Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali melaksanakan Pembinaan Kehidupan Mahasiswa Umsida (PKMU) 2026 Ahad (18/10).
Kegiatan merupakan pekan kedua pelaksanaan PKMU yang membahas tentang ibadah, khususnya mengenai bersuci dan salat sebagai bagian dari pembinaan kehidupan keislaman mahasiswa.
Lihat juga: PKMU 2026-2027 Dimulai, Usung Konsep Baru
Salah satu dosen AIK yang mengisi PKMU, Dr Puspita Handayani SAg MPdI mengajak mahasiswa memahami kembali hal-hal mendasar dalam ibadah, mulai dari bersuci, najis dan hadas, hingga tata cara wudu dan salat.
Mengenal Dasar Bersuci dalam Ibadah

Salah satu pembahasan dalam materi adalah mengenai bersuci (thaharah). Dr Puspita mengemas materi ini dengan kreatif melalui permainan kuis interaktif.
Di sini mahasiswa diberikan pemahaman mengenai kondisi air yang digunakan untuk bersuci dengan memperhatikan tiga aspek, yakni bau, warna, dan rasa.
Pembahasan berlanjut pada perbedaan antara najis dan hadas, jenis-jenis najis, hal-hal yang dapat digunakan untuk bersuci, serta batasan dalam pelaksanaan thaharah.
Dr Puspita juga memberikan sejumlah contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari untuk membantu mahasiswa memahami persoalan kesucian dalam ibadah.
Menurutnya, persoalan halal dan najis tidak selalu dapat diputuskan hanya berdasarkan dugaan, tetapi perlu melihat proses dan perubahan yang terjadi pada bahan tersebut.
“Jadi diperlukan pemahaman yang tepat agar tidak terburu-buru menyimpulkan suatu perkara sebagai najis atau tidak, misalnya air kencing bayi yang masih minum ASI saja, itu masih termasuk najis ringan,” terangnya.
Memahami Najis dan Hadas dalam Kehidupan Sehari-hari
Materi PKMU juga membahas perbedaan najis dan hadas serta cara mensucikannya.
Mahasiswa diajak memahami bahwa keduanya memiliki karakteristik dan cara penyucian yang berbeda.
“Najis itu adalah bendanya, misal kotoran. kalau hadas itu kondisi orangnya. Cara bersuci dari hadas dengan cara wudhu dan mandi wajib, kalau najis tinggal dibersihkan saja najisnya,” ujar Dr Puspita.
Dr Puspita turut menyinggung persoalan najis yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Di bab bersuci ini, Dr Puspita turut membahas hal yang berkaitan dengan penggunaan hewan, termasuk persoalan anjing.
“Boleh kita memelihara anjing, seperti untuk menjaga rumah atau keperluan berburu. Namun tetap perlu memahami batasan terkait najis dan cara mensucikannya,” tuturnya.
Pada bagian berikutnya, Dr. Puspita menjelaskan tata cara wudhu.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan Surat Al-Maidah ayat 6, yang menjadi salah satu dasar dalam pembahasan mengenai wudhu dan bersuci.
Ajak Mahasiswa Tingkatkan Kualitas Salat

Menurut Dr Puspita, pemahaman terhadap ibadah perlu diikuti dengan praktik yang benar dan tertib.
Salat tidak hanya dipandang sebagai kewajiban yang dilakukan secara rutin, tetapi juga menjadi salah satu cerminan keteraturan seseorang dalam kehidupannya.
Di akhir penyampaian materi, Dr Puspita menegaskan pentingnya menjaga kualitas salat dalam kehidupan sehari-hari.
“Seseorang bisa dilihat dari salatnya, jika salatnya benar dan tertib, maka hidupnya pun akan begitu.”
Salah satu peserta PKMU, Muhammad Reyhan Putra Pratama, mengatakan bahwa bab salat ini menjadi evaluasi bagi dirinya untuk meningkatkan kualitas ibadah.
“Saya tidak tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, tapi selama PKMU, saya banyak menemukan ilmu baru, terlebih tentang salat berjamaah yang perlu saya tingkatkan lagi,” tutur mahasiswa Ilmu Komunikasi itu.
Lihat juga: Persiapan PKMU 2026, Bagaimana dengan Mahasiswa Non Muslim?
Bagi Reyhan, materi pada pekan kedua lebih banyak memberikan ruang untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap diri sendiri.
Sementara materi pada pekan sebelumnya mengenai akhlak, menurutnya lebih mudah dikaitkan dengan hubungan bersama orang lain.
Setelah sesi materi, para mahasiswa melakukan mentoring dengan fasilitator masing-masing untuk mengulas dan membina hasi materi.(Dhona)
























