Umsida.ac.id – Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus mengembangkan riset dan inovasi, salah satunya di bidang energi terbarukan.
Riset yang diketuai oleh Dr Ir Jamaaluddin MM ini mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sistem produksi garam dengan kontrol jarak jauh berbasis Internet of Things (IoT).
Lihat juga: Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
Inovasi ini ia lakukan bersama tim peneliti dan mitra industri PT DMK Teknik Utama.
Menurut Jamaal, pemanfaatan energi matahari sangat potensial untuk meningkatkan efisiensi produksi garam sekaligus mendukung penggunaan energi bersih yang lebih ramah lingkungan.
“Indonesia memiliki energi matahari yang sangat melimpah sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk berbagai kebutuhan, termasuk dalam proses produksi garam,” jelasnya.
Selain itu, imbuh dosen Teknik Elektro itu, pengembangan teknologi PLTS juga dapat membantu meningkatkan produktivitas petani garam, terutama di wilayah pesisir yang selama ini sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Pemanfaatan Energi Surya untuk Produksi Garam

Dalam penelitian ini, panel photovoltaic (PV) menghasilkan energi listrik yang kemudian disimpan dalam baterai untuk menyalakan kompor pemanas serta perangkat elektronik lainnya.
Energi tersebut digunakan untuk memanaskan air laut hingga mengalami penguapan dan membentuk kristal garam.
Selain menghasilkan garam, sistem ini juga mampu menghasilkan air murni dari proses kondensasi uap air selama pemanasan.
Teknologi ini memungkinkan proses produksi garam tetap berjalan meskipun intensitas matahari tidak terlalu tinggi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca seperti metode tambak tradisional.
Jamaal menambahkan bahwa penggunaan teknologi PLTS juga memberikan keuntungan dari sisi keberlanjutan energi karena memanfaatkan sumber energi yang bersih dan tidak menghasilkan emisi karbon.
Produksi Garam Lebih Stabil
Setelah uji coba, inovasi ini menunjukkan bahwa produksi garam menggunakan teknologi PLTS lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
Produksi garam dengan metode tradisional rata-rata mencapai sekitar 0,009 gram per cm² per jam, sedangkan sistem PLTS mampu menghasilkan sekitar 0,016 gram per cm² per jam.
Dengan teknologi ini, proses produksi garam dapat berlangsung lebih stabil karena tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca,” tambah Jamaaluddin.
Selain meningkatkan efisiensi produksi, sistem ini juga dilengkapi dengan teknologi pemantauan berbasis IoT yang memungkinkan pengawasan proses produksi secara jarak jauh.
Melalui sensor yang terpasang pada sistem, peneliti dapat memantau kondisi suhu, kelembaban, serta kinerja panel surya secara real-time.
“Tentu kami harap inovasi ini dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas industri garam nasional sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan di Indonesia,” terang Jamaal.
Dukung Proses Belajar Siswa SMK

Alat ini juga telah diserahkan kepada SMK Pemuda Krian (Smedaka), Sidoarjo, Jawa Timur.
Menurut Jamaal, SMK memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga terampil.
“Melalui smart trainer ini, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dapat melakukan simulasi praktik instalasi dan pengoperasian sistem tenaga surya secara langsung,” ujarnya.
Penyerahan alat ini disambut baik oleh pihak sekolah. Kepala SMK Pemuda Krian, Desy Kartikaningtyastuti, SPd menilai alat peraga simulasi PLTS ini menjadi fasilitas penting dalam memperkuat pembelajaran berbasis praktik di sekolah.
Lihat juga: SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
Dengan adanya Smart Trainer PLTS, imbuhnya, siswa dapat memahami prinsip kerja panel surya, sistem instalasi, hingga proses konversi energi matahari menjadi energi listrik secara lebih aplikatif dan terstruktur.(Annifa)



















