Umsida.ac.id – “Coba jangan bayangkan gajah naik sepeda.”
Kalimat itu spontan memancing senyum peserta Tausiyah Ramadan yang digelar Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Namun di balik ilustrasi sederhana tersebut, dr Rif’at Nurfahri SpM, Kaprodi Pendidikan Profesi Dokter Umsida, sedang menjelaskan sesuatu yang jauh lebih dalam, bagaimana pikiran manusia bekerja, dan bagaimana Ramadan melatih kita mengendalikan respon sebelum bereaksi.
Lihat juga: Penentuan Hilal dan Dinamika Keilmuan Islam di Nusantara
Dalam tausiyah bertema “Ramadan: Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis”, dr Rif’at tidak memulai dengan dalil panjang atau teori berat.
Ia justru mengajak peserta memahami puasa melalui pendekatan keilmuan yang ia tekuni sebagai dokter mata.
Ramadan dan Cahaya yang Masuk ke Hati
Sebagai dokter mata, dr Rif’at menjelaskan bahwa proses melihat bukan sekadar membuka mata.
Cahaya dari luar masuk melalui visual axis, diterjemahkan menjadi sinyal biokimiawi, lalu dipersepsikan di otak hingga menjadi kesadaran.
“Supaya kita bisa melihat dengan jelas, jalur cahaya itu harus jernih. Tidak boleh ada yang menghalangi, agar bisa diartikan tubuh kita,” jelasnya.
Ia kemudian menganalogikan hidayah sebagai cahaya.
Jika hati penuh ego, amarah, dan distraksi duniawi, maka cahaya itu tidak akan sampai dengan utuh.
Ramadan, menurutnya, adalah proses menjernihkan jalur tersebut.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa adalah proses pemurnian diri.
Ketika seseorang mampu menahan hal yang halal, makan dan minum, maka secara logika ia sedang melatih diri untuk lebih mudah meninggalkan yang haram.
“Puasa itu ibadah yang hanya kita dan Allah yang tahu. Tidak ada skor dari manusia, tidak ada yang menilai. Semua langsung kepada Allah,” ungkapnya.
Dari situlah kita tahu bagaimana respon tubuh terhadap apa yang dilarang dan dibatasi saat puasa. Bukan karena diawasi orang lain, tetapi karena kesadaran batin.
Self-Mastery dan Mengurangi Ego
Menurut dr Rif’at, inti Ramadan adalah self-mastery, yaitu kemampuan mengendalikan diri sebelum bereaksi terhadap stimulus.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung spontan.
Ketika dipuji, kita senang. Namun ketika disakiti, kita marah.
Ketika tertekan, emosi mudah tersulut hingga mengeluarkan sumpah serapah untuk orang lain.
Sebelas bulan penuh, respons itu berjalan alamiah, tidak lepas dari karakter masing-masing.
Oleh karena itu, Ramadan datang sebagai ruang jeda.
“Saat puasa, Allah membekali kita dengan kemampuan untuk mengontrol respon yang dilakukan. Kita diberi sanctuary, ruang untuk tidak serta-merta merespons semua stimulus,” katanya.
Dengan membatasi makan dan minum, tubuh belajar mengontrol dorongan paling dasar.
Dari sana, kontrol itu meluas ke ranah yang lebih sulit, seperti menjaga lisan, mengendalikan amarah, membatasi penglihatan, dan menyaring apa yang masuk ke dalam pikiran.
Di era digital, menurutnya, penglihatan menjadi pintu paling dominan.
Algoritma media sosial, berita bombastis, dan konten provokatif dengan mudah membanjiri kesadaran kita.
Karena itu, ia mengajak untuk melakukan “detoksifikasi digital” selama Ramadan.
“Mari kita batasi screen time. Lepas sejenak dari kebiasaan lama. Fokus pada ibadah,” pesannya.
Bahkan dengan nada ringan ia bercanda kepada para pimpinan dan dosen agar tidak membebani tugas-tugas administratif di jam-jam ibadah utama Ramadan.
