Umsida.ac.id – Sosok Fanny Sabillah Huda bisa dikatakan sebagai ‘panutan’ bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Mahasiswa Program Studi Psikologi semester 7 itu baru saja meraih 8 penghargaan sekaligus dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan.
Lihat juga: Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
Fanny Sabillah Huda, yang sering dipanggil Fanny itu, memulai perjalanan ini setelah menyelesaikan skripsinya di semester 6.
Isi Waktu Senggang dengan Berbagai Kompetisi

Merasakan waktu senggang sembari menunggu selebrasi kelulusan setelah menyelesaikan tugas besar tersebut, ia bertekad untuk menambah pundi-pundi prestasi dan mengeksplorasi kemampuannya dalam berkompetisi.
Dengan semangat dan ambisi besar, ia mengikuti berbagai lomba, baik yang berskala nasional maupun internasional.
Produktivitasnya ini dimulai sejak awal Desember lalu.
Beberapa lomba tersebut seperti IAIDU Asahan Kisaran Essay Competition, Civic Smartfest National Essay Competition, Bhumiksara National Essay Competition, dan Cocoa 2025 International Poster Competition.
Fanny juga berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam satu kompetisi.
Seperti di Counsfess Essay Competition yang berhasil meraih Runner Up dan Finalis, serta Pekan Esai Nasional Akademik 2026 yang berhasil meraih Finalis dan Best Paper.
Keputusan untuk berkompetisi bukanlah tanpa alasan.
Fanny ingin mencapai sesuatu yang luar biasa dan membuktikan bahwa dirinya bisa bersaing dengan mahasiswa dari universitas top di Indonesia.
Dalam waktu yang relatif singkat, Fanny berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang yang beragam, termasuk poster dan essay ilmiah.
Persiapan di 20 Kompetisi dengan Berbagai Tantangan
Untuk meraih prestasi tersebut, Fanny mengungkapkan bahwa persiapan yang matang menjadi kunci utamanya.
“Yang pertama adalah mencari lomba yang sesuai dengan kemampuan dan minat saya. Setelah itu, saya fokus mencari ide yang menarik dan memiliki daya tarik visual untuk para juri,” ujar Fanny.
Selain itu, ia juga mengaku bahwa penting untuk memvisualisasikan ide-ide yang telah dirancang agar lebih mudah diterima oleh juri.
Dalam setiap perlombaan, Fanny juga menekankan pentingnya kemampuan dalam time management.
“Selama tiga bulan ini, saya sudah ikut sekitar 20 lomba, jadi saya harus pintar mengatur waktu dan menjaga kesehatan mental agar tidak burnout,” tambahnya.
Fanny juga mengaku menghadapi tantangan besar saat harus bersaing dengan universitas-universitas besar dalam perlombaan tingkat nasional dan internasional.
Meski demikian, ia merasa mentalnya benar-benar diuji, apalagi saat mengikuti perlombaan offline yang menghadirkan persaingan sengit dari para peserta terbaik.
Menjadi Contoh untuk Mahasiswa Lainnya

Bagi Fanny, momen yang paling berkesan adalah saat nama dirinya diumumkan sebagai peraih penghargaan.
“Proses pengerjaan lomba sebenarnya biasa saja karena sudah terbiasa dengan tekanan, namun saat nama kita diumumkan sebagai pemenang, rasanya luar biasa. Itu adalah momen yang sangat membanggakan,” ujarnya.
Walau keikutsertaannya dalam berbagai lomba hanya untuk mengisi waktu tunggu kelulusan, bukan berarti Fanny tidak memiliki motivasi apa-apa.
Hal itu dikarenakan jiwa kompetitif dan percaya dirinya yang luar biasa.
“Jangan takut untuk bersaing, percaya diri dengan kemampuan sendiri. Jika kita yakin bisa, kita akan menemukan cara untuk mencapainya,” ucapnya dengan semangat.
Lihat juga: Dari Umsida ke Thailand, Mahasiswa Magang Ini Gali Banyak Ilmu
Kisah ini tentu menjadi contoh luar biasa bagi mahasiswa lainnya untuk terus melahirkan berbagai prestasi bukan hanya mengisi waktu luang.(Nabila Wulyandini)



















