Umsida.ac.id – Disiplin latihan, diet ketat, serta komitmen menjaga performa fisik dan mental mengantarkan Jovanka Rizky Saputra, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), meraih prestasi gemilang di ajang Kejuaraan Nasional KBPP Polri Cup 3.
Mahasiswa yang akrab disapa Jovan ini sukses menyabet juara satu kategori Senior Prestasi, kategori yang diisi atlet-atlet berpengalaman dengan jam tanding tinggi.
Lihat juga: Mental Jadi Bekal Utama Mahasiswa Umsida Raih Emas KBPP Polri Jatim 2025
Medali Emas dari Kategori Senior Prestasi

Kejuaraan Nasional KBPP Polri menjadi ajang yang tidak mudah bagi Jovan.
Ia harus berhadapan dengan atlet-atlet elite, termasuk atlet Puslatda dan peserta yang sebelumnya disiapkan menuju ajang PON.
“Jujur, jalannya pertandingan itu tidak sesuai ekspektasi awal. Lawan saya atlet Puslatda Jatim dan juga bagian dari BKPON. Saya sempat berpikir, apa saya bisa?” ungkap mahasiswa Prodi Administrasi Publik itu.
Dengan pengalaman bertanding yang relatif singkat (baru menekuni taekwondo sejak 2022), Jovan menyadari bahwa lawannya memiliki jam terbang lebih tinggi.
Namun, strategi dan kekuatan pukulan menjadi pembeda.
“Saya punya andalan pukulan yang cukup keras. Alhamdulillah di ronde dua lawan saya KO dan pertandingan dihentikan,” jelasnya.
Kemenangan tersebut tidak hanya menjadi bukti kemampuan teknis, tetapi juga kematangan mental menghadapi tekanan di level nasional.
Latihan Taekwondo Ekstrem dan Turunkan Berat Badan Sekejap

Di balik prestasi tersebut, persiapan yang dijalani Jovan tergolong ekstrem.
Dalam waktu dua bulan, ia harus menurunkan berat badan hingga 10 kilogram, dari 96 kg menjadi 86 kg, demi turun di kelas Under 87 kg.
“Persiapannya sangat melelahkan. Diet ketat, latihan pagi, latihan sore, dan tetap harus fokus kuliah,” kata mahasiswa semester 3 itu.
Setiap hari Jovan memulai aktivitas sejak pukul 04.00 WIB untuk workout, skipping, dan shadow fight sebelum berangkat kuliah.
Sepulang kuliah, ia melanjutkan latihan tambahan di GOR, mulai dari cardio, jogging bertahap hingga 20 putaran, hingga latihan teknik.
Latihan intens dimulai sejak Oktober, sekitar dua hingga tiga bulan sebelum kejuaraan.
Selain fisik, ia juga melatih refleks, strategi menyerang, dan bertahan tanpa lawan sebagai simulasi pertandingan.
Tantangan lain datang dari pembagian waktu, biaya nutrisi tinggi selama diet, serta risiko cedera. Bahkan, jelang pertandingan, Jovan sempat mengalami insiden unik.
“Saya lagi pemanasan, loncat-loncat, nggak sadar di atas ada tribun. Kepala saya terbentur,dan itu cukup membuat saya pusing,” ceritanya.
Meski demikian, ia tetap mampu mengendalikan diri dan fokus saat pertandingan berlangsung.
Dukungan Umsida dan Pesan Atlet untuk Mahasiswa
Jovan mengakui bahwa dukungan lingkungan kampus sangat berperan dalam keberhasilannya.
Dosen, staf, hingga rekan sesama atlet memberikan semangat dan ruang akademik yang fleksibel.
“Dosen-dosen selalu nanya mau kejuaraan apa, H- berapa, dan selalu kasih doa. Itu sangat membantu secara mental,” ujar atlet kelahiran Surabaya itu..
Dukungan juga datang dari UKM Bela Diri Umsida yang terus mendorong atlet untuk berkembang dan bertanding di level lebih tinggi.
Meski sempat merencanakan mengikuti Piala Gubernur Jawa Timur, Jovan memutuskan untuk menunda sementara demi pemulihan cedera pada ankle dan lutut.
Ia berencana menjalani fisioterapi agar bisa tampil maksimal pada 2026.
Lihat juga: Panggung Miss Jawa Timur 2025 Antarkan Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up
Menurutnya, pengalaman bertanding, kedisiplinan latihan, dan pembentukan karakter menjadi nilai besar yang bisa diperoleh mahasiswa dari dunia olahraga bela diri.
Penulis: Romadhona S.



















