Umsida.ac.id – Di balik 1.170 wisudawan yang dikukuhkan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dalam Wisuda ke-48, (24-25/10), ada orang tua yang ikut menunggu momen tersebut dengan rasa bangga.
Wisuda bukan hanya tentang selesainya pendidikan, tetapi juga tentang melihat perubahan anak setelah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Bagi Gunardi, ayah dari Sri Rohimah, perjalanan anaknya selama kuliah di Umsida membawa banyak perubahan.
Lihat juga: Percayakan Pendidikan di Umsida, Fortawa 2026 Perkuat Sinergi Wali Maba
Rohimah yang berasal dari Cilacap harus menjalani kehidupan jauh dari keluarga dan jarang pulang karena kesibukan kuliah serta berbagai kegiatan yang diikutinya.
“Ya merasa senang dan terima kasih atas dosen-dosen yang telah membimbing. Atas nama keluarga senang sekali,” ujar Gunardi.
Menurutnya, perubahan Sri juga terlihat dibandingkan ketika masih duduk di bangku SMA.
Ia melihat anaknya kini memiliki pengalaman dan cara bergaul yang berbeda setelah menempuh pendidikan di Umsida.
Gunardi tidak terlalu khawatir ketika anaknya harus kuliah jauh dari rumah.
Selain keinginan untuk membuat anak lebih mandiri, keberadaan keluarga di sekitar Sidoarjo turut membuatnya merasa lebih tenang.
Harapannya setelah lulus pun sederhana.
“Semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua sekaligus berguna bagi bangsa dan negara,” tuturnya.
Pendidikan Membentuk Kemandirian

Hal serupa dirasakan Ruslan Abdul Gani, orang tua Sinta Salsabilla.
Baginya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan etika, akhlak, dan budi pekerti.
Menurutnya, lingkungan Umsida yang mengedepankan nilai-nilai Islam menjadi salah satu hal yang mendukung harapannya terhadap pendidikan sang anak.
“Selama menjalani kuliah, saya kira dia telah tumbuh menjadi pribadi yang semakin mandiri,” terangnya.
Bagi Ruslan, kelulusan Sinta menjadi awal untuk melanjutkan kehidupan dengan pendidikan dan kondisi ekonomi yang lebih baik.
Perjuangan Anak Sambil Bekerja
Kebanggaan yang sama dirasakan Haryanti, ibunda Ferryan Hari Setyawan.
Ferryan menjalani kuliah sambil bekerja hingga akhirnya mampu menyelesaikan studinya.
“Perasaan saya lulus itu sangat senang, bangga, karena anaknya sambil kerja akhirnya nyampai juga lulus,” ungkap Haryanti.
Baginya, kelulusan tepat waktu menjadi kebahagiaan tersendiri.
Ia juga melihat pengalaman selama kuliah membuat anaknya semakin bertambah pengalaman dan mampu berkembang secara mandiri.
”Saya memang memilihUmsida untuk tempat kuliah anak saya. Selain dekat dari rumah, kuliah di sini cukup terjangkau. Semoga dia dapat terus mengembangkan pekerjaan dan meraih kesuksesan,” harapnya.
Kekhawatiran Ekonomi Orang Tua Sudah Usai

Cerita haru juga datang dari ibunda Lusia Cherlyana Moi.
Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang sayur di daerah Flores, NTT.
Namun, mereka tetap mendukung sang anak untuk berkuliah di di perantauan.
Sang ibu, Mariana Ale, mengaku bangga melihat putrinya menyelesaikan pendidikan jauh dari keluarga.
Kabar bahwa Lusia diterima di Umsida akhirnya membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.
Lihat juga: Prof Jainuri Ungkap Peran Penting Wali Mahasiswa
“Saya bilang, puji Tuhan. Tapi bagaimana perjalanan nanti? Ongkosnya bagaimana? Rumahnya jauh, saya hanya pedagang sayur di Labuan Bajo,” kenang Mariana.
Kini, kekhawatiran itu terbayar dengan kelulusan Lusia. Sang ibu berharap putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang layak dan terus membanggakan keluarga.
“Terima kasih Umsida karena telah menerima putri kami dengan beasiswa penuh, kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghormati, saling mendukung, dan bersama-sama menebarkan kebaikan,” ujarnya.(Dhona)
























