Umsida.ac.id – Menjadi wisudawan terbaik tidak selalu berawal dari ambisi untuk mengejar predikat.
Jihan Triana, wisudawan terbaik Program Studi Agroteknologi, menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 9 bulan dengan IPK 3,91.
Lihat juga: 2 Tokoh Muhammadiyah Ajak Wisudawan Bangun Bangsa lewat Pendidikan
Aktif di Berbagai Riset dan Penelitian
Jihan berusaha mempertahankan nilai sekaligus memperbanyak pengalaman akademik.
“Sering-sering ikut proyek atau penelitian dosen. Terus sama pertahankan nilai,” ujar Jihan.
Beberapa penelitian yang pernah diikutinya antara lain perbanyakan Trichoderma, kultur jaringan, serta pembuatan pestisida dari gulma putri malu yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik.
“Kegiatan itu menurutku sendiri lagi daripada mata kuliah itu sendiri. Jadi kita dapat ilmu baru,” jelasnya.
Di luar kegiatan akademik, Jihan juga aktif dalam organisasi. Ia mengikuti IMM, Himpunan Mahasiswa, sekaligus menjadi asisten laboratorium.
Berbagai kegiatan tersebut membuatnya harus membagi waktu dengan kuliah.
“Kalau begitu kan kegiatan organisasi dan tugas sebagai asisten laboratorium tetap berjalan tanpa meninggalkan kewajiban saya,” tuturnya.
Bagi Jihan, kesibukan mengikuti organisasi dan penelitian tidak selalu berarti melelahkan.
“Kalau kita punya niat atau keinginan yang lebih dalam buat cari ilmu tambah-tambah, menurutku sih nggak capek ya. Malah seru,” tuturnya.
Sebagai mahasiswa rantau dari Jombang, dukungan orang tua juga menjadi bagian dari perjalanan Jihan.
Ia lebih sering berkomunikasi melalui telepon karena jarang pulang dan biasanya baru kembali saat libur semester.
Berani Mencoba Berbagai Pengalaman dan Kompetisi

Sementara itu, Sri Rohimah menjadi wisudawan terbaik Program Studi Manajemen dengan masa studi 3 tahun 11 bulan dan IPK 3,90.
Ia juga meraih predikat wisudawan berprestasi setelah mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
Saat semester dua, ia mulai mengikuti kegiatan tersebut dan kemudian berlanjut hingga mengikuti program pendanaan P2MW dengan mengembangkan usaha yang berkaitan dengan foto polaroid.
“Sempat bingung bagi waktunya dan sinkronisasi tugasnya. Tapi manfaatnya banyak,” ungkap Rohimah.
Prinsipnya, apa yang telah dimulai, harus berani diselesaikan.
Menjadi wisudawan terbaik sekaligus wisudawan berprestasi juga bukan sesuatu yang ia perkirakan sebelumnya.
Sri sendiri merupakan mahasiswa asal Cilacap, Jawa Tengah.
Selama kuliah di Umsida, ia juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa rantau dan bahkan pernah tidak pulang selama dua tahun. Meski demikian, dukungan orang tua tetap ia rasakan.
“Orang tua, Alhamdulillah mendukung. Mendukung apa yang kita lakukan, asal kita itu berada di jalan yang benar dan berusaha untuk melakukan kegiatan yang positif,” ungkapnya.
Dukungan dari Umsida juga menjadi bagian dari pengalamannya mengikuti kegiatan tersebut.
Menurutnya, kampus memberikan dukungan terhadap mahasiswa yang aktif mengikuti lomba dan kegiatan pengembangan diri.
“Untuk dukungan Umsida kepada mahasiswa yang ikut lomba sangat-sangat baik. Karena Umsida itu benar-benar mendukung sekali untuk pengembangan dan kemajuan mahasiswanya,” katanya.
Lebih Utun untuk Mempertahankan Nilai
Cerita lain datang dari Suhaillah Himatul Uliya. Sebagai wisudawan terbaik dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, ia mengaku tidak pernah secara khusus mengejar predikat tersebut.
“Tidak terlalu ambisius ya menurut saya. Tapi tiap tugas dan ujian itu saya memang berusaha semaksimal mungkin apa yang bisa saya usahakan. Untuk masalah hasil, ya itu nanti lihat apa nantinya aja,” jelas Sela.
Untuk menjaga capaian akademiknya, Sela memilih belajar lebih keras dan lebih tekun.
Tak heran jika pada akhirnya ia berhasil meraih IPK nyaris sempurna, 3,98.
Selain menjaga akademik, Sela juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah aktif di IMM, HIMA, hingga BEM Fakultas.
Kesibukan tersebut membuatnya perlu mengatur jadwal agar kegiatan organisasi tidak berbenturan dengan waktu belajar.
Ia memilih menyesuaikan kegiatan yang waktunya lebih fleksibel.
Lihat juga: Pemkab Sidoarjo Ajak Wisudawan Umsida untuk Bangun Daerah
Setelah dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik, Sela mengaku terharu sekaligus tidak menyangka dengan pencapaian tersebut.
“Alhamdulillah terharu, ini hasil usaha saya, semuanya saya usahakan untuk yang terbaik yang bisa saya lakukan,” tuturnya.
Tidak ada satu pola yang sama di antara ketiganya. Namun, perjalanan mereka bertemu pada satu hal: kemauan untuk menjalani proses dengan sungguh-sungguh.(Dhona)
























