Umsida.ac.id – Kegiatan pelepasan peserta student mobility Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bersama Universitas Sultan Zainal Abidin (UniSZA) Malaysia digelar di ruang rapat Kampus 1 Umsida pada Kamis, (17/1/2026).
Acara ini menjadi penutup rangkaian perkuliahan lintas negara yang telah dijalani mahasiswa UniSZA selama hampir satu bulan di Sidoarjo.
Pelepasan ini dihadiri oleh Wakil Rektor II Umsida, jajaraan Dekanat dan Pimpinan Prodi di lingkungan FAI, serta 6 mahasiswa UniSZA.
Lihat juga: Umsida Lepas 3 Mahasiswa PBI untuk Ikuti Program Student Mobility ke Kazakhstan
Dalam sesi penyampaian kesan, perwakilan mahasiswa UniSZA, Nabil, menyampaikan rasa terima kasih yang emosional kepada dosen-dosen FAI Umsida.
Ia menggambarkan bahwa kehadiran dosen bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga menjadi sosok yang menguatkan saat mereka lelah belajar dan merindu keluarga di tanah air.
“Ustazah hadir bukan sekadar sebagai pensyarah, tetapi sebagai seorang ibu. Masakan Ustazah, perhatian Ustazah, dan doa Ustazah, menjadi pemuat merindu dan pemuat semangat kami di perantauan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa jarak Indonesia dan Malaysia hanya terlihat di peta, sementara ikatan bahasa, iman, dan persaudaraan membuat keduanya terasa dekat.
Menutup sambutan, Nabil menyampaikan pepatah Melayu sebagai ungkapan harapan perjumpaan kembali, “Jika ada sumur di ladang, boleh kami menumpang mandi. Jika ada umur yang panjang, boleh kita berjumpa lagi.”
Ia turut memohon maaf apabila ada tutur kata atau tingkah laku yang kurang berkenan selama mengikuti program, serta berharap kebaikan yang diterima dibalas dengan keberkahan dan kebahagiaan.
Student Mobility jadi Jembatan Persaudaraan Indonesia–Malaysia

Wakil Dekan FAI Umsida, Dr Anita Pujiastutik MPdI, dalam sambutannya mengaku tersentuh mendengar kesan mahasiswa UniSZA.
Ia menyebut program student mobility sudah menjadi agenda kerja sama yang rutin, sekaligus bukti bahwa relasi Indonesia–Malaysia terus dijaga melalui ruang akademik.
Dr Anita juga menyampaikan harapan agar mahasiswa UniSZA membawa pulang pengalaman dan ilmu yang diperoleh selama di Umsida.
Ia mendorong para peserta untuk tidak sekadar menjadikan pengalaman ini sebagai kenangan singkat, tetapi mengamalkan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.
Dr Anita menyampaikan terima kasih kepada dosen-dosen yang terlibat dalam program, seraya menegaskan bahwa semangat persaudaraan diharapkan tetap terjalin dan berlanjut setiap tahun.
Menurutnya, mahasiswa dari Malaysia akan kembali datang di periode berikutnya, sebagaimana FAI Umsida terus berupaya menjaga kesinambungan program.
Di kesempatan yang sama, pihak fakultas juga menekankan bahwa program student mobility bukan hanya memberi manfaat bagi peserta dari Malaysia, namun juga memperkuat jejaring kelembagaan yang berdampak pada perkembangan FAI Umsida.
Sebagai Program Rutin dan Penguatan Kerja Sama

Wakil Rektor II Umsida, Dr Heri Widodo MSi menyampaikan bahwa program student mobility di FAI Umsida bersama UniSZA merupakan program rutin yang layak dipertahankan sebagai agenda tahunan.
Ia berharap kerja sama ini terus dikembangkan, tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga dapat diperluas bagi dosen melalui kolaborasi akademik yang lebih beragam.
Dr Heri juga menekankan pentingnya evaluasi agar program dapat terus membaik.
“Jika selama satu bulan pelaksanaan ada hal yang dirasa kurang pas atau kurang berkenan, kami harap masukan bisa disampaikan kepada pihak fakultas sebagai bahan perbaikan di masa mendatang,” jelasnya.
Dsoen Prodi Akuntansi itu menyampaikan permohonan maaf apabila fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya sesuai ekspektasi peserta, termasuk soal tempat tinggal yang disiapkan.
Meski demikian, ia berharap para mahasiswa tetap membawa kesan baik dan selamat dalam perjalanan pulang, sekaligus menitip salam untuk keluarga dan rekan di UniSZA.
Student Mobility Tinggalkan Kesan yang Baik
Kesan dan pengalaman mahasiswa UniSZA juga disampaikan melalui cerita mengenai pembelajaran lintas budaya dan metode kuliah yang dirasakan berbeda.
Salah satu mahasiswa UniSZA, Haziq menyebut selama di Sidoarjo mereka mendapatkan “pendedahan antarabangsa dan pembelajaran merentas budaya.”
Ia mengakui bahwa meskipun Indonesia dan Malaysia serumpun, tetap ada perbedaan yang membuat pengalaman ini terasa bermakna.
Haziq juga menekankan pendekatan pembelajaran yang lebih holistik.
Menurutnya, perkuliahan tidak hanya berisi materi slide dan tugas, tetapi juga praktik yang mendorong keterampilan berbicara dan presentasi.
Ia menceritakan bahwa dosen memberi tugas presentasi berulang kali, yang awalnya terasa berat namun justru membuat mereka berkembang.
Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian yang tidak tertulis dalam silabus, tetapi “terpahat kuat” dalam ingatan peserta.
Lihat juga: Pelepasan Mahasiswa International Student Mobility Umsida dan UniSZA, Siap Exchange 1 Semester
Menutup rangkaian acara, panitia mempersilakan mahasiswa maju satu per satu untuk proses penyerahan secara simbolis bersama pimpinan fakultas.
Penulis: Romadhona S.



















