ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat (Pexels)

Dunia Setelah Kebijakan Amerika Serikat: Dari Tatanan Global Menuju Ketidakpastian Baru

Umsida.ac.id – Dalam beberapa dekade terakhir, dunia internasional sering dipahami sebagai sebuah tatanan yang meskipun tidak sempurna, tetap memiliki pola, norma, dan arah tertentu. 

Namun, perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa asumsi tersebut mulai runtuh. 

Pergeseran kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump pada periode keduanya menandai perubahan yang tidak sekadar taktis, tetapi bersifat struktural dan generasional. 

Lihat juga: Trump, Penangkapan Maduro, dan Kebangkitan Logika Imperialisme Ekonomi Baru

Dunia kini memasuki fase yang oleh banyak pengamat disebut sebagai world disorder—sebuah kondisi di mana ketidakpastian bukan lagi pengecualian, melainkan norma.

‎Perubahan ini tampak dalam beberapa aspek mendasar. 

Amerika Serikat, yang sebelumnya diposisikan sebagai penjaga tatanan global, kini menunjukkan kecenderungan untuk bertindak lebih unilateral. 

Komitmen terhadap hukum internasional melemah, aliansi tradisional—terutama dengan Eropa—mengalami redefinisi, dan perdagangan internasional tidak lagi dipandang sebagai mekanisme kerja sama yang saling menguntungkan, melainkan sebagai arena kompetisi zero-sum (keuntungan satu pihak sama persis dengan kerugian pihak lain). 

Dalam konteks ini, dunia tidak hanya berubah arah, tetapi juga kehilangan pusat gravitasinya.

3 Skenario Dunia di Tengah Kekuatan Amerika Serikat dengan Negara Lain

‎Dalam upaya memahami arah perubahan ini, ada tiga skenario masa depan yang mencerminkan kemungkinan trayektori dunia pasca-pergeseran Amerika Serikat dengan beberapa negara. 

Skenario pertama adalah munculnya kembali “Perang Dingin Baru”.

Di sini rivalitas antara Amerika Serikat dan China membelah dunia ke dalam dua blok besar. 

Dalam situasi ini, negara-negara lain tidak memiliki banyak ruang netralitas; mereka dipaksa, baik secara halus maupun koersif, untuk memilih sisi/pihak.

‎Skenario kedua menggambarkan dunia yang terfragmentasi ke dalam berbagai sphere of influence. 

Alih-alih bipolaritas, dunia menjadi multipolar dengan kekuatan-kekuatan regional yang saling bersaing. 

Namun, kondisi ini bukan berarti lebih stabil. 

Justru, dengan banyaknya pusat kekuatan, potensi konflik meningkat karena tidak adanya otoritas global yang mampu menengahi secara efektif. 

Dunia kembali pada logika kekaisaran, di mana perebutan wilayah dan pengaruh menjadi hal yang lazim.

‎Skenario ketiga bahkan lebih gelap, dunia anarkis yang beroperasi berdasarkan prinsip self-help.

Dalam kondisi ini, tidak ada lagi tatanan global yang berarti. 

Setiap negara bertindak semata-mata untuk kepentingannya sendiri, tanpa batasan norma atau hukum internasional yang efektif. 

Relasi antarnegara menjadi predatoris, dan stabilitas global runtuh menjadi ketidakpastian permanen. 

Ketiga skenario ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling beririsan dalam realitas kontemporer.

Pecahnya Negara Petro States dan Electro States
ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

‎Namun perspektif yang berbeda dan cukup provokatif muncul.

Pembelahan dunia saat ini tidak lagi didasarkan pada ideologi, seperti pada era Perang Dingin klasik, melainkan pada basis energi dan ekonomi. 

Dunia terbagi antara petro states (negara-negara yang bertumpu pada energi fosil) dan electro states (negara yang berinvestasi pada energi terbarukan seperti tenaga surya dan baterai). 

Dalam kerangka ini, China muncul sebagai aktor utama dalam blok electro states, sementara Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Teluk masih mengandalkan fondasi energi fosil.

‎Pembacaan ini menggeser fokus analisis dari politik ke ekonomi-ekologis. 

Konflik global tidak lagi sekadar soal ideologi atau keamanan, tetapi juga tentang siapa yang akan menguasai sumber energi masa depan. 

Dengan demikian, geopolitik abad ke-21 menjadi sangat terkait dengan transisi energi global, yang pada gilirannya menentukan konfigurasi kekuasaan internasional.

‎Di tengah tarik-menarik kekuatan besar ini, muncul peran penting negara-negara yang disebut sebagai middle powers. 

Negara-negara seperti India, Brazil, dan Afrika Selatan memiliki potensi untuk membentuk poros alternatif dalam politik global. 

Alih-alih sekadar menjadi objek dari persaingan kekuatan besar, mereka dapat menjadi subjek yang aktif dalam membentuk tatanan baru. 

Kondisi global yang semakin cair justru membuka ruang bagi kolaborasi di antara negara-negara ini untuk menciptakan keseimbangan baru.

‎Namun demikian, pertanyaan penting tetap muncul, “apakah negara-negara ini mampu benar-benar bersatu dan membentuk kekuatan kolektif? Ataukah mereka akan tetap terfragmentasi oleh kepentingan nasional masing-masing?.

Sejarah menunjukkan bahwa solidaritas semacam ini tidak mudah terwujud, tetapi kondisi saat ini mungkin memberikan peluang yang belum pernah ada sebelumnya.

‎Di sisi lain, hubungan trans-Atlantik antara Amerika Serikat dan Eropa juga mengalami transformasi signifikan. 

Aliansi ini tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang melemah, melainkan sebagai hubungan yang sedang bertransisi menuju bentuk yang lebih seimbang. 

Lihat juga: Arab Saudi dan Pakistan Resmi Tandatangani Aliansu Pertahanan Strategis

Jika sebelumnya hubungan ini cenderung hierarkis, dengan Amerika sebagai pemimpin, maka ke depan mungkin akan berkembang menjadi kemitraan yang lebih setara.(Kumara Adji Kusuma)

Berita Terkini

renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By
kunjungan IAD Probolinggo (2)
Kunjungi Umsida, IAD Probolinggo Perkuat Mutu Perguruan Tinggi
October 15, 2026By
hari kesehatan mental 1
Hari Kesehatan Mental, Satgas PPKPT dan Psikologi Umsida Buka Ruang Aman
October 12, 2026By
bramasgana terjun ke gempa ntt
Laporan Terkini Bramasgana Umsida dari Lokasi Gempa NTT
October 12, 2026By
pkmu 2026
PKMU 2026-2027 Dimulai, Usung Konsep Baru
October 11, 2026By

Riset & Inovasi

media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By
PLP 2 kenalkan lingkungan 1
PLP 2 Umsida Tumbuhkan Sikap Peduli Lingkungan pada Siswa Lewat Green School
October 13, 2026By

Prestasi

ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By

Opini

kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By
olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By
bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By