadar kewajiban administratif atau formalitas sosial, namun juga kewajiban sesuai syariat, yakni:
- Menutup aurat dengan sempurna
- Tidak ketat (membentuk lekuk tubuh)
- Tidak transparan
- Tidak menyerupai pakaian lawan jenis
- Tidak mencolok atau berlebih-lebihan
Dalam konteks Islam berkemajuan, Dr Puspita menjelaskan bahwa:
- Busana muslim tidak berarti membatasi kreativitas, kebebasan berekspresi, atau menolak modernitas selagi sesuai dengan syariat
- Memakai busana modis tidak dilarang asal tetap menjaga kesopanan
- Tidak memakai pakaian yang bisa memicu fitnah atau mengundang syhawat
Justru, Ketua Halal Center Umsida itu mengatakan bahwa berbusana muslim (syar’i) adalah bentuk perlindungan, identitas, dan ekspresi ketakwaan.
Ia bahkan mengutip pepatah Jawa yang berbunyi “Ajining diri soko lathi, ajining raga saka busana”, yang bermakna bahwa kehormatan diri terlihat dari ucapan, dan kehormatan raga terlihat dari pakaian.
Islam berkemajuan, menurutnya, tidak anti mode.
Busana olahraga muslimah yang kini semakin variatif dan tetap sopan adalah contoh bahwa kemajuan dan syariat bisa berjalan beriringan.
Lihat juga: Puasa Dapat Meningkatkan Kesehatan Jiwa, Ini 5 Cara Merawatnya
“Silahkan berpakaian semodis apapun, asalkan tidak melanggar syariat, Islam” tegasnya.(Romadhona)



