Pesan itu bukan sekadar humor, tetapi pengingat bahwa bulan ini adalah momen prioritas spiritual.
Sehat Itu Bonus, Bukan Tujuan

Dalam perspektif medis, dr Rif’at tidak menampik bahwa puasa memiliki manfaat kesehatan.
Ketika asupan kalori dibatasi, tubuh akan mengambil cadangan energi dari glikogen dan lemak. Kolesterol dapat menurun, metabolisme menjadi lebih terkontrol.
“Secara penelitian ilmiah, puasa memang menyehatkan,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan bahwa kesehatan bukan tujuan utama berpuasa.
Jika niat bergeser hanya demi diet atau detoks tubuh, maka ruh ibadahnya berkurang.
“Kita harus luruskan niat kita. Tujuan puasa adalah ibadah kepada Allah. Sedangkan sehat itu adalah bonus, bukan tujuan utama kita,” jelasnya.
Ia juga realistis. Tidak semua orang otomatis menjadi sehat saat puasa.
Ada yang sakit, ada yang tidak mampu menjalankan karena kondisi medis.
Karena itu Islam memberi keringanan.
Puasa bukan tentang memaksakan diri, tetapi tentang kesadaran dan ketakwaan.
“Kita berupaya untuk jadi manusia yang utuh. Ramadan mengajarkan bahwa kesehatan bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tapi tentang kehadiran vitalitas dan tujuan hidup,” tutur dr Rif’at.
God Spot dan Kembali ke Fitrah

Di bagian yang lebih reflektif, dr Rif’at menyebut istilah God Spot—titik dalam diri manusia tempat makna kehidupan bersemayam.
Ramadan adalah momen kembali ke titik itu.
Sering kali manusia terjebak dalam ambisi duniawi seperti jabatan, target akademik, ranking universitas, atau capaian administratif. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir.
“Apa tujuan kita sebenarnya? Apakah sekadar memenuhi kuota? Atau ada tujuan yang lebih tinggi?” tanyanya.
Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, kebahagiaan tidak sepenuhnya bergantung pada respon eksternal.
Ia menyinggung konsep stoikisme yang memisahkan kebahagiaan dari stimulus luar.
Dalam Islam, prinsip itu diwujudkan melalui keikhlasan dan tawakal.
Ketika kebahagiaan bersumber dari kesadaran sebagai hamba Allah, maka tekanan dunia tidak lagi menjadi pusat kendali hidup.
Dari sana lahir energi positif. Seseorang menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih bermanfaat.
“Yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya menegaskan.
Ramadan sebagai Latihan Kepemimpinan Moral
Di akhir tausiyah, dr. Rif’at mengaitkan Ramadan dengan kehidupan sosial dan kepemimpinan.
Ia membayangkan jika seluruh nilai puasa benar-benar diinternalisasi, maka manipulasi, egoisme, dan konflik akan berkurang.
Puasa melatih empati terhadap kaum duafa.
Melatih kejujuran sebagai pondasi. Melatih pengendalian diri sebelum mengambil keputusan.
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi proses continuous improvement.
Seperti shalat lima waktu yang terus mengingatkan, puasa juga menjadi pengingat tahunan untuk evaluasi menyeluruh.
“Jangan pernah bosan menjadi orang baik,” pesannya menutup tausiyah.
Karena pada akhirnya, kesehatan fisik dan psikis yang dibahas dalam tema tausiyah ini bermuara pada satu hal, yakni kembali ke fitrah.
Menjadi manusia yang utuh. Sehat bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi memiliki makna hidup.
Ramadan, menurut dr Rif’at, adalah ruang untuk itu.
Dan seperti jalur cahaya yang harus jernih agar bisa melihat dengan jelas, hati pun harus dibersihkan agar mampu menerima petunjuk.
Lihat juga: 3 Tingkatan Puasa Menurut Imam Al Ghazali
Di situlah puasa menemukan hikmahnya.(Romadhona)



















