Umsida.ac.id – Dalam Al-Qur’an, hikmah memperoleh kedudukan yang tinggi. QS. Al-Baqarah ayat 269 menjelaskan bahwa orang yang dianugerahi hikmah memperoleh kebaikan yang banyak.
Ayat ini mengundang kita untuk merenungkan bukan hanya seberapa banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki, tetapi juga kualitas pengetahuan yang membimbing kehidupan.
Lihat juga: Dunia Setelah Kebijakan Amerika Serikat: Dari Tatanan Global Menuju Ketidakpastian Baru
Saya tidak menyamakan hikmah dengan phronesis. Keduanya hadir dalam tradisi yang berbeda.
Dalam refleksi Islam yang saya ajukan, kebijaksanaan berkaitan dengan pengenalan terhadap kebenaran, ketepatan pertimbangan, dan tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
Ilmu tidak berdiri terpisah dari orientasi pengabdian dan kehidupan yang bermoral.
Iman, Ilmu, dan Derajat Manusia
Al-Mujadilah ayat 11 juga menghubungkan iman dan ilmu dengan pengangkatan derajat.
Dalam konteks ayat yang memuat adab memberi kelapangan dalam majelis, kita diingatkan bahwa penghormatan terhadap ilmu hadir bersama tata hubungan yang baik.
Peningkatan kedudukan tidak semestinya menjadi alasan untuk mempersempit ruang orang lain.
Bagi seorang lulusan pascasarjana, pesan ini memiliki implikasi yang nyata. Semakin banyak yang kita ketahui, seharusnya semakin besar kemampuan kita membantu orang lain memahami.
Semakin tinggi kedudukan yang kita peroleh, seharusnya semakin kuat perhatian kita terhadap mereka yang sulit menyampaikan kepentingannya.
Ilmu menjadi amanah karena penggunaannya memengaruhi kehidupan. Pengetahuan seorang manajer dapat menentukan kondisi kerja pegawai.
Pengetahuan seorang pendidik dapat membentuk pengalaman belajar anak. Pengetahuan seorang ahli komunikasi dapat mempengaruhi cara masyarakat memahami suatu kelompok.
Pengetahuan seorang pengembang teknologi dapat menentukan siapa yang memperoleh akses dan siapa yang tertinggal.
Amanah tersebut tidak cukup dipenuhi melalui niat yang baik. Niat memerlukan cara yang dapat diperiksa. Jika kita mengatakan ingin membantu masyarakat, kita perlu menilai apakah masyarakat benar-benar menerima manfaat.
Jika kita mengatakan suatu keputusan adil, kita perlu menyediakan kesempatan bagi pihak yang dirugikan untuk menyampaikan keberatan.
Karena itu, iman tidak menggantikan ketelitian ilmiah. Keyakinan moral juga tidak membenarkan kesimpulan tanpa bukti.
Dalam kerja akademik, kesungguhan beragama seharusnya memperkuat kejujuran terhadap data, ketepatan dalam mengutip, dan keberanian mengakui keterbatasan hasil penelitian.
Kita dapat memiliki bahasa keagamaan yang kuat, tetapi tetap perlu memeriksa perilaku dan sistem yang kita bangun.
Apakah prosedurnya transparan? Apakah orang diperlakukan secara bermartabat? Apakah kepentingan pribadi memengaruhi keputusan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu menjadikan nilai agama hadir dalam praktik, bukan berhenti sebagai hiasan pembukaan dan penutup kegiatan.
Bagi saya, manusia berilmu yang bijaksana adalah manusia yang bersedia dimintai pertanggungjawaban.
Ia menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya bukan izin untuk menguasai sesama tanpa batas, melainkan kesempatan untuk menjalankan amanah dengan lebih baik.
Islam Berkemajuan dan Kerja Peradaban

Bagi lulusan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, pertimbangan tersebut memiliki hubungan dengan identitas pendidikan Muhammadiyah.
Risalah Islam Berkemajuan merupakan keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Dalam penjelasan resminya, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterbukaan ijtihad memperoleh tempat dalam orientasi berkemajuan.
Dalam konteks ini, kemajuan perlu diwujudkan melalui kemampuan memperbaiki kehidupan dengan dasar ilmu dan tanggung jawab moral. Pendidikan di lingkungan Muhammadiyah memberi kita kesempatan untuk menghubungkan pengembangan keahlian dengan pengabdian yang terorganisasi.
Hubungan iman, ilmu, dan amal dapat dipahami sebagai hubungan yang saling menguji.
Iman memberi orientasi pengabdian. Ilmu membantu memeriksa kenyataan dan memilih cara.
Amal mempertemukan keduanya dengan kehidupan, sehingga kita dapat menilai apakah gagasan benar-benar membawa manfaat.
Semangat Al-Ma’un juga mengundang kita untuk memperhatikan hubungan antara penghayatan agama dan kepedulian sosial.
Kepedulian itu perlu memperoleh bentuk yang berkelanjutan: prosedur pelayanan yang baik, pengelolaan sumber daya yang dapat dipercaya, dan kesempatan bagi masyarakat untuk ikut menentukan kebutuhan mereka.
Kita perlu bergerak dari bantuan yang hanya menyelesaikan keadaan sesaat menuju pemeriksaan atas penyebab masalah. Bantuan pendidikan, misalnya, dapat disertai upaya memahami mengapa peserta didik kesulitan bertahan.
Program pemberdayaan dapat menilai hambatan akses, kapasitas, dan hubungan pasar. Kepedulian menjadi lebih kuat ketika ia mau belajar dari hasil dan memperbaiki pendekatannya.
Kerja peradaban tidak selalu dimulai dari proyek yang besar. Ia dapat dimulai dari perubahan yang membuat institusi lebih dapat dipercaya.
Seorang lulusan memperbaiki sistem pengaduan. Lulusan lain menyusun penilaian yang lebih transparan.
Yang lain mengembangkan layanan yang dapat digunakan masyarakat dengan keterbatasan akses. Perubahan-perubahan seperti itu turut mempengaruhi kualitas kehidupan bersama.
Kita juga perlu memasukkan lingkungan dalam cakrawala tanggung jawab. Keputusan organisasi mengenai energi, konsumsi, dan pengelolaan limbah mempunyai akibat yang melampaui ruang kerja.
Generasi berikutnya tidak hadir untuk menyampaikan keberatan, tetapi kepentingannya perlu masuk dalam pertimbangan kita.
Peradaban yang baik membutuhkan institusi yang mampu belajar dan mengoreksi diri. Nilai luhur memerlukan pengelolaan yang cakap.
Pengelolaan yang cakap memerlukan tujuan yang layak. Lulusan pascasarjana dapat berperan mempertemukan keduanya sesuai bidang keahlian dan ruang pengabdiannya.
Pada akhirnya, ilmu yang kita miliki tidak hanya menambah apa yang kita ketahui tentang dunia. Ia juga memperbesar tanggung jawab kita terhadap dunia tersebut. Karena itu, kebijaksanaan tidak cukup berhenti pada kemampuan memahami kebenaran.
Ia perlu hadir dalam cara kita menggunakan ilmu, memperlakukan manusia, mengelola institusi, dan mengambil keputusan.
Lihat juga: Arab Saudi dan Pakistan Resmi Tandatangani Aliansu Pertahanan Strategis
Di titik inilah hikmah dan amanah ilmu bertemu dengan gagasan Islam Berkemajuan. Ilmu memberi kita kemampuan untuk memahami dan memperbaiki, sedangkan amanah mengingatkan untuk siapa dan untuk apa kemampuan tersebut digunakan.
Kerja peradaban kemudian bukan sekadar upaya membuat sesuatu menjadi lebih maju, tetapi memastikan bahwa kemajuan tersebut benar-benar membawa kebaikan bagi kehidupan bersama.
Dr Kumara Adji Kusuma
























