Umsida.ac.id – Meski waktu makan lebih sedikit selama Ramadan, jumlah sampah makanan atau food waste justru sering meningkat.
Fenomena ini banyak terjadi karena kebiasaan membeli makanan berlebihan menjelang berbuka puasa.
Lihat juga: 8 Hal Mengejutkan Kenapa Konsumsi Pangan Saat Ramadan Melonjak
Mulai dari takjil manis, gorengan, hingga makanan berat tersedia melimpah di meja makan maupun di pusat-pusat kuliner.
Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Poppy Diana Sari STP MP, menjelaskan bahwa peningkatan food waste saat Ramadan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan belanja hingga budaya dalam menyajikan makanan.
Menurutnya, fenomena ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat.
Penyebab Food Waste saat Ramadan

Dr Poppy menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama meningkatnya food waste saat Ramadan adalah fenomena “lapar mata” ketika menjelang waktu berbuka.
- Overbuying
Saat berpuasa, kadar gula darah yang menurun dapat memicu keinginan untuk membeli makanan dalam jumlah banyak (overbuying).
Akibatnya, kata Dr Poppy, banyak orang membeli lebih banyak makanan daripada yang sebenarnya mampu mereka habiskan.
“Banyak orang merasa mampu menghabiskan semua hidangan yang dibeli, namun kenyataannya, perut manusia memiliki kapasitas terbatas yang cepat terpenuhi hanya dengan sedikit takjil dan air,” jelasnya.
- Budaya “Makan Banyak dan Variatif”
Menurut Dr Poppy, ada kecenderungan untuk menyajikan hidangan secara berlebihan sebagai bentuk kemurahan hati atau perayaan, baik di rumah maupun di acara-acara sosial.
“Hal ini sering kali berujung pada makanan yang tidak tersentuh dan akhirnya dibuang karena sudah tidak segar lagi keesokan harinya,” ujarnya.
- Perubahan Pola Belanja
Menurut Dr Poppy, ada pula faktor lain yang membuat food waste Ramadan meningkat, yaitu perubahan pola belanja masyarakat selama bulan puasa, terutama bahan pangan organik.
“Banyak orang berbelanja bahan makanan segar seperti buah dan sayur dalam jumlah besar tanpa perencanaan yang matang,” tuturnya.
Jika bahan tersebut tidak segera diolah atau disimpan dengan benar, makanan akan cepat rusak dan akhirnya dibuang.
- Promo Ramadan yang Menjamur
Di sisi lain, promo buka puasa dari restoran dan hotel juga ikut berkontribusi pada peningkatan sampah makanan.
Banyak tempat makan menawarkan paket berbuka dengan sistem prasmanan atau buffet yang menyediakan puluhan variasi menu.
Secara statistik, imbuhnya, sistem buffet memang dikenal sebagai salah satu penyumbang sampah makanan terbesar.
“Makanan yang sudah dipajang di area prasmanan biasanya tidak bisa disimpan kembali untuk hari berikutnya karena alasan higienitas,” terang Dr Poppy.
- Kurangnya Kebiasaan Food Repurposing
Fenomena lain yang juga sering terjadi adalah kurangnya kebiasaan food repurposing, yaitu mengolah kembali makanan sisa menjadi hidangan baru.
“Misalnya, ayam goreng sisa berbuka sebenarnya masih bisa diolah menjadi menu lain untuk sahur,” ujar Dr Poppy.
Namun dalam praktiknya, makanan sisa sering kali dibiarkan di meja hingga basi karena semua anggota keluarga sudah terlalu kenyang atau enggan membereskannya setelah tarawih.
- Berbagi yang Salah Sasaran
Disisi lain, bulan Ramadan adalah bulan berbagi.
Banyak orang atau komunitas yang berlomba-lomba untuk membagikan takjil di jalanan atau ke panti asuhan.
Namun, tanpa koordinasi, sering terjadi penumpukan bantuan di satu tempat.
Misalnya, sebuah panti asuhan menerima kiriman nasi kotak dari beberapa donatur berbeda di hari yang sama, sehingga makanan-makanan tersebut tidak mungkin habis dikonsumsi sekaligus.
Jenis Makanan yang Paling Sering Menjadi Food Waste

Dr Poppy menambahkan bahwa jenis makanan yang paling sering terbuang selama Ramadan umumnya adalah takjil manis dan gorengan.
Hal ini terjadi karena karena makanan ini sering dibeli secara berlebihan akibat rasa lapar mata yang memuncak menjelang berbuka.
Selain takjil, nasi dan lauk pauk utama juga sering tersisa karena perut sudah lebih dulu terisi oleh makanan pembuka dan air yang cukup banyak.
Karakteristik makanan juga menjadi faktor yang membuat makanan mudah terbuang.
Menurut Dr Poppy, hidangan bersantan atau sayuran berkuah biasanya lebih cepat basi dan mengalami perubahan rasa maupun tekstur.
Jika makanan tersebut tidak segera habis saat berbuka, banyak orang enggan mengkonsumsinya kembali saat sahur sehingga akhirnya memilih untuk membuangnya.
“Semua pembuangan makanan tersebut terjadi terutama karena kesalahan estimasi porsi dan pembelian impulsif saat berbelanja dalam keadaan lapar,” ungakpnya.
Lihat juga: Lonjakan Bahan Pangan saat Ramadan, Ini Cara Antisipasinya
Saat itu, lanjyt Dr Poppy, mata merasa sanggup menghabiskan segalanya, namun kapasitas perut sebenarnya sangat terbatas. (Romadhona)
Sumber: Dr Poppy Diana Sari STP MP



















