Umsida.ac.id – Kepekaan menangkap momen sederhana yang sarat makna mengantarkan Esti Wulandari, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), meraih Juara II dalam ajang Frames of Silence Photo Competition 2025 yang menjadi bagian dari Festival UKPIM 2025.
Kompetisi fotografi bertema “Berdaya Dalam Bisu” ini diselenggarakan oleh UKM Penalaran Universitas Bhayangkara Surabaya dan diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Lihat juga: Comfis #8 Tampilkan Karya Film Dokumenter dan Pameran Foto Sinematik Mahasiswa Ikom Umsida
Mahasiswi semester 5 ini mengaku bahwa fotografi bukan sekadar aktivitas visual, melainkan medium untuk memaknai peristiwa yang tak terulang.
Ketertarikannya pada fotografi, khususnya fotografi human interest, tumbuh dari kebiasaan mengamati detail kecil dalam kehidupan sehari-hari yang sering luput dari perhatian.
Ambil Fotografi Human Interest dari Momen Sederhana
Bagi Esti, setiap momen memiliki cerita.
Ia menyukai proses memotret kejadian-kejadian sederhana yang terjadi secara alami, karena di situlah nilai emosional dan kemanusiaan hadir dengan jujur.
“Saya suka memotret momen-momen sederhana yang pada dasarnya tidak bisa terulang kembali. Sebuah momen bisa menjadi makna bagi saya,” tuturnya.
Minat tersebut membuatnya semakin peka dalam melihat realitas sekitar.
Fotografi, menurut Esti, melatih kepekaan rasa dan empati, terutama ketika berhadapan dengan subjek manusia dan ruang sosialnya.
Pendekatan ini pula yang membentuk karakter karya-karyanya, yang tidak hanya menonjolkan estetika visual, tetapi juga pesan yang tersirat.
Ia menyadari bahwa fotografi human interest menuntut kejelian membaca situasi.
Setiap elemen dalam bingkai foto, gestur, cahaya, hingga latar, memiliki peran dalam menyampaikan cerita.
Dari proses inilah Esti merasa terus belajar, baik secara teknis maupun emosional, dalam memahami manusia dan lingkungannya.
Potret Foto yang Sarat Makna

Keikutsertaan Esti dalam Frames of Silence Photo Competition 2025 berawal dari sebuah foto yang telah ia miliki sebelum lomba dibuka.
Foto tersebut diambil saat ia berkunjung ke sebuah pusat perbelanjaan di Kota Malang.
Tanpa rencana khusus, ia menangkap sebuah objek dari kejauhan yang menurutnya menarik secara visual dan makna.
“Hasil foto itu kebetulan sesuai dengan tema lomba,” ungkap mahasiswa kelahiran 2005 itu.
Tema “Berdaya Dalam Bisu” menjadi benang merah yang kuat antara karya Esti dan pesan yang ingin disampaikan penyelenggara.
Dari sekitar 40 kompetitor, karyanya terpilih masuk tiga besar finalis.
Penilaian lomba difokuskan pada beberapa aspek utama, yaitu estetika foto, komposisi, serta keterkaitan makna karya dengan tema.
Kompetisi ini bersifat terbuka dan tidak dibatasi jenjang pendidikan tertentu, sehingga menghadirkan persaingan yang cukup ketat dari beragam latar peserta.
Meski demikian, Esti mengaku proses lomba berjalan lancar dan memberinya pengalaman berharga.
“Alhamdulillah lombanya berjalan lancar dan saya senang bisa ikut karena menambah pengalaman,” ujarnya.
Pengalaman di Puncak Acara Kompetisi

Momen paling berkesan bagi Esti terjadi ketika ia menerima undangan untuk menghadiri puncak acara Festival UKPIM 2025 yang digelar di Rumah Budaya Malik Ibrahim, Sidoarjo, pada 27 Desember 2025.
Acara tersebut tidak hanya menjadi ajang pengumuman pemenang, tetapi juga ruang apresiasi karya seni lintas medium.
Setibanya di lokasi, pengunjung diarahkan ke ruang pameran yang menampilkan karya-karya sesuai tema festival.
Salah satu karya yang menarik perhatian Esti berjudul “Benang Merah”, yang menurutnya memiliki kekuatan narasi visual.
Selain pameran foto, pengunjung juga disuguhi pemutaran film karya peserta serta pertunjukan puisi.
“Di lain waktu saya juga diperlihatkan beberapa film karya mereka, lalu ada pertunjukan puisi. Acaranya cukup keren,” katanya.
Pengalaman tersebut memperkaya perspektif Esti tentang seni sebagai medium ekspresi dan refleksi sosial.
Sebagai mahasiswi yang juga aktif di organisasi Nasyiatul Aisyiyah, Esti memandang prestasi ini sebagai dorongan untuk terus berkarya dan mengasah kepekaan sosial.
Lihat juga: Potret Masyarakat Cirebon dalam Audio Visual, 4 Mahasiswa Ikom Borong Prestasi Silat Apik 2025
Ia berharap fotografi dapat terus menjadi ruang belajar sekaligus sarana menyuarakan makna di balik momen-momen yang sering terdiam.
Penulis: Romadhona S.



















