Pesan Pak Din Syamsuddin untuk Wisudawan UMSIDA: Anda Menghadapi Masalah yang Serius

Penulis : umsidaj4y4 June 23, 2019 / Berita

Ada yang menarik saat pelaksanaan Wisuda XXXIII UMSIDA pada Sabtu, 22 Juni 2019 ini. Yakni hadirnya Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA yang memberikan orasi ilmiah kepada 416 wisudawan/wati di auditorium UMSIDA yang baru. Pesan itu seolah memberikan “PR” dan sekaligus mengajak para alumni untuk menjawab tantangan Indonesia ke depan.

Meski memiliki jadwal yang padat, sosok yang pernah memimpin Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, hingga Forum Perdamain Dunia ini bekenan memberikan waktu luang untuk memberikan pesan kepada para wisudawan/wati UMSIDA. “Masalah serius yang dihadapi Indonesia adalah kesenjangan antara cita dan fakta. Kehidupan sosial mengalami distorsi dan disorientasi dari cita-cita para pendiri bangsa,” ungkap pak Din.

Seperti kita semua ketahui, bahwa para pendiri bangsa mencita-citakan Indonesia dan menuangkannya dalam kesapakatan yang termaktub jelas pada pembukaan UUD 1945, yaitu “membentuk Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Visi kebangsaan ini dijabarkan dengan jelas pula dalam misi Negara, yaitu melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan iktu melaksanakan perdamaian abadi, kemerdekaan, dan keadilan sosial.

Di Indonesia kini telah berlalu sekian banyak rezim penguasa. Namun sayangnya, tiap rezim yang berkuasa sejak era kemerdeakaan hingga era reformasi tidak berhasil mengatasi masalah yang terjadi dan seolah mengulangi sejarah kesalahan yang sama dan berakumulasi semakin besar. “Sehingga membawa penumpukan masalah. Jika masalah itu tidak diatasi maka tidak mustahil kehidupan kebangsaan Indonesia semakin menjauh dari cita-cita pendirian bangsa,” ungkap pak Din menandaskan.

Tantangan Indonesia Kontemporer

Pak Din menjelaskan lebih lanjut bahwa kini telah terjadi akumulasi dari berbagai masalah yang serius dengan adanya tantangan ganda, yakni:

Pertama, kebodohan dan pembodohan. Pak Din, Sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa bangsa kita menghadapi tantangan Sumber Daya Manusia (SDM) bermutu yang siap hidup di abad ke-21. Kemampuan baca, matematika, dan sains anak Indonesia berada pada ranking 65 dari 73 negara menurut survei PISA (Programme for International Student Assessment) yang menunjukkan kemampun under perform dari anak-anak Indonesia.  “Bangsa ditantang mewujudkan sistem penddikan berkualitas yang mampu melahirkan SDM yang berakhlak mulia, handal, mandiri, kreatif dan kompetitif di era globalisasi dengna wawasan kebangsaan yang luas yang bermutu,” kata pak Din.

Kedua, Kemiskinan dan pemiskinan. Upaya menangani kemiskinan memang terus membuahkan hasil. Namun, sebanyak 29 juga orang Indonesia saat ini masih hidup di bawah garis kemiskinan (Susenas BPS 2015). Kemiskinan telah berubah menjadi pemiskinan, ketika rakyat miskin menjadi miskin bukan karena faktor cultural tapi faktor structural. “Globalisasi yang mendorong privatisasi, liberalisasi dan deregulasi ekonomi membuat kekuatan Negara lumpuh dan dilumpuhkan,” ujar pak Din.

Ketiga, Perpecahan dan pemcahbelahan. Seperti kita ketahui bersama, bahwa sejak era reformasi kekuasaan politik bergeser pada partai politik. Lembaga legislative dan partai politik sangat kuat posisinya dalam menentukan jabatan-jabatan politik Negara. Kekuasaan parpol ini berada pada setiap tingkatan pemerintahan dengan adanya pilkada langsung. “Namun, masalah muncul ketika parpol yang memiliki surplus kekuasaan tidak mampu memanfaatkannya untuk mengakselerasi pembentukan Negara, pembentukan bangsa dan karakter bangsa, yang pada muaranya menciptakan kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Keempat, Ketergantungan dan pemergantungan. Pak Din mengambarkan fakta tentang pertumbuhan perekonomian Indonesia masih bergantung pada Negara lain. Sejumlah bahan kebuutuhan pokok harus diimpor, seperti beras, gula, garam, atau daging. Untuk mendanai pembangunan, negara harus  berhutang kepada pihak asing terutama Bank Dunia dan International Monetary Fund. “Sayangnya, interdependensi Negara-negara di dunia dewasa ini menimbulkan akulturasi asimetris, antara Negara maju dan berkembang menampilkan pola yang timpang yang mana Negara berkembang menjadi superior dengan berbagai kekautan ekonomi, politik, militer, dan budaya,” ungkapnya.

Selain keempat tantangan ganda diatas, Bangsa Indonesia tengah menghadapi masalah dan tantangan serius yang merusak kehidupan bangsa yaitu merajalelanya “KKN Jilid Dua” berupa korupsi, kekerasan, dan narkoba. “Ketiganya merupakan penyakit kronis yang menghambat kemajuan bangsa,” kata pak Din menegaskan.

Upaya Pemecahan Masalah

Guna menanggulangi berbagai masalah dan tantangan berat, kompleks, dan complicated di atas, dan menghadapi persaingan peradaban tinggi dengan bangsa-bangsa lain dewasa ini diperlukan revitalisasi dan rekonstruksi mentalitas bangsa kea rah pembentukan manusia Indonesia yang berkarakter kuat dan maju. Terdapat beberapa faktor strategis yang menjadi dasar pemecahan masalah tersebut.

Pertama, Good Governance. Adanya pemerintahan yang baik adalah prasyarat bagi terwujudnya kemajuat bangsa. Prasyarat ini harus menjelma pada setiap gatra dan skala penyelenggaraan Negara baik eksekutif, legislative, maupun judikatif, baik di pusat maupun daerah-daerah. “Good governance menuntut integritas, kapabilitas, profesionalitas, dan efektivitas, kreativitas, dan inovasi berkelanjutan,” ujarnya menjelaskan.

Kedua, Kepemimpinan Transformatif. Prof Din mengaskan bahwa kepemimpinan transformative adalah kepemimpinan yang visioner, kuat, dan berorientasi pada peruabahan. Dalam diri pemimpin ini terdapat perpaduan antara watak kenegarawanan, yaitu berada di tengah untuk semua golongan, dan watak perubahan dnegna kemampuan memobilisasi potensi bangsa, memimpinkan perubahan, dan menjelmakan masa depan. “Pemimpin ini harus memiliki kemampuan manajerial yang rasional, operasional, dinamis dan sistematis. Namun orientasi kerja harus diletakkan pada visi yang jelas dan kuat, karena kerja tanpa visi mengakibatkan salah arah dan salah kaprah,” tandasnya.

Kegita, Masyarakat berbasis Ilmu dan Teknologi. Pak Din menjelaskan bahwa Indonesia maju sangata menuntu adanya orietnasi hidup bangsa yang mencintai ilmu dan teknologi. Penguasaan ilmu dan teknologi harus menjadi prioritas program pembangunan. “Hal ini dilakukan dengan mendorong budaya gemar membaca dan menulis sedini mungkin, dan menggalakkan pengkajian dan penetlian,” ungkapnya.

Keempat, Kesimbangan antara infrastruktur fisik dan Infrastruktur non Fisik. Sesuai imperatif pembangunan dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya frasa memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Pembangunan Nasional harus menyeimbangkan pembangunan infrastruktur fisik dan non fisik. “Ketidak seimbangan antara kedua hal ini akan membawa ketimpangan dan keruntuhan,” tegasnya.

Kelima, Keseimbangan Pusat dan Daerah. Seperti diketahui, bahwa proses Pembangunan Nasional memerlukan keseimbangan fungsi dan peran Pemerintahan Pusat dan Daerah. Meski era reformasi mampu mengatasinya, namun pelaksanaanya di lapangan masih menampilkan kerancuan. Terakhir, otonomi yang berada di tingkat kabupaten/kota sebagian ditarik ke tingkat provinsi. Pada sisi lain, otonomisasi yang dimaksud sebagai upaya mendorong pemerataan korupsi dan penyelewengan. “Keseimbangan antara Pusat dan Daerah perlu ditata kembali atas prinsip pemerataan, efektivitas, dan akselerasi pembangunan,” tandasnya.

Enam, Suasana Kebersamaan. “Faktor strategis penting memajukan kehidupan bangsa adalah adanya iklim kebersamaan,” kata Prof Din. Ditambahkannya bahwa hal ini ditandai oleh derajat kerukunan nasional yang tinggi di antara semua elemen kemajemukan bangsa. “Untuk itu, pemerintahan yang sah hasil pemilu demokratis berdasarkan konstitusi perlu diberi kesempatan megemban amanat rakyat dengan sebaik-baiknya, dan pada saat yang sama pemerintahan itu harus di atas dan untuk semua kelompok,” ungkapnya. Dan untuk mewujudkan itu, pak Din memberikan ungkapan yang mendalam, “No peace without justice. No justice without truth.”

Berbagai tantangan dan faktor strategis tersebut merupakan permasalahan serius yan dihdapi bangsa Indonesia ke dapan. Ini seolah menjadi pesan bagi wisudawan UMSIDA untuk terus menguhkan tekad mewujudkan cita-cita bangsa yang saat ini masih jauh dari fakta.(adji)

 

 

 

Related Post