makna halalbihalal

Halalbihalal Umsida Jadi Momentum Memperkuat Harmoni Syawal

Umsida.ac.id – Momentum halalbihalal di lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Lihat juga: Halalbihalal Idul Fitri 1447 H, Momen Sarat Makna Lebaran dan Awal Semangat Pasacramadan

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Harmoni Syawal: Merangkai Kebersamaan Menuju Ketaqwaan dan Kebahagiaan”, Prof Dr Ahmad Zuhdi DH MFilI selaku pemateri menyampaikan bahwa halalbihalal harus dimaknai lebih dalam, bukan hanya sebagai ajang saling bersalaman.

“Halalbihalal ini mengingatkan kita pada peristiwa mulia selama Ramadan. Tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dijadikan bekal hidup untuk 11 bulan ke depan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya ritual tahunan yang berulang tanpa makna.

Makna Halalbihalal dalam Tradisi Islam dan Budaya

halalbihalal 2026

Dalam pemaparannya, Prof Zuhdi menjelaskan bahwa konsep perayaan dalam Islam memiliki perbedaan mendasar dengan tradisi sebelum Islam.

Ia menyinggung adanya perayaan kuno seperti Nairuz dan Mahrajan yang berasal dari wilayah Persia (sekarang Iran), yang identik dengan pesta, hiburan, bahkan konsumsi alkohol.

Namun, Islam kemudian mengganti tradisi tersebut dengan dua hari raya utama, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat.

“Dalam Islam, perayaan bukan hanya hiburan, tapi juga penguatan tauhid dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Perayaan Idul Fitri diawali dengan salat berjamaah, yang idealnya dilakukan di lapangan terbuka sebagai simbol kebersamaan umat. 

Selain itu, terdapat kewajiban zakat fitrah yang bertujuan memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang kurang mampu, dapat merasakan kebahagiaan hari raya.

Menariknya, ia juga menjelaskan bahwa Islam tidak menutup ruang kebahagiaan dalam perayaan. 

Musik dan nyanyian tetap diperbolehkan selama tidak melanggar batas syariat.

Hal ini dicontohkan dari kisah pada masa Rasulullah, di mana terdapat dua perempuan yang bernyanyi pada hari raya, dan hal tersebut tidak dilarang selama tetap dalam koridor yang wajar.

“Islam itu tidak kaku. Ada ruang kebahagiaan, tapi tetap dalam batas yang benar,” tambahnya.

Halalbihalal dan Budaya Khas Indonesia

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu juga menekankan bahwa halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain.

Lihat Juga :  Halalbihalal IMM Sidoarjo, Rektor Umsida Beri 5 Makna Fastabiqul Khoirot

Ia menjelaskan bahwa istilah halalbihalal tidak berasal dari bahasa Arab secara formal, melainkan merupakan kreativitas ulama nusantara dalam merumuskan tradisi saling memaafkan setelah Ramadan.

“Halalbihalal itu sebenarnya bentuk dari budaya kita untuk menyempurnakan ibadah Ramadan, khususnya dalam hal memaafkan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, pengampunan dosa tidak hanya bergantung pada hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.

Jika seseorang memiliki kesalahan kepada orang lain, maka pengampunan tidak akan sempurna tanpa adanya permintaan maaf secara langsung.

Dari sinilah muncul tradisi halalbihalal sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan.

Ia juga mengaitkan sejarah halalbihalal dengan dinamika sosial Indonesia, termasuk peran tokoh-tokoh nasional dalam memperkuat tradisi ini sebagai sarana rekonsiliasi dan mempererat hubungan sosial.

“Halalbihalal menjadi cara kita untuk membangun kembali hubungan yang mungkin sempat renggang,” ujarnya.

Pentingnya Minta Maaf dan Memaafkan

makna halalbihalal

Lebih lanjut, Prof Zuhdi menekankan bahwa inti dari halalbihalal adalah sikap saling memaafkan dengan tulus.

Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, memaafkan bukan sekadar formalitas, tetapi bagian penting dari penyempurnaan ibadah.

“Kalau kita punya kesalahan dengan orang lain, maka harus diselesaikan. Tidak cukup hanya berdoa, tapi harus meminta maaf,” tegas dosen Studi Islam itu.

Ia juga mengkritisi kebiasaan sebagian masyarakat yang menjawab permintaan maaf dengan ungkapan “sama-sama”, yang dinilai kurang tepat secara makna.

Menurutnya, permintaan maaf seharusnya dijawab dengan doa dan penerimaan, bukan sekadar balasan formal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa makna halalbihalal perlu terus diluruskan agar tidak kehilangan esensinya.

“Halalbihalal itu bukan sekadar tradisi, tapi proses membersihkan hati,” tambahnya.

Harmoni Syawal sebagai Kelanjutan Spirit Ramadan

Di akhir pemaparannya, Prof Zuhdi mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Syawal sebagai momentum melanjutkan nilai-nilai Ramadan.

Menurutnya, harmoni yang terbangun melalui halalbihalal harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.

Lihat juga: Islam Tidak Memberatkan Ibadah, Ini Berbagai Bentuk Keringanannya

Hal ini sejalan dengan tujuan utama Ramadan, yaitu memperoleh ampunan dan meningkatkan kualitas diri sebagai manusia.

“Kalau Ramadan kita berhasil, maka Syawal harus menjadi bukti perubahan itu,” pungkasnya.(Romadhona)

Berita Terkini

bramasgana terjun ke gempa ntt
Laporan Terkini Bramasgana Umsida dari Lokasi Gempa NTT
October 12, 2026By
pkmu 2026
PKMU 2026-2027 Dimulai, Usung Konsep Baru
October 11, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab
Pesan Rektor untuk 38 Lulusan Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida
October 8, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab (5)
Haflu Takharruj ke-38, Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida Luluskan 38 Mahasiswa
October 8, 2026By
Persiapan PKMU 2026
Persiapan PKMU 2026, Bagaimana dengan Mahasiswa Non Muslim?
October 7, 2026By
panen budidaya melon
Panen Hasil Budidaya Melon Perdana, Umsida Kembangkan Ilmu Pertanian
October 7, 2026By
Bramasgana umsida bantu NTT (2)
Bramasgana Umsida Berangkat ke NTT, Fokus Pulihkan 2 Hal
September 30, 2026By
duta pencerah 2026 2
Tutup Fortama, Umsida Kukuhkan Duta Pencerah 2026 Hingga Ajak Lawan LGBT
September 28, 2026By

Riset & Inovasi

PPG Umsida ajari anak cinta alam
Cara Seru PPG Umsida Kenalkan Rasa Cinta Alam pada Anak
October 9, 2026By
plp umsida dampingi mabit (2)
Dampingi Mabit, PLP 2 Umsida Belajar Dampingi Pembelajaran Luar Kelas
October 9, 2026By
media pembelajaran digital (2)
Mengabdi di SDN Kepulungan, Ini Deretan Media Pembelajaran Digital PLP II Umsida
October 6, 2026By
peringatan hari batik plp umsida (2)
Peringati Hari Batik, PLP 2 Umsida Ajak Siswa Membatik Carbon Copy
October 6, 2026By
PLP SDN Sidokumpul
Siswa SDN Sidokumpul Peringati Kesaktian Pancasila Bersama Tim PLP 2 Umsida
October 5, 2026By

Prestasi

Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By
beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By

Opini

bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By
satanic dan seni
Gunakan Simbol Satanic Saat Perayaan Seni, Ini Tanggapan Pakar Umsida
September 15, 2026By