zakat dan bank

Belajar dari Bank: Mengapa Zakat Harus Dikelola Lebih Cerdas dan Berkelanjutan?

Umsida.ac.id  – Selama ini kita terbiasa melihat zakat sebagai amal kebaikan yang selesai ketika dana disalurkan. 

Ada yang menerima, ada yang memberi, lalu kita merasa lega karena telah menunaikan kewajiban. 

Lihat juga: Belajar dari Bank: Mengapa Lembaga Zakat Perlu Berpikir Retail, Korporat, dan Investasi Sosial?

Cara pandang ini tentu tidak salah, tetapi semakin hari terasa tidak cukup. 

Kemiskinan tetap berulang, bantuan terus dibagikan, dan mustahik yang sama sering muncul kembali dalam daftar penerima.

Di saat yang sama, dunia menghadapi krisis yang jauh lebih kompleks: ketimpangan ekonomi yang semakin tajam dan krisis lingkungan yang mengancam keberlanjutan hidup. 

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar, apakah zakat akan terus menjadi solusi jangka pendek, atau berani naik kelas menjadi instrumen perubahan jangka panjang?

Di titik inilah, gagasan agar lembaga zakat belajar dari bank menjadi penting untuk dibicarakan tanpa prasangka, tanpa alergi terhadap istilah modern, dan tentu tanpa kehilangan ruh ibadah.

Belajar dari Bank, Bukan Menjadi Bank

Ketika mendengar kata “bank”, sebagian orang langsung khawatir, “jangan-jangan zakat akan dikomersialisasi, dikejar untung, dan kehilangan nilai keikhlasan.” 

Kekhawatiran ini wajar, tetapi keliru sasaran. Yang perlu dipelajari dari bank bukan orientasi labanya, melainkan cara berpikir dan cara mengelolanya.

Bank mampu bertahan dan dipercaya publik karena mereka serius mengelola:

  • kepercayaan,
  • segmentasi nasabah,
  • manajemen risiko,
  • dan keberlanjutan lembaga.

Ironisnya, empat hal ini justru sering menjadi titik lemah lembaga zakat.

Kita kuat dalam niat, tetapi lemah dalam sistem.

Kuat dalam semangat, tetapi sering rapuh dalam pengelolaan.

Segmentasi: Mengakhiri Cara Seragam

Perbankan tidak pernah memperlakukan semua nasabah secara sama. 

Nasabah individu dilayani dengan pendekatan personal, nasabah korporat dilayani dengan standar profesional dan pelaporan ketat, sementara investasi dikelola dengan analisis risiko yang serius.

Bandingkan dengan praktik lembaga zakat. 

Zakat individu, zakat korporat, dan zakat produktif sering kali dikelola oleh tim yang sama, dengan logika yang sama, bahkan dengan laporan yang hampir seragam. 

Akibatnya, potensi besar zakat tidak tergarap optimal.

Padahal, zakat individu membutuhkan sentuhan kepercayaan dan kedekatan. 

Zakat korporat menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keterkaitan dengan agenda ESG (Environmental, Social, and Governance) dan tanggung jawab sosial perusahaan. 

Sementara zakat produktif seharusnya dikelola sebagai investasi sosial yang penuh perhitungan, bukan sekadar bantuan modal.

Tanpa segmentasi, lembaga zakat bekerja keras tetapi sering kelelahan. Dengan segmentasi, lembaga zakat bisa bekerja lebih fokus dan berdampak.

Zakat Produktif: Jangan Lagi Setengah Hati

Zakat produktif sering dipuja sebagai solusi, tetapi dalam praktiknya kerap dikelola setengah hati. 

Modal diberikan, pelatihan singkat dilakukan, lalu mustahik dilepas begitu saja. 

Ketika usaha gagal, kegagalan dianggap wajar, tanpa evaluasi serius.

Inilah bedanya hibah dengan investasi sosial. 

Dalam investasi sosial, dana zakat dipandang sebagai amanah yang harus menghasilkan perubahan nyata. 

Lihat Juga :  Lazismu Umsida Tiada Henti Membangun Generasi Bangsa Indonesia

Ada seleksi mustahik, ada analisis kelayakan usaha, ada pendampingan intensif, dan ada target kemandirian.

Beberapa program Lazismu dan Baznas sejatinya telah bergerak ke arah ini, seperti klaster UMKM, pemberdayaan desa, dan program ekonomi komunitas. 

Namun, tanpa kerangka investasi sosial yang konsisten, program-program tersebut rawan berhenti sebagai proyek tahunan, bukan model perubahan berkelanjutan.

Green Economy: Zakat Tidak Boleh Merusak Masa Depan

zakat dan bank

Ada satu dimensi yang sering luput dibicarakan dalam zakat produktif, yakni lingkungan.

Padahal, krisis iklim adalah masalah nyata yang langsung memukul kelompok miskin. 

Banjir, kekeringan, gagal panen, semuanya berdampak lebih berat bagi mustahik.

Karena itu, zakat produktif tidak boleh mendorong usaha yang merusak alam, boros energi, atau menguras sumber daya. 

Zakat harus berpihak pada green economy: pertanian berkelanjutan, UMKM ramah lingkungan, ekonomi sirkular, dan usaha yang menjaga keseimbangan alam.

Dalam perspektif Islam, ini bukan gagasan asing. 

Menjaga kehidupan dan harta tidak mungkin dilakukan tanpa menjaga lingkungan. 

Zakat yang mengabaikan aspek ekologis justru berpotensi menciptakan kemiskinan baru di masa depan.

SDM: Dari Relawan Baik ke Profesional Berdampak

Trump dan Venezuela (Dr Adji). bank dan zakat

Masalah lain yang jarang dibicarakan secara terbuka adalah SDM lembaga zakat. 

Banyak LAZ masih bergantung pada SDM multitugas: menghimpun, menyalurkan, mendampingi, sekaligus membuat laporan. 

Model ini mungkin cukup untuk lembaga kecil, tetapi akan menjadi penghambat ketika zakat ingin berdampak lebih besar.

Belajar dari bank berarti berani membangun spesialisasi, ada yang fokus menghimpun, ada yang mengelola kemitraan, ada yang mendampingi mustahik, dan ada yang mengukur dampak. 

Semua itu bekerja dalam satu visi, tetapi dengan peran yang jelas.

Di sinilah pentingnya KPI berbasis dampak dan SOP yang disiplin. Bukan untuk membebani SDM, tetapi untuk memastikan bahwa zakat benar-benar bekerja, bukan sekadar berputar.

Saatnya Zakat Naik Kelas

Zakat tidak boleh terjebak dalam romantisme kebaikan masa lalu. 

Tantangan zaman menuntut cara kerja baru. 

Belajar dari bank adalah bagian dari ikhtiar agar zakat tetap relevan, efektif, dan berdaya ubah.

Lazismu, bersama lembaga zakat lainnya, memiliki modal sosial dan kepercayaan publik yang besar. 

Jika dikelola dengan pendekatan yang lebih cerdas, berbasis segmentasi, zakat produktif, dan green economy, maka zakat bisa menjadi instrumen keuangan sosial hijau yang tidak hanya menolong hari ini, tetapi membangun masa depan.

Zakat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan potensi peradaban. 

Lihat juga: Trump, Penangkapan Maduro, dan Kebangkitan Logika Imperialisme Ekonomi Baru

Tinggal satu pertanyaan tersisa, kita ingin zakat tetap berjalan di tempat, atau berani membawanya melangkah lebih jauh?

Penulis: Kumara Adji Kusuma (Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Anggota BP Lazismu Jawa Timur, Pengurus IAEI Jawa Timur dan Umsida)

Berita Terkini

Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By
aset kripto menurut dosen Umsida
Risiko Aset Kripto dan Bitcoin, Dosen Umsida Paparkan dari Perspektif Hukum dan Teknologi
December 15, 2025By
SDGs Center Umsida
SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
November 20, 2025By
Apresiasi sekolah partnership Umsida
Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru
November 20, 2025By
kick off penerimaan mahasiswa baru Umsida 4_11zon
Umsida Resmi Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027
November 19, 2025By
magister ilmu komunikasi Umsida 1
Launching Magister Ilmu Komunikasi Umsida, Pendaftaran Sudah Dibuka!
October 28, 2025By
muhammadiyah
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 2026 pada 18 Februari
October 23, 2025By
S2 Ilmu Komunikasi Umsida
S2 Ilmu Komunikasi Umsida Sudah Buka, Siap Cetak Pakar New Media
October 13, 2025By

Riset & Inovasi

pelatihan koding dasar dan kecerdasan artifisial
Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
February 3, 2026By
Edukasi TOSS TB 2
Edukasi TOSS TB, Upaya FK Umsida Perkuat Kader Kesehatan Desa Ketimang
January 28, 2026By
kolaborasi Umsida dan pondok pesantren
Kolaborasi FKG, FK, dan Fikes Jadi Relawan Kesehatan di Pondok Pesantren Nurul Haromain
January 21, 2026By
ketahanan pangan dan branding umkm
Kembangkan UMKM Lokal, Tim Abdimas Umsida Beri 2 Pelatihan di UMKM Babakaran Raos
January 21, 2026By
pelajar muhammadiyah tanam kelor
Pelajar Muhammadiyah Jadi Kader Peningkatan Kemandirian Lingkungan dan Ekonomi Abdimas Umsida
January 10, 2026By

Prestasi

IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026.
Usai Juara 1, IMEI Team Umsida Akan Buat Mobil Urban
February 5, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 4, 2026By
kejuaraan ju jitsu mahasiswa Umsida
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 20, 2026By
persiapan shell eco marathon
IMEI Umsida Tancap Gas di Shell Eco Marathon Qatar 2026 dengan Improvisasi Kendaraan Listrik
January 19, 2026By
shell eco marathon 2026
Siap Bertanding di Shell Eco Marathon Qatar 2026, Tim IMEI Umsida Resmi Diberangkatkan
January 19, 2026By