media sosial pejabat publik

Pakar Umsida: Pejabat Publik Harus Waspada Media Sosial Karena Jadi Arena Opini dan Kepercayaan

Umsida.ac.id – Kasus pelaporan Wakil Wali Kota Surabaya Armuji ke Polda Jawa Timur kembali menekankan peran media sosial dalam komunikasi pejabat publik. 

Laporan ini berawal dari konten di akun Instagram, TikTok, dan YouTube Armuji yang dinilai menyudutkan ormas Masyarakat Madura Asli (Madas) dalam peristiwa pengrusakan rumah nenek Elina. 

Konten yang diunggah di ruang digital tidak lagi sekadar dipandang sebagai ekspresi personal, melainkan dapat membentuk opini publik dan bahkan berujung pada persoalan hukum.

Lihat juga: Ajang Gen Z Pelopor 2025 Jadi Bukti Anak Muda Tak Hanya Pandai Scroll Media Sosial

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang komunikasi strategis sekaligus rawan bagi pejabat publik.

Menanggapi hal tersebut, Kaprodi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nur Maghfirah Aesthetika MMedKom, menilai bahwa penggunaan media sosial oleh pejabat publik sejatinya memiliki fungsi ganda yang perlu dipahami secara kritis oleh masyarakat maupun oleh pejabat itu sendiri.

Media Sosial Pejabat Publik antara Aspirasi dan Pencitraan

Nur Maghfirah menjelaskan bahwa secara umum media sosial pejabat publik memiliki dua fungsi utama. 

“Penggunaan media sosial bagi pejabat itu ada dua fungsi. Yang pertama sebagai wadah aspirasi, yang kedua sebagai pencitraan,” jelas Fira.

Menurutnya, fungsi aspiratif sebenarnya menjadi sisi ideal dari media sosial pejabat publik, yakni ketika kanal digital digunakan untuk menyampaikan informasi, laporan, atau kebijakan kepada masyarakat. 

Namun dalam praktiknya, konten pencitraan justru lebih banyak mendominasi ruang digital.

Ia menilai bahwa konten pencitraan sering kali disusun secara terencana dan melibatkan tim media profesional. 

Hal ini membuat publik kesulitan membedakan mana konten yang merepresentasikan kerja nyata dan mana yang sekadar membangun citra.

“Sekarang pejabat punya tim media sendiri untuk mem-framing citra. Apalagi kalau akunnya sudah centang biru, itu sudah menjadi salah satu tanda bahwa media sosial tersebut dikelola untuk pencitraan,” ungkapnya.

Sebaliknya, konten yang benar-benar bersifat informatif justru cenderung minim menampilkan sosok pejabat secara langsung. 

“Kalau kontennya murni informasi, biasanya pejabatnya tidak banyak on frame. Isinya langsung ke informasi. Tapi model seperti itu jarang sekali,” tambahnya.

Media Sosial dan Potensi Polemik Hukum Pejabat Publik
media sosial pejabat publik
Dok Instagram cakj1

Lebih lanjut, Fira menilai bahwa konten pejabat publik jauh lebih mudah memicu polemik dibandingkan konten masyarakat biasa. 

Hal ini tidak terlepas dari status pejabat sebagai figur publik yang wajah dan gesturnya mudah dikenali serta disorot.

“Pejabat itu public figure. Apapun yang muncul di media sosial, itu langsung jadi sumber penilaian masyarakat,” ujarnya.

Di era media sosial, imbuh pakar media itu, penilaian publik sering kali dibangun hanya dari potongan visual berdurasi singkat. 

Lihat Juga :  Pembatasan Media Sosial untuk Anak, Dosen Umsida: Perlu Didukung, Tapi…

Padahal, menurutnya, video atau unggahan pendek tidak pernah mampu menyampaikan konteks secara utuh.

Ia juga menyoroti pentingnya etika komunikasi dalam pembuatan konten. 

Prinsip-prinsip etika jurnalistik, kata dia, seharusnya bisa diterapkan dalam produksi konten media sosial, terlebih bagi pejabat publik yang terikat pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Memunculkan wajah orang tanpa izin, merekam di ruang publik, itu sebenarnya ada etikanya. Tapi sayangnya etika komunikasi di media sosial sering tidak ditegakkan,” jelasnya.

Menurutnya, banyak konten yang secara teknis melanggar etika, namun tidak mendapat sanksi karena lemahnya penegakan norma komunikasi digital.

Akibatnya, ketika pejabat publik tersandung masalah, sorotan hukum dan opini publik menjadi jauh lebih besar.

Media Sosial, Krisis Kepercayaan, dan Strategi Komunikasi Aman

 

Terkait gaya komunikasi pejabat publik ketika menghadapi kasus yang sedang panas, Fira menekankan pentingnya kehati-hatian dan pengendalian diri. 

Dosen lulusan Unair itu menilai bahwa klarifikasi dan permintaan maaf memang sudah menjadi pola umum, namun sering kali tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan publik.

“Kalau sudah terjadi kesalahan, mengembalikan kepercayaan itu susah sekali. Dia melakukan hal baik pun bisa dianggap hanya memperbaiki citra,” katanya.

Dalam kondisi krisis, ia justru menyarankan agar pejabat publik tidak terlalu sering muncul di ruang publik digital. 

“Kalau lagi panas, mending diam dulu. Kalau muncul, malah bisa memperkeruh suasana. Salah kata sedikit saja bisa jadi bahan serangan,” ujarnya.

Karena menurutnya, klarifikasi pun saat dianggap hanya sekedar menjaga citra saja. 

Dan netizen sudah berpikiran yang sebaliknya jika ada pejabat yang melakukan klarifikasi.

Ia juga mengingatkan bahaya simbol dan gestur dalam komunikasi visual. 

Seragam, warna, dan atribut tertentu memiliki makna simbolik yang bisa ditafsirkan beragam oleh publik.

“Dalam komunikasi ada semiotika. Simbol itu kuat sekali. Video beberapa detik bisa membentuk makna yang sangat berbeda, apalagi kalau ada simbol lembaga atau jabatan di dalamnya,” jelasnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa pejabat publik seharusnya bersikap netral dan menahan diri sebelum informasi benar-benar jelas. 

Menurutnya, opini publik yang terlanjur terbentuk di media sosial sering kali lebih kuat daripada fakta.

“Kalau opini publik sudah kuat, yang salah bisa terlihat benar, dan yang benar bisa terlihat salah,” pungkasnya.

Kasus yang menimpa Wakil Wali Kota Surabaya ini, menurut Nur Maghfirah, dapat menjadi pelajaran penting bagi pejabat publik untuk lebih berhati-hati dalam bermedia sosial. 

Lihat juga: Umsida Raih Sinta Award 2025 Sebagai penghargaab Atas Peningkatan Kinerja Publikasi

Media digital bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi arena strategis yang menuntut tanggung jawab komunikasi, etika, dan kesadaran akan dampak hukum serta sosial yang ditimbulkan.

Penulis: Romadhona S.

Berita Terkini

Bramasgana umsida bantu NTT (2)
Bramasgana Umsida Berangkat ke NTT, Fokus Pulihkan 2 Hal
September 30, 2026By
duta pencerah 2026 2
Tutup Fortama, Umsida Kukuhkan Duta Pencerah 2026 Hingga Ajak Lawan LGBT
September 28, 2026By
maba 2026 (2)
UKM Umsida Ajak Maba 2026 Temukan Ruang Mengembangkan Diri
September 28, 2026By
mastama 2026
Mastama Umsida 2026 Kenalkan Ortom Kampus Lewat Konsep Baru
September 27, 2026By
wali mahasiswa baru umsida (2)
Mengapa Wali Mahasiswa Mempercayakan Putra-Putrinya ke Umsida?
September 26, 2026By
sinergi pendidikan dengan wali maba
Percayakan Pendidikan di Umsida, Fortawa 2026 Perkuat Sinergi Wali Maba
September 26, 2026By
fasilitator pkmu 2026
Menuju PKMU 2026, Fasilitator Umsida Didorong Hadir dengan Keteladanan
September 25, 2026By
Akidah dan Akhlak
Jelang PKMU 2026, Umsida Matangkan Kesiapan Pendampingan Akidah dan Akhlak
September 23, 2026By

Riset & Inovasi

kunjungan perpustakaan daerah 2
Kunjungi Perpustakaan Daerah, PLP 2 Umsida Tumbuhkan Minat Baca Siswa
September 24, 2026By
Pasar Desa Samiler
Buka Pasar Desa Samiler, PPK Ormawa Himagro Sajikan Nuansa Tradisional
September 22, 2026By
ekspor gula kelapa
Siapkan Produk Gula Kelapa Siap Ekspor, Umsida Dampingi PT Delima Nira Natural
September 21, 2026By
beras rumput laut
Keunggulan Diarice, Beras Analog dari Rumput Laut yang Kaya Nutrisi
September 16, 2026By
pelatiahn coding plugged
Dosen Umsida Kenalkan Coding Ramah Anak untuk Guru PAUD
September 14, 2026By

Prestasi

tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By
beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By
snap and style
Snap and Style Antar Inovasi Bisnis Digital Umsida Tembus KMI Expo XVII 2026
September 9, 2026By

Opini

bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By
satanic dan seni
Gunakan Simbol Satanic Saat Perayaan Seni, Ini Tanggapan Pakar Umsida
September 15, 2026By