gaji dan kesejahteraan guru (Pexels)

Pakar Umsida Soal Gaji Guru: Pemerintah Melihat Pendidikan sebagai Cost Center, Bukan Investment

Umsida.ac.id – Isu kesejahteraan guru tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan biasa.

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menilai kondisi ini mencerminkan masalah struktural yang dapat berdampak luas terhadap kualitas pendidikan nasional.

Lihat juga: Gaji Guru Lebih Rendah dari Pekerja Logistik, Pakar Umsida Sebut Kebijakan Pincang

Hal tersebut disampaikan oleh Dr Kemil Wachidah MPd, yang berpendapat bahwa di balik peran strategis guru dalam membangun kualitas sumber daya manusia, tapi di lapangan menunjukkan bahwa profesi ini masih belum mendapatkan perhatian yang sepadan dari negara.

Politik dan Gaji yang Tidak Berpihak
gaji dan kesejahteraan guru (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Setidaknya ada tiga alasan ia berpendapat seperti itu.

  • Menurutnya, pemerintah masih memandang pendidikan sebagai beban pengeluaran, bukan sebagai investasi jangka panjang.

“Jumlah guru di Indonesia sangat besar, sekitar tiga juta lebih. Kenaikan gaji sedikit saja dianggap membebani APBN dan APBD secara masif,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa dari sinilah masalahnya, pemerintah seringkali melihat pendidikan sebagai Cost Center (beban pengeluaran), bukan Investment (investasi).

  • Dr Kemil juga menjelaskan soal kebijakan otonomi daerah terhadap kesejahteraan guru, khususnya guru honorer.

Sejak pengelolaan pendidikan dasar dan menengah diserahkan kepada pemerintah daerah, banyak daerah yang tidak memiliki kemampuan fiskal memadai.

“Banyak APBD habis untuk belanja pegawai birokrasi. Akhirnya, guru honorer dibayar dari sisa anggaran, bahkan hanya mengandalkan dana BOS. Ini jelas tidak adil,” tegasnya.

  • Selain itu, posisi tawar guru dinilai masih lemah secara politik.

“Guru sering dimanfaatkan untuk suara dalam Pilkada, namun ditinggalkan setelah pejabat terpilih. Organisasi profesi guru terkadang terpecah, sehingga bargaining power di hadapan pembuat kebijakan lemah,” jelas Dr Kemil.

Jadi Ancaman Krisis Pendidikan Jangka Panjang

Menurut Dr Kemil, persoalan gaji guru yang tidak kunjung membaik akan membawa dampak serius bagi masa depan pendidikan Indonesia. 

Ia memperkirakan adanya potensi krisis mutu pendidikan yang permanen jika kondisi ini terus dibiarkan.

“Kita akan menghadapi “Lost Generation” dan Krisis Mutu Pendidikan Permanen,” jelas doktor lulusan Pendidikan Dasar Universitas Pendidikan Indonesia itu.

Menurutnya, visi Indonesia Emas 2045 mustahil tercapai jika pondasinya (pendidikan) keropos. 

Ia menjelaskan bahwa bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru bisa berubah menjadi bencana demografi apabila tidak dibarengi dengan kualitas pendidikan yang baik. 

Lihat Juga :  HIMPAUDI Jatim Jalin Kerja Sama dengan Umsida, Tingkatkan Kualifikasi Guru PAUD

Tanpa guru yang sejahtera dan berkualitas, peserta didik tidak akan mendapatkan pendampingan optimal.

Dampak lain yang tidak kalah serius adalah perubahan persepsi publik terhadap profesi guru. 

Dr Kemil menilai adanya devaluasi sosial terhadap guru, terutama guru non-ASN dan honorer.

“Masyarakat mulai melihat guru sebagai profesi kelas dua. Istilah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ justru sering dipakai untuk membenarkan kondisi mereka yang dibayar tidak layak,” ungkapnya.

Akibatnya, banyak orang tua yang enggan mendorong anak-anak berprestasi untuk menempuh pendidikan keguruan karena dianggap tidak menjanjikan masa depan ekonomi yang baik.

Agar Guru Terjamin dan Menaikkan Minat Studi Pendidikan

pakar umsida soal gaji guru

Untuk mengembalikan marwah profesi dan menarik minat anak muda terbaik masuk LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), Dr Kemil menyarankan agar pemerintah melakukan langkah berani.

  • Solusi pertama yang ditawarkan adalah sentralisasi penggajian guru. 

Dr Kemil menilai urusan gaji guru seharusnya ditarik kembali ke pemerintah pusat.

“Gaji guru harus ditanggung APBN dan dibayar langsung oleh pusat. Ini penting untuk mencegah ketimpangan daerah dan praktik penyunatan anggaran,” jelasnya.

  • Ia juga menegaskan perlunya evaluasi total terhadap skema PPPK paruh waktu. 

“Jika mereka bekerja profesional, bayar sebagai profesional penuh. Jangan ciptakan kasta “ASN rasa honorer”,” tandas dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar itu.

  • Dr Kemil mendorong penerapan single salary system khusus guru dengan standar yang layak. 

Ia menilai gaji guru idealnya berada di atas upah minimum, mengingat beban kerja dan kualifikasi akademik yang dimiliki.

  • Terakhir, ia menekankan pentingnya penegakan hukum bagi pihak-pihak yang masih membayar guru di bawah standar minimum.

Kesimpulannya, menurut Dr Kemil, perbaikan kesejahteraan guru tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Narasi lama tentang pengabdian harus digantikan dengan pengakuan profesional yang nyata.

Lihat juga: Tekankan Pendidikan, Ini Kata Dosen Umsida Tentang Guru Tampar Siswa Karena Merokok

“Guru bukan sekadar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi pahlawan yang harus sejahtera dan profesional. Tanpa perbaikan struktural pada gaji guru, pendidikan Indonesia hanya akan jalan di tempat dan tertinggal zaman,” pungkasnya. (Romadhona)

Berita Terkini

orang tua wali wisudawan (3)
Cerita Orang Tua di Balik Perjuangan Wisudawan Umsida hingga Lulus
October 27, 2026By
wisudawan berprestasi umsida (2)
Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian
October 26, 2026By
pentingnya menjaga ijazah (4)
Dirjen Kemdiktisaintek: Ijazah Itu Surat Tugas!
October 24, 2026By
wisudawan umsida
Umsida Kukuhkan 1.117 Wisudawan Berdaya Saing Global
October 24, 2026By
renstra Pusat Studi dan PUI Umsida (7)_11zon
Umsida Perkuat Pusat Studi dan PUI dengan Mengeksplorasi International Funding
October 21, 2026By
pengelolaan tracer study (5)
Belajar Pengelolaan Tracer Study, UMG Studi banding ke Umsida
October 20, 2026By
program peduli lingkungan (2)
PLP 2 Umsida Ajak Siswa Peduli Lingkungan Lewat Program Melati
October 19, 2026By
mahasiswa belajar ibadah 2
Tak Hanya Karakter, Umsida Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Ibadah Lewat PKMU
October 18, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By
ilmu jadi amanah (6)
Ketika Ilmu Menjadi Sebuah Amanah
October 23, 2026By
kebijaksanaan atas gelar
Melampaui Gelar, Menuju Kebijaksanaan: Tanggung Jawab Intelektual dalam Membangun Peradaban
October 22, 2026By
olah sampah platik kemasan (3)
Gelar Adiwiyata, PLP 2 Umsida Ajari Ubah Sampah Plastik Kemasan Jadi Bunga Hias
October 14, 2026By