Umsida.ac.id – Tim Brigadir Relawan Mahasiswa Tanggap Bencana Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Bramasgana Umsida) terus menjalankan tugas kemanusiaan di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga Kamis (8/10), tim telah berpindah dari Reo, Manggarai Tengah menuju Pota dan Dusun Ronting, Manggarai Timur.
Lihat juga: Bramasgana Umsida Berangkat ke NTT, Fokus Pulihkan 2 Hal
Selain melihat kondisi kerusakan bangunan, tim juga melakukan pendampingan psikososial kepada anak-anak serta memantau kondisi pendidikan masyarakat setelah gempa.
Bramasgana Umsida Temui Kondisi Warga Pascagempa

Ketua Bramasgana Umsida, Tatan Rackhen Ariaseta, melaporkan tim tiba di Reo, Manggarai Tengah sekitar pukul 02.00 WITA pada Sabtu (3/10).
Setibanya di lokasi, tim melihat sejumlah rumah warga mengalami kerusakan mulai dari tingkat sedang hingga berat.
Sebagian warga juga masih memilih tidur di tenda pengungsian karena belum merasa aman untuk kembali ke rumah.
“Pada malam tersebut masih terjadi gempa dengan kekuatan sekitar 6,0 M,” ujar Tatan.
Pada Ahad, (4/10), tim melihat kondisi sejumlah wilayah terdampak, salah satunya Desa Waso.
Desa tersebut menjadi salah satu titik yang mengalami dampak cukup parah karena lokasinya sekitar 8 km dari titik gempa.
Kondisi tersebut juga dirasakan secara psikologis oleh masyarakat.
“Berdasarkan cerita warga, rasa trauma dan takut masih muncul ketika mereka hendak kembali beraktivitas di dalam rumah,” terang Tatan.
Gempa susulan yang masih terjadi, terutama pada malam hari, membuat sebagian warga memilih beraktivitas pada siang hari dan menghindari rumah pada malam hari.
Di tengah kondisi itu, Bramasgana bertemu dengan anak-anak di Desa Waso dan melakukan pendampingan psikososial melalui sejumlah aktivitas sederhana.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bermain bagi anak-anak di tengah situasi pascabencana.
Namun sebagian area yang sebelumnya digunakan untuk bermain kini menjadi tempat hunian sementara warga.
Setelah dua hari berada di Reo, tim berpindah menuju Desa Pota, Manggarai Timur pada Selasa (6/10).
Di wilayah tersebut, tim bermalam di Poskorda Manggarai Timur selama kurang lebih tiga hari.
Selama berada di Pota, tim menemukan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan berat.
Sebagian masyarakat masih memilih mengungsi dan belum berani kembali ke rumah karena khawatir terhadap gempa susulan.
Pendampingan Psikososial Berlanjut
Pada hari kedua di Pota, Bramasgana mengunjungi SD Inpres Logo untuk melakukan kegiatan psikososial bersama anak-anak sekolah.
Kegiatan dilakukan melalui permainan dan interaksi kelompok yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak pascabencana.
“Pada sore harinya, kami kembali melakukan aktivitas bersama anak-anak,” kata Tatan.
Pada hari berikutnya, Bramasgana Umsida mengunjungi salah satu sekolah dasar di Pota untuk kembali melakukan kegiatan psikososial.
Pada Rabu, (7/10) siang, tim dijemput MDMC Jawa Timur untuk menuju Dusun Ronting, Manggarai Timur.
Setibanya di Ronting, tim melihat masyarakat masih berada di sejumlah tempat pengungsian.
Tanah lapang digunakan sebagai lokasi hunian sementara.
Kerusakan bangunan juga tergolong berat, mulai dari rumah warga, masjid, sekolah, toko, hingga bangunan lainnya yang mengalami kerusakan bahkan roboh.
Pada Kamis (8/10) pagi, tim melakukan koordinasi dengan PCM setempat .
Dari hasil koordinasi dan informasi masyarakat, setelah gempa sejumlah sekolah darurat mulai didirikan walau belum optimal.
Sebagian orang tua bahkan belum mengizinkan anak kembali bersekolah karena khawatir terhadap gempa susulan.
Kegiatan belajar dilakukan secara bergantian, mulai sekitar pukul 07.00 hingga 11.00 WITA.
Respons Bencana Tidak Berhenti Saat Relawan Pulang

Rektor Umsida, Dr Hidayatulloh MSi, menyampaikan bahwa keterlibatan Bramasgana menjadi bagian dari respons kemanusiaan Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu.
“Indonesia ini untuk menyelesaikan masalah umat tidak mungkin bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Tidak mampu. Karena itu butuh peran serta masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, respons Muhammadiyah terhadap bencana dilakukan secara berkelanjutan.
Setelah bencana terjadi, MDMC melakukan konsolidasi untuk menyambungkan berbagai kegiatan, termasuk penggalangan dan pengelolaan bantuan hingga proses pemulihan selesai.
Untuk NTT, proses tersebut masih berlangsung dengan berbagai rencana lanjutan, termasuk pembangunan sekolah, tempat ibadah, dan hunian sementara.
Lihat juga: Duka Aceh Jadi Luka Bersama, Ini Kata Tim Bramasgana Umsida
Dr Hidayatulloh menegaskan bahwa penanganan bencana dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan masa tanggap darurat awal.
“Nah inilah Muhammadiyah yang tidak mengenal batas waktu dan ruang,” tegasnya.(Dhona)
























