solusi data desil

Desil Banyak Dipersoalkan, Pakar Umsida Beri Penjelasan

Umsida.ac.id – Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat. 

Dalam sistem tersebut, masyarakat dikelompokkan ke dalam 10 desil berdasarkan kondisi sosial dan ekonomi, mulai dari Desil 1 sebagai kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga 10 dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Lihat juga: Bahaya PM 2.5 dari Asap Karhutla dan Erupsi, Ini Solusi Pakar Umsida

Pakar Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Isnaini Rodiyah MSi, menjelaskan bahwa DTSEN merupakan ikhtiar pemerintah untuk membangun basis data yang lebih terpadu. 

Namun, menurutnya, sistem desil tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan penerima bantuan.

Bukan Penentu Tunggal Penerima Bantuan

Dr Isnaini menjelaskan bahwa penggabungan Regsosek, DTKS, dan P3KE ke dalam satu basis data terpadu merupakan upaya pemerintah untuk memetakan kondisi masyarakat sekaligus menghindari data ganda. 

Data tersebut dapat digunakan sebagai dasar perencanaan, evaluasi kebijakan, hingga penyaluran bantuan ekonomi.

Namun, posisi desil rendah tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi penerima bantuan. 

Keputusan akhir tetap berada pada kementerian atau lembaga terkait dengan mempertimbangkan kriteria masing-masing program.

“DTSEN tidak dapat digunakan sebagai dasar penentu tunggal. Artinya, keberadaan kelompok desil di posisi rendah bukan berarti secara otomatis mendapatkan bantuan sosial,” jelasnya.

Hal tersebut karena keputusan akhir penerima bantuan tetap berada di tangan kementerian atau Lembaga terkait berdasarkan kriteria spesifik program.

Ketidaksesuaian Data Menjadi Persoalan
solusi data desil 3
Dok https://cekbansos.kemensos.go.id/

Desil kini menjadi isu yang berkembang di masyarakat, terutama ketika warga dengan kondisi ekonomi terbatas justru berada pada desil yang dianggap tidak memenuhi kriteria bantuan tertentu.

“‘Desil menjadi tren isu di kalangan masyarakat, antara harapan dan kenyataan,” ujarnya.

Ia mencontohkan masyarakat yang hidup serba pas-pasan dan bekerja serabutan, tetapi tercatat pada Desil 4 atau 5. 

Kondisi tersebut dapat berdampak ketika anak mereka mengajukan bantuan pendidikan seperti PIP atau KIP, tetapi tidak masuk kriteria berdasarkan data yang digunakan.

Beberapa alasan hal tersebut bisa terjadi menurut Dr Isnaini:

  1. Datanya tidak update. Kondisi ekonomi  bisa berubah cepat. Hari ini mungkin susah, 6 bulan lagi bisa sedikit lebih baik, atau sebaliknya.
  2. Harus ada mekanisme pengaduan dan perbaikan data yang cepat, mudah dan tidak berbelit belit.  
  3. Sosialisasi yang lebih intens dari aparat terkait data tersebut yang relatif berubah ubah, yang lebih penting lagi adalah mensosialisasikan bahwa sistem Desil bukan satu-satunya dasar dan penentu kelompok di posisi  Desil rendah mendapatkan bantuan sosial dan ekonomi.
Pemutakhiran Data Perlu Diperkuat

Secara konseptual, Dr Isnaini menilai sistem desil dapat membantu pemerintah memetakan tingkat kesejahteraan masyarakat ke dalam 10 kelompok. 

Pemeringkatan tersebut juga dapat menjadi acuan dalam merancang program bantuan sosial agar lebih terarah.

“Tapi kenyataannya hasil pemeringkatan desil tidak 100% mencerminkan realitas ekonomi keluarga dalam masyarakat sehingga banyak warga yang hidupnya dalam keterbatasan justru masuk pada desil tinggi dan sebaliknya,” jelas Dr Isnaini.

Menurutnya, hasil pemeringkatan tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi keluarga secara utuh. 

“Jika Desil dijadikan satu-satunya dasar penerima bantuan, akan memunculkan chaos di masyarakat,” tegasnya.

Solusi Atas Kasus Desil

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, ia memberikan beberapa langkah, di antaranya:

  1. Kolaborasi antar sektor seperti BPS, Dinsos, Dukcapil, hingga Pemdes untuk melakukan pemutakhiran data secara berkala, idealnya 6 bulan sekali
  2. Verifikasi dan validasi di Lapangan secara langsung di tingkat RT/RW
  3. Sederhanakan dan percepat mekanisme pengaduan. Jika terdapat data salah, petugas harus siaga cek ke lapangan dalam waktu 1 bulan.
  4. Sosialisasi secara serentak di tingkat Desa terkait “Desil’ dan cara pengajuan perbaikan data.
  5. Bagaimana gambaran ideal sistem pendataan sosial bagi masyarakat Indonesia?

Lihat juga: Iklim Jadi Ancam Ketahanan Pangan, Pakar Umsida Dorong Pertanian Adaptif

Lantas, ia memberikan gambaran ideal sistem pendataan sosial bagi masyarakat Indonesia adalah “satu data, akurat, dan manusiawi”:

  • Pertama, data harus akurat dan dinamis

Tidak hanya melihat pendapatan, tapi juga kondisi rumah, jumlah tanggungan, dan kesehatan, lalu diupdate terus.

  • Kedua, bersifat partisipatif

Pendataan tidak hanya dari atas ke bawah, tapi juga melibatkan warga dan RT/RW untuk cek silang.

  • Ketiga, caranya tidak menyinggung. 

Proses pendataan harus menjaga martabat, supaya masyarakat tidak merasa “dilabeli miskin”.

  • Keempat, terintegrasi dan adil 

Data terintegrasi dan meniadakan ego sektoral dari tingkat lintas Kementerian hingga Pemerintah Daerah dapat saling berbagi dan mengakses data secara real time tanpa ada sekat birokrasi dengan satu tujuannya yang sama dan seragam, yaitu memastikan tidak ada warga yang tertinggal dan semua mendapatkan hak dasarnya sesuai kondisi dan posisinya.(Dhona)

Sumber: Dr Isnaini Rodiyah MSi

Berita Terkini

pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.17 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By
kunjungan IAD Probolinggo (2)
Kunjungi Umsida, IAD Probolinggo Perkuat Mutu Perguruan Tinggi
October 15, 2026By
hari kesehatan mental 1
Hari Kesehatan Mental, Satgas PPKPT dan Psikologi Umsida Buka Ruang Aman
October 12, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By

Opini

ilmu jadi amanah (6)
Ketika Ilmu Menjadi Sebuah Amanah
October 23, 2026By
kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By
olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By
bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By