Umsida.ac.id – Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FPIP Umsida) melaksanakan kegiatan community service di Malaysia.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Program Studi S2 Pendidikan Dasar dan S1 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan, Kuala Lumpur, Malaysia.
Lihat juga: Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
Dekan FPIP Umsida, Dr Septi Budi Sartika MPd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri, khususnya anak pekerja migran.
Berikan Pendidikan untuk Anak Migran
“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan dari anak Indonesia di negara rantau, khususnya anak pekerja migran, yang mungkin kurang beruntung atau tidak mempunyai dokumen negara sehingga sulit kembali ke Indonesia,” jelasnya.
Sanggar Bimbingan Kampung Pandan merupakan salah satu dari tiga Sanggar Bimbingan di Kuala Lumpur yang berada di bawah Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).
Berbeda dengan SIKL yang bersifat formal, Sanggar Bimbingan berfungsi sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anak-anak Indonesia yang sulit mengakses sekolah formal.
Dr Septi menjelaskan bahwa keberadaan Sanggar Bimbingan sangat penting, terutama bagi anak-anak pekerja migran yang belum memiliki dokumen resmi.
“Anak-anak ini membutuhkan pendidikan agar mereka bisa mendapatkan dokumen, sehingga nantinya dapat membuat paspor dan kembali ke Indonesia,” ungkapnya.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengajar, tetapi juga berdiskusi dengan pengelola sanggar terkait sistem pengelolaan pendidikan.
Mulai dari proses pendirian, penerimaan siswa, hingga upaya membantu siswa memperoleh ijazah.
Tantangan di Sanggar Bimbingan

Dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses pembelajaran di Sanggar Bimbingan Kampung Pandan.
Salah satunya adalah keterbatasan tenaga pengajar yang hanya berjumlah dua orang untuk menangani seluruh jenjang pendidikan setara sekolah dasar.
“Kondisinya guru harus berpindah-pindah dari satu kelas ke kelas lain untuk menyesuaikan jam pelajaran karena jumlah pengajar yang terbatas,” terang Dr Septi.
Selain itu, banyak siswa yang terlambat mengenyam pendidikan sehingga berdampak pada kemampuan belajar dan interaksi sosial.
Beberapa anak bahkan termasuk dalam kategori slow learner dan membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih intensif.
Meski demikian, kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan metode yang menyenangkan.
Mahasiswa Umsida menghadirkan berbagai aktivitas kreatif seperti bermain clay, meronce manik-manik, hingga kegiatan melipat kertas.
Menurutnya, pendekatan ini mampu meningkatkan antusiasme siswa.
Terlebih, sebagian besar mahasiswa S2 memiliki latar belakang sebagai guru, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif.
“Anak-anak terlihat sangat antusias karena pembelajaran dibuat lebih menyenangkan dan interaktif,” tambahnya.
Harap Ada Program Abdimas yang Lebih Lama

Saat membicarakan tentang rencana ke depan, Dr Septi berharap ada dampak jangka panjang dari kegiatan ini.
“Mungkin bisa diadakan semacam program kampus mengajar yang biasanya terlaksana selama 4 bulan. Namun program tersebut terkendala di paspor yang hanya berlaku 28 hari, jadi mungkin soal perizinan perlu dipikirkan lagi,” tuturnya.
Selain itu, ia juga berencana untuk mengusulkan pengembangan program KKN internasional yang biasanya dilaksanakan selama satu bulan.
“Ke depan, kami berharap program ini tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga bisa berkembang menjadi kegiatan riset dan pengabdian yang lebih berdampak,” ujarnya.
Lihat juga: Umsida Lepas 3 Mahasiswa yang Mengikuti KKN Internasional
Ia mengatakan bahwa berbagai rencana tersebut bisa menyebar ke semua pihak yang berperan dalam memberikan kualitas pendidikan terutama dalam hal pembelajaran.(Romadhona)



















