Child grooming psikologi

Pakar Psikologi Umsida: Kini Banyak Orang Aware Tentang Child Grooming Karena Viralnya Broken Strings

Umsida.ac.id – Ramainya pembahasan buku memoir Broken Strings karya Aurelie Moeremans membuat isu child grooming kembali dikomentari publik. 

Banyak pembaca mengaku baru menyadari bahwa pengalaman yang pernah mereka alami ternyata termasuk pola grooming. 

Lihat juga: Menelisik Child Grooming yang Masih Luput dari Perlindungan Hukum

Pakar psikologi keluarga, Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog, menilai tren ini sebagai sinyal positif karena dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat, sekaligus membuka jalan bagi korban untuk mencari pertolongan yang tepat.

Menurut Zaki, semakin banyak orang membicarakan kasus seperti ini, semakin besar pula peluang orang lain menjadi “aware” bahwa grooming itu nyata dan bisa terjadi di sekitar. 

Ia melihat respons pembaca terhadap kisah di Broken Strings sangat kuat, mulai dari “oh aku pernah berada di situasi begini” sampai “oh ternyata ini namanya grooming” dan “oh ternyata aku adalah korban”.

Child Grooming sebagai Manipulasi Psikologis yang Sering Terlihat “Baik”

Zaki menekankan bahwa child grooming pada dasarnya adalah manipulasi yang kerap tidak disadari sejak awal. 

“Seringkali child grooming ini kan manipulasi, ini seringkali tidak disadari bahwa kita adalah korban,” ujarnya. 

Karena berhasil dimanipulasi, korban justru bisa merasa dirinya “jahat”, “tidak bisa memahami pasangannya”, dan menyalahkan diri sendiri.

Ia menjelaskan bahwa pelaku grooming cenderung dominan dan membutuhkan target yang lebih inferior atau rendah diri agar mudah dikontrol. 

Namun, pelaku tidak akan langsung menunjukkan perilaku buruknya. 

“Tidak mungkin pelaku itu langsung menunjukkan perilakunya, tapi dia harus mencari targetnya dulu,” jelas dosen lulusan magister Profesi Psikologi Unair itu.

Pelaku biasanya mendekat dengan cara yang tampak meyakinkan: memberi hadiah, menunjukkan diri sebagai sosok “wise”, “nice”, atau “pahlawan penolong” yang “selalu ada”. 

Strategi ini membuat hubungan tampak seperti “green flag”, padahal berujung pada kontrol dan manipulasi.

Zaki menambahkan bahwa child grooming tidak hanya terjadi pada anak-anak belia. 

Manurutnya, orang dewasa pun bisa menjadi korban karena polanya mirip dengan kekerasan dalam pacaran, toxic relationship, hingga KDRT. 

Menurutnya, tipe korban yang rentan sering memiliki harga diri rendah, merasa tidak berharga, dan mudah diarahkan. 

Dalam kondisi itu, ketika pelaku mulai mengatur, mengontrol, dan memanipulasi, korban cenderung “panut” karena sudah tidak percaya pada diri sendiri.

Dampak Child Grooming Bisa Panjang dan Butuh Penanganan Tepat
child grooming
Ilustrasi: Pexels

Di sisi lain, Zaki mengaku sedih karena child grooming bisa meninggalkan trauma besar. 

Ia mengingatkan bahwa tanpa treatment yang tepat, korban akan kesulitan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat. 

“Kasus-kasus seperti ini akan mengakibatkan trauma yang luar biasa dan tanpa treatment yang tepat saya rasa orang akan kesulitan juga untuk bisa bertumbuh,” tuturnya.

Ibu dua anak itu memaparkan beberapa dampak yang kerap muncul: harga diri semakin rendah, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah yang menumpuk, hingga kesulitan mempercayai orang lain. 

Menurutnya, korban bisa memandang dunia sebagai tempat yang “jahat” karena pengalaman buruk itu sering kali berlapis.

Mislanya, korban berasal dari keluarga yang kurang hangat atau relasi kuasa yang sangat timpang, lalu bertemu pelaku yang juga dominan dan mengontrol.

Lihat Juga :  Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida

Zaki menilai faktor keluarga berperan besar membentuk kerentanan. 

Anak yang tumbuh dengan minim perhatian, komunikasi, dan kehangatan bisa merasa kesepian dan tidak dicintai, sehingga mudah menerima “perhatian” dari pihak luar tanpa mampu menilai risikonya. 

Ia juga menyoroti pola asuh otoriter yang menekankan “kamu harus nurut” karena bisa membiasakan anak tunduk pada sosok dominan, lalu terbawa ketika berhadapan dengan pelaku.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya lingkungan terdekat untuk peka pada perubahan perilaku korban. 

Ia menyebut tanda-tandanya bisa berupa perubahan suasana hati, murung, cemas, menarik diri, berkurangnya interaksi sosial, hingga kebiasaan menyimpan rahasia. 

Menurutnya, orang tua adalah pengamat terbaik bagi anak karena lebih sering bersama anak di rumah. 

Jika ada perubahan pola keseharian, orang tua perlu segera mencari tahu.

Pencegahan Child Grooming Dimulai dari Keluarga, Self Love, dan Batasan Relasi
Child grooming psikologi
Ilustrasi: Pexels

Zaki menegaskan tentang pencegahan child grooming yang harus dimulai dari membangun hubungan keluarga yang hangat dan komunikasi yang terbuka. 

Ia menyarankan orang tua mengurangi pola relasi yang terlalu “saklek” dan timpang, agar anak merasa dipercaya, aman, dan nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.

