Umsida.ac.id – Perdebatan soal karya kreatif kembali mencuat, terutama setelah kasus pekerja kreatif Amsal Sitepu yang diduga melakukan mark up anggaran produksi video profil desa.
Fenomena ini membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana sebenarnya nilai sebuah karya kreatif ditentukan dan dikomunikasikan kepada publik.
Lihat juga: Comfis 9 Kembali Digelar, Ajang Apresiasi Perfilman Karya Mahasiswa Umsida
Dosen New Media Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M Andi Fikri MIKom, menilai bahwa persoalan utama bukan hanya soal angka, tetapi tentang komunikasi, transparansi, dan pemahaman publik terhadap proses kreatif itu sendiri.
Menurutnya, banyak kesalahpahaman muncul karena publik hanya melihat hasil akhir, tanpa memahami proses panjang di balik sebuah karya.
Komunikasi Value dari Pekerja Kreatif Jadi Kunci Utama

Andi Fikri menegaskan bahwa pekerja kreatif harus mampu menjelaskan nilai karyanya secara rinci agar tidak disalahartikan sebagai sesuatu yang “tidak wajar”.
“Sebagai pekerja kreatif, paling tidak itu menjelaskan nilai karyanya secara runut atau rinci. Mulai dari durasi kerja, tingkat kesulitan, teknis, riset, sampai hak cipta dan lisensi, hingga hasil akhir yang diharapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa harga sebuah karya tidak bisa hanya dilihat sebagai angka akhir.
Di dalamnya terdapat banyak proses yang sering kali tidak terlihat oleh klien atau publik.
Mulai dari tahap diskusi awal, observasi, pencarian ide, hingga survei lokasi menjadi bagian penting dalam proses kreatif.
Bahkan faktor eksternal seperti cuaca juga bisa memengaruhi durasi dan biaya produksi.
“Misalnya kita deal syuting satu minggu, tapi tiap hari hujan. Itu bisa molor jadi dua minggu. Hal-hal seperti ini di luar ekspektasi klien, tapi tetap jadi bagian dari proses,” jelasnya.
Pun soal ide kreatif. Menurutnya, penggunaan teknologi seperti AI memang bisa membantu dalam tahap ide, tetapi tidak menggantikan proses kreatif secara utuh.
“AI hanya membantu dalam berpikir, tapi implementasi di lapangan tetap butuh pengalaman dan proses panjang. Itu yang membuat mahal,” tambahnya.
Ia juga menyoroti bahwa banyak pihak masih menganggap proses kreatif sebagai sesuatu yang sederhana, padahal di dalamnya ada pengalaman bertahun-tahun yang tidak bisa dihargai secara instan.
Negosiasi Profesional Harus Jelas Sejak Awal
Selain komunikasi value, Andi juga menekankan pentingnya proses negosiasi yang jelas dan transparan sejak awal kerja sama.
Menurutnya, kesepakatan harus mencakup seluruh aspek produksi, bukan hanya harga.
“Negosiasi itu sebenarnya sejak awal. Mulai dari proposal, timeline, equipment, sampai hasil akhirnya harus sudah jelas,” ujarnya.
Ia mencontohkan bahwa ketika sebuah proyek disepakati dengan nilai tertentu, maka angka tersebut sebenarnya sudah mencakup banyak komponen, seperti ide kreatif, tenaga kerja, hingga kebutuhan operasional di lapangan.
“Misalnya deal 30 juta, itu bukan hanya bayar video. Itu sudah termasuk kru, konsep, makan, revisi, dan banyak hal lain,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam praktiknya, proses produksi tidak selalu berjalan mulus.
Revisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bahkan bisa terjadi berulang kali.
“Revisi itu tidak bisa satu atau dua kali saja. Kadang harus retake, ganti talent, dan itu butuh biaya tambahan,” ungkap dosen yang juga aktif di komunitas film Sidoarjo itu.
Karena itu, ia menilai bahwa komunikasi aktif antara kreator dan klien sangat penting selama proses berlangsung agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Publik Masih Meremehkan Nilai Karya Kreatif

Dalam pandangannya, salah satu akar masalah terbesar adalah masih rendahnya pemahaman publik terhadap kompleksitas pekerjaan kreatif.
“Pekerja kreatif itu masih sering diremehkan, karena dianggap tidak punya standar harga yang jelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga antar kreator sering kali menimbulkan pertanyaan di masyarakat.
Padahal, perbedaan tersebut wajar karena dipengaruhi oleh pengalaman, kualitas, dan kompleksitas proses yang berbeda.
“Bikin video profil desa 15 menit saja bisa beda-beda. Ada yang 5 juta, 10 juta, sampai 30 juta. Padahal alatnya sama, tapi hasilnya pasti beda,” jelas dosen filmologi itu.
Menurutnya, jam terbang pekerja kreatif menjadi bagian penting dari nilai yang ditawarkan.
Jika hal tersebut tidak dihargai, maka industri kreatif akan kehilangan daya hidupnya.
“Kalau semua disamaratakan, akhirnya tidak ada lagi kreativitas. Orang-orang tidak mau berkarya,” tegasnya.
Ia juga memberikan contoh sederhana dari konten media sosial yang sering dianggap mudah.
“Orang lihat video TikTok satu menit itu gampang. Padahal di balik itu ada riset, script, latihan, sampai berkali-kali take,” katanya.
Pekerja Kreatif Perlu Bangun Value dan Profesionalisme
Sebagai penutup, Andi Fikri menekankan pentingnya kesadaran bagi kreator muda untuk memahami nilai karya mereka sendiri.
Menurutnya, selain kemampuan teknis, pekerja kreatif juga harus memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang profesional.
“Penting untuk membangun kesadaran diri tentang nilai karya, komunikasi yang baik, dan membangun portofolio yang kuat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemahaman tentang hak cipta dan lisensi menjadi hal penting agar karya tidak hanya dihargai, tetapi juga terlindungi.
Lihat juga: Dosen Umsida Sebut Kasus Amsal Sitepu Jadi Cermin Murahnya Profesi Kreatif
Selain itu, membangun jaringan juga dinilai penting untuk memperkuat posisi tawar di industri kreatif.(Romadhona)
Sumber: M Andi Fikri MIKom



















