Umsida.ac.id – Setelah duduk di bangku kuliah, melewati tugas, ujian, penelitian, dan berbagai proses pembelajaran, saatnya para mahasiswa menerima ijazah.
Selembar dokumen yang menjadi tanda kelulusan itu mungkin terlihat seperti akhir dari sebuah perjalanan.
LIhat juga: Hadir di Wisuda Umsida, 2 Tokoh Muhammadiyah Ajak Wisudawan Bangun Bangsa lewat Pendidikan
Namun, justru setelah ijazah berada di tangan, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai.
Pesan itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Dr Ahmad Najib Burhani MA, kepada para wisudawan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dalam Wisuda ke-48 pada Sabtu, (24/10).
Di tengah suasana perayaan kelulusan, Prof Najib mengajak para lulusan melihat ijazah dengan cara yang berbeda.
Menurutnya, wisuda memang menandai selesainya satu tahap pendidikan, tetapi juga membuka pintu menuju perjalanan yang lebih luas.
Ijazah dan Jalan Raya Kehidupan
“Ijazah yang akan kalian miliki sebetulnya adalah surat tugas,” ujarnya.
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kelulusan bukanlah garis akhir.
Setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan berhadapan dengan kehidupan yang tidak selalu memiliki jawaban seperti soal-soal di ruang kelas.
Ia menggunakan perumpamaan sederhana.
Ijazah, menurut Prof Najib, seperti surat izin mengemudi.
Wisudawan ibarat seseorang yang telah memenuhi syarat untuk memasuki jalan raya, tetapi kemampuan sebenarnya baru terlihat ketika harus menghadapi kondisi jalan yang sesungguhnya.
“Kalian harus bisa bernavigasi di dalam berbagai kemacetan, di dalam kondisi ketidakpastian ketenagakerjaan dan sebagainya, mengambil keputusan yang bijak dan bertahan saat menghadapi tantangan akan diuji langsung nanti setelah ini,” jelasnya.
Kehidupan setelah kuliah, lanjutnya, akan menghadirkan banyak hal yang tidak sepenuhnya ditemukan di bangku perkuliahan.
Menurutnya, teori dan praktik tetap menjadi bekal, tetapi lulusan juga membutuhkan integritas, karakter, kepemimpinan, serta kebiasaan untuk terus belajar.
Gelar yang Tidak Berhenti pada Nama

Ada kebanggaan ketika sebuah gelar akhirnya tersemat di belakang nama.
Tetapi kebanggaan itu, menurut Prof Najib, perlu diikuti dengan pertanyaan yang lebih penting: apa yang dilakukan setelah gelar tersebut diperoleh?
“Setelah syukur, setelah lulus, syukur harus menjadi karya, syukur harus menjadi manfaat,” tutur lulusan University of California, Santa Barbara (UCSB) itu.
Bagi Prof Najib, capaian pendidikan tidak cukup diukur dari gelar maupun IPK.
Ilmu yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi perlu menemukan bentuknya dalam kehidupan dan memberi manfaat bagi masyarakat serta lingkungan.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan teologi Al-Ma’un dari KH Ahmad Dahlan.
Nilai tersebut mengingatkan bahwa keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan personal, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.
“Orang yang kuliah dan belajar pun akan celaka jika justru mereka sombong dengan gelar akademiknya, dan tidak memberikan manfaat untuk manusia dan alam semesta,” tegas peneliti BRIN itu.
Dengan begitu, imbuh Prof Najib, ijazah tidak hanya menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan.
Itu juga menjadi tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan yang diperoleh bagi kehidupan yang lebih luas.
Tidak Harus Pekerjaan yang Mentereng

Setelah wisuda, setiap orang akan menempuh jalan yang berbeda.
Prof Najib berpesan agar para lulusan tidak menjadikan nama besar sebuah pekerjaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ia mengutip ungkapan “be the best of whatever you are” yang dikaitkan dengan salah satu pidato Martin Luther King Jr.
Pekerjaan mungkin berbeda, tetapi kualitas pengabdian tetap dapat menjadi pembeda.
“Jika kebetulan kalian menjadi penyapu jalan, maka sapulah jalan itu seperti Michael Angelo melukis, seperti Shakespeare menulis puisi, seperti Beethoven menggubah musik,” ujarnya.
Lihat juga: Pemkab Sidoarjo Ajak Wisudawan Umsida Berkontribusi Kurangi Pengangguran
Bagi Prof Najib, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan pekerjaan yang ada di hadapannya dengan konsisten, istiqamah, dan penuh rasa cinta.
“Menang, gagal atau berhasil tidak diukur dari jenis pekerjaan mentereng tidaknya, tapi jadilah yang terbaik dari pekerjaan yang diperoleh,” tutup Prof Najib.(Dhona)
