Ia juga menekankan pentingnya mengajarkan boundaries atau batasan sejak dini. 

Anak perlu memahami bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu kenyamanan dan keamanan dirinya, termasuk menyentuh tubuh tanpa izin. 

Zaki menyebut keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan di rumah, apresiasi pada proses (bukan hanya hasil), serta penerimaan tanpa syarat dapat membantu membangun harga diri anak.

Ketika seseorang sudah menyadari dirinya korban, Zaki menilai itu pertanda baik karena korban mulai “aware” dan sudah membutuhkan pertolongan. 

Ia menyarankan langkah utama adalah segera keluar dari relasi yang toxic dan mencari bantuan. 

Namun ia mengakui banyak korban kesulitan keluar karena merasa “aku tidak bisa tanpa dia” atau “aku yang bersalah”. 

Karena itu, dukungan orang lain menjadi penting untuk menguatkan keputusan korban.

Untuk remaja dan dewasa, Zaki menekankan perilaku self love. 

“Kita harus punya rasa cinta pada diri sendiri, kita perlu baik dengan diri sendiri,” ujarnya. 

Menurutnya, self love membuat seseorang lebih peka saat ada hal yang mengganggu keamanan dan kenyamanan. 

Jika keluarga tidak bisa menjadi tempat aman, ia menyarankan mencari support system yang sehat, seperti teman atau lingkungan yang membuat seseorang merasa diterima dan bisa bertumbuh.

Di akhir, Zaki juga menyinggung konteks mahasiswa yang mulai membangun relasi lebih serius. 

Ia mengingatkan bahwa hubungan tidak cukup dirayakan hanya lewat rasa suka dan romantisasi.

Lihat juga: Fenomena Fatherless dan Father Hunger di Indonesia, Ini Dampak Psikologis dan Tantangan Peran Ayah

Menurutnya, mengenali karakter pasangan, latar keluarga, serta pola perilaku dalam menghadapi masalah adalah hal penting agar relasi tidak jatuh pada dinamika dominasi dan kontrol yang membahayakan.

Penulis: Romadhona S.

Berita Terkini

pemeriksaan tumbuh kembang anak (3)
Perhatikan Tumbuh Kembang Anak, Mahasiswa Umsida Kunjungi TK ABA 1 Candi
November 4, 2026By
parenting guru dan ortu (3)
Perkuat Pola Parenting, FPSI Umsida Gandeng IGRA Sidoarjo
November 4, 2026By
um banjarmasin kunjunfi fkkg umsida (8)
Dari Kurikulum hingga Laboratorium, UM Banjarmasin Pelajari Pengelolaan FK Umsida
November 3, 2026By
umsida di job fair 2026 (2)
Hadir di Job Fair Sidoarjo 2026, Umsida Buka Layanan Kesehatan dan Konseling Gratis
November 3, 2026By
UKM Paduan Suara Umsida (2)
Sambut Kader Baru, UKM Paduan Suara Umsida Ajarkan Dasar-Dasar Musik
November 2, 2026By
kerja sama umsida dan ikapi
Umsida dan IKAPI Jatim Sinergikan Potensi Akademik dan Penerbitan
October 30, 2026By
pkmu 2026
Tak Seseram yang Dibayangkan, Ini Cerita Mahasiswa Umsida Ikuti PKMU
October 30, 2026By
pelantikan bem dan dpm
Umsida Lantik BEM dan DPM 2026-2027, Siap Wujudkan Gerakan Progresif
October 29, 2026By

Riset & Inovasi

inovasi smartsea (4)
Ciptakan Smartsea, Mahasiswa Umsida Bantu Siswa Lancar Membaca
October 23, 2026By
media pembelajarn spin wheel
PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD
October 22, 2026By
sosialisasi bullying (3)
Cegah Bullying Sejak Dini, PLP 2 Umsida Gelar Sosialisasi untuk Siswa SD
October 16, 2026By
Media Papan Interaktif Metamorfosis (4)
Buat Media Papan Interaktif Metamorfosis, PLP 2 Umsida Dukung Pembelajaran Siswa
October 15, 2026By
plp ajari matematika
Belajar Matematika dengan Cara Berbeda Bersama PLP 2 Umsida
October 14, 2026By

Prestasi

wisudawan dari keluarga katolik yang taat (2)
Ketika Kakaknya Biarawati, Adiknya Jadi Wisudawan Berprestasi
October 26, 2026By
wisudawan terbaik umsida (5)
Wisudawan Terbaik Umsida Ungkap Kunci Raih IPK Tinggi dan Prestasi
October 25, 2026By
ranking appliededu umsida (3)
Umsida Raih Posisi 37 AppliedEdu Private University Ranking ASEAN 2027
October 21, 2026By
Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By

Opini

mimbar organisasi mahasiswa
Organisasi Mahasiswa Umsida Dapat Apresiasi dan Ruang Aspirasi Terbuka
October 29, 2026By
sistem tidak naik kelas (2)
Pakar Umsida Soal Kebijakan Tidak Naik Kelas: Rawan Putus Sekolah
October 28, 2026By
pendidikan muhammadiyah
Prof Syafiq: Pendidikan di Umsida Terus Bergerak dan Berdampak
October 28, 2026By
4 pilar pendidikan (7)
4 Pilar Pendidikan di Era Generasi Cemas
October 27, 2026By
pengalamana wisudawan Katolik lulus dari Umsida (9)
Dari Flores, Pengalaman Wisudawan Katolik Tuntaskan Kuliah dengan Beasiswa Penuh di Umsida
October 25, 2026By