lonjakan konsumsi pangan

8 Hal Mengejutkan Kenapa Konsumsi Pangan Saat Ramadan Melonjak

Umsida.ac.id – Setiap Ramadan, pasar tradisional dan supermarket tampak lebih ramai dari biasanya. 

Aneka takjil, bahan pokok, hingga lauk pauk laris diburu. Padahal waktu makan justru lebih sedikit. Lalu, mengapa konsumsi pangan justru meningkat saat puasa?

Lihat juga: Pakar Umsida: Banyak Bahan Makanan Alami Pengganti Produk Gluten Free

Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rahmah Utami Budiandari STP MP menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar asumsi, tetapi dapat dijelaskan dari sisi pola makan, budaya, hingga faktor psikologis.

Konsumsi Pangan Melonjak Walau Cuma Makan 2x
lonjakan konsumsi pangan
Ilustrasi: Pexels

Menurut Rahmah, meskipun frekuensi makan hanya dua kali utama, yakni sahur dan berbuka, konsumsi total bahan pangan tetap meningkat karena beberapa faktor.

“Konsumsi bahan pangan meningkat saat Ramadan karena porsi makan lebih besar. Ditambah lagi dengan tradisi sosial berbuka puasa dan kecenderungan menyiapkan makanan berlebih,” jelasnya.

Beberapa alasan yang menyebabkan lonjakan konsumsi pangan antara lain:

a. Dua waktu makan utama dengan porsi besar

Penelitian di Nutritional Journal menyebutkan bahwa sebagian besar responden mengkonsumsi berbagai jenis makanan saat sahur dan berbuka, termasuk makanan tinggi energi seperti daging, pastry, dan minuman manis. 

Meski frekuensi makan lebih sedikit, total asupan energi tetap tinggi.

b. Kecenderungan menyiapkan makanan berlebihan

“Masyarakat sering tergoda menyiapkan aneka takjil dan dessert yang menggugah selera, sehingga makanan yang disiapkan melebihi kebutuhan,” ujar Ketua Prodi Teknologi Pangan Umsida itu.

c. Ramadan meningkatkan aktivitas ekonomi dan konsumsi

Penelitian Haris et al (2025), menunjukkan bahwa Ramadan memicu peningkatan konsumsi makanan dan minuman serta penjualan sektor pangan karena tradisi berbuka bersama dan aktivitas sosial.

d. Perubahan jenis makanan ke yang lebih tinggi lemak dan energi

Mengutip dari studi nutrisi, Rahmah menjelaskan bahwa meski frekuensi makan berkurang, konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol seperti gorengan meningkat, sehingga total konsumsi pangan tertentu tetap tinggi. 

Penyebab Lonjakan Konsumsi Saat Puasa

Rahmah menjelaskan bahwa fenomena meningkatnya konsumsi pangan saat Ramadan bukan hanya karena kebutuhan gizi, tetapi kombinasi beberapa faktor.

“Ini terjadi karena perubahan pola makan, pola belanja, budaya sosial, hingga faktor psikologis,” ujarnya.

Beberapa faktor tersebut di antaranya:

1. Perubahan pola makan dan kebutuhan energi

“Masyarakat cenderung makan dalam porsi lebih besar saat sahur dan berbuka. Jenis makanan yang dikonsumsi pun sering kali manis dan berlemak,” terang Rahmah.

2. Perubahan pola belanja dan persiapan makanan

Ada kecenderungan membeli dan menyiapkan bahan makanan dalam jumlah lebih banyak untuk stok sahur dan berbuka, sehingga pembelian meningkat meskipun tidak semuanya langsung dikonsumsi.

3. Faktor budaya dan sosial

Rahmah berpendapat bahwa salah satu tradisi berbuka bersama keluarga, teman atau kegiatan sosial akan meningkatkan makanan yang disediakan.

4. Faktor psikologis dan kebiasaan

Setelah menahan lapar dan dahaga seharian, muncul keinginan untuk makan lebih banyak dan mencoba berbagai hidangan, sehingga konsumsi bahan pangan meningkat.

Cara Agar Konsumsi Pangan Tetap Stabil Saat Ramadan

lonjakan konsumsi pangan

Agar konsumsi pangan selama Ramadan tidak berlebihan, Rahmah membagikan beberapa solusi praktis berdasarkan jurnal gizi dan rekomendasi lembaga kesehatan