Umsida.ac.id – Lailatul Qadar ibarat waktu sama dengan waktu-waktu lainnya, seperti malam hari senin, malam hari selasa, malam bulan Ramadan dan seterusnya.
Lihat juga: Keistimewaan 10 Malam Terakahir Bulan Ramadan
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PAI Umsida), Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI menjelaskan bahwa di malam yang dimulai dari waktu ghurub hingga fajar ini, para malaikat diperintahkan Allah untuk turun ke bumi.
“Mereka menyaksikan umat mukmin berlomba-lomba melakukan berbagai amaliyah kebaikan agar mendapatkan nilai lebih dari seribu bulan, terutama shalat malam (qiyamu Ramadan),” terangnya.
Kapan Datangnya Lailatul Qadar?

Dari keterangan beberapa hadits, Rasulullah tidak menyebutkan kapan pastinya waktu Lailatul Qadar.
Rasulullah hanya memberikan informasi terkait dengan rentannya yakni di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Berikut 3 hadits tersebut:
-
HR. Ahmad no. 234 dan Muslim no. 1167
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، مَنْ قَامَهَا إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.”
(رواه أحمد 3/234، مسلم 1167)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Lailatul Qadar turun pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Barangsiapa bangun pada malam itu karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad dan Muslim)
-
HR Bukhari no. 2017 dan Muslim no. 1169
Sementara dari Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
”تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.”
(رواه البخاري 2017، مسلم 1169)
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.”
-
HR Bukhari no. 2015 dan Muslim no. 1165
Abdulllah bin Umar Umar radhiyallahu ‘anhu, juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku melihat mimpi kalian tentang Lailatul Qadar bertepatan dengan tujuh malam terakhir, maka barangsiapa mencarinya, carilah pada tujuh malam terakhir (dari Ramadan).”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ.”
(رواه البخاري 2015، مسلم 1165)
“Dari ketiga hadits tersebut Rasulullah tidak memberikan informasi secara pasti kapan Lailatul Qadar itu terjadi,” ujarnya.
Namun, imbuh Rahmad, Rasulullah hanya memberikan informasi waktu rentan pada sepuluh akhir di bulan Ramadan, tepatnya pada waktu-waktu ganjil atau di tujuh malam terakhir, yakni tanggal 27 dan 29 Ramadan.

Hal ini dapat diambil hikmah bahwa dengan tidak diberikan informasi waktu khusus, sesungguhnya untuk memberikan semangat kepada umat mukmin untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa, terutama malam-malamnya di sepuluh hari terakhir yang menjadi inti ibadah puasa Ramadan itu sendiri.
Lihat juga: Lailatul Qadar, dari Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial
“Barang siapa yang semakin kendor ibadahnya, amaliyah kebaikannya, maka predikat taqwa akan sulit didapatkan. taruhlah ini merupakan ujian kelulusan untuk mendapatkan sertifikat taqwa,” jelas Rahmad.
Penulis: Romadhona S.