Umsida.ac.id – Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi resmi meraih gelar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dalam bidang Ilmu Intellectual Capital dan Analisis Keuangan.
Gelar tersebut merupakan puncak dari perjalanan akademik panjang yang dimulai sejak bangku sekolah hingga melalui berbagai tahapan jabatan fungsional dan proses administratif yang tidak sederhana.
Lihat juga: Ada 3 Misi Profetik yang Diemban Guru Besar Umsida, Kata Ketua PP Muhammadiyah
Prof Sigit mengawali pendidikan dasar hingga menengah di Bojonegoro, yakni di SD Negeri Sumbang I, SMP Negeri I Bojonegoro, dan SMA Negeri II Bojonegoro.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan S1 di Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Awal Perjalanan Akademik Menuju Guru Besar
Menurut Prof Sigit, titik balik yang membawanya masuk ke dunia akademik justru terjadi saat menjadi mahasiswa S1.
Ia aktif dalam organisasi seperti IMM dan majalah mahasiswa Dimensi Ekonomi. Namun pengalaman paling berpengaruh adalah ketika menjadi asisten laboratorium akuntansi.
“Sebagai asisten dosen itulah yang menurut saya paling menjadi awal untuk menapaki dunia akademik,” ujar Gubes kelahiran Bojonegoro, 3 Desember 1973 itu.
Setelah lulus tahun 1998, ia sempat menjadi dosen kontrak di UMM selama kurang lebih satu tahun.
Pada tahun 2000, ia menerima tawaran dari Umsida untuk menjadi Kaprodi S1 Akuntansi.
Saat itu kondisi Umsida masih didominasi kelas malam, sementara kelas pagi baru mulai berkembang.
Ia mulai mengabdi di Umsida pada 1 Februari 2000.
Dua tahun kemudian, ia melanjutkan studi S2 Magister Akuntansi di Universitas Airlangga dan lulus tahun 2004.
S2 Sempat Mengulang Mata Kuliah
Dalam perjalanan S2 tersebut, ia mengalami pengalaman yang hingga kini masih diingatnya.
Saat UAS berlangsung dalam kondisi hujan, ia lupa mengumpulkan lembar jawabannya.
Seminggu kemudian saat membongkar tas, ia menemukan jawaban tersebut masih tersimpan.
“Nilai saya D karena tidak mengumpulkan jawaban. Itu satu-satunya mata kuliah yang pernah saya ulang,” kenangnya.
Pada tahun 2008, ia melanjutkan studi S3 di Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga.
Saat itu belum banyak dosen yang berani melanjutkan studi doktoral, dan proses penyusunan disertasinya terbantu dengan hibah riset Kemendikbud.
Proses Jadi Guru Besar Sejak 2019

Karier jabatan fungsional Prof Sigit dimulai dari Asisten Ahli (AA), kemudian naik menjadi Lektor tahun 2007.
Ia mengaku pernah ditawari untuk langsung meloncat ke Lektor Kepala hanya dengan tambahan satu artikel jurnal, namun saat itu ia memilih tidak mengambil kesempatan tersebut.
“Sebenarnya cukup tambah satu artikel saja sudah bisa naik. Tapi saya tidak ambil,” tuturnya.
Ia baru resmi menjadi Lektor Kepala pada tahun 2017 setelah melalui proses hampir dua tahun akibat peralihan sistem manual ke sistem daring.
Bapak tiga anak itu bahkan harus datang langsung ke Jakarta agar SK dapat terbit.
Proses pengajuan Guru Besar mulai ia lakukan sejak 2019.
“Tahun 2020 pengajuannya belum lolos karena artikel dinilai kurang korespondensi,” ujarnya.
Hal itu terulang di tahun 2022 karena kualitas jurnal dinilai belum memenuhi standar.
Ia kemudian mencari jurnal Scopus yang memenuhi syarat, termasuk jurnal Environmental Economics yang memerlukan biaya publikasi cukup besar dan dibantu oleh Umsida.
Pada Mei 2025, artikelnya terbit di Journal of Islamic Accounting and Recent Business kategori Q1 dengan sistem close access tanpa biaya publikasi.
Namun tantangan belum selesai.
Tahun 2024 muncul kendala sinkronisasi data antara MyASN dan SISTER.
Secara faktual pangkatnya sudah 4A, tetapi di sistem SISTER masih tercatat 3D.
Prof Sigit harus kembali mengurus ke Jakarta hingga data tersebut sinkron.
Pada Januari 2025, namanya direkomendasikan untuk mengikuti proses Guru Besar.
Gelombang pertama terlewat, dan ia kembali mengajukan pada gelombang kedua pada Agustus 2025.
Setelah revisi administrasi, pada 14 Oktober 2025 sistem SISTER merekomendasikannya sebagai Guru Besar.
SK resmi terbit per 1 Oktober 2025 dan sertifikat kompetensi menyusul pada 2 Februari 2026.
Target Guru Besar Sebelum Usia 50 Tahun

Prof Sigit mengungkapkan bahwa sejak usia 35 tahun ia telah menargetkan menjadi profesor sebelum usia 40 tahun.
Target tersebut belum tercapai karena berbagai dinamika, salah satunya saat menjabat Wakil Rektor II.
Ia kemudian menetapkan target baru sebelum usia 50 tahun.
“Alhamdulillah, SK Guru Besar terbit pada 1 Oktober 2025, saat saya berusia 49 tahun 11 bulan.” ujarnya.
Prof Sigit juga mengenang masa muda ketika hampir bekerja di perusahaan emas PT Itamaraya.
Ia gagal di tahap akhir seleksi, dan beberapa tahun kemudian perusahaan tersebut bangkrut.
Ia memaknainya sebagai hikmah bahwa jalan hidupnya memang berada di dunia kampus.
“Ternyata dunia saya adalah dunia akademisi perguruan tinggi,” katanya.
Lihat juga: Dari Kimia Hingga Jadi Guru Besar Manajemen di Umsida, Ini Kisah Prof Sriyono
Bagi Prof Sigit, gelar Guru Besar bukan sekadar capaian pribadi, melainkan amanah untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu intellectual capital dan analisis keuangan, serta memperkuat reputasi akademik di lingkungan pendidikan tinggi.(Romadhona)



















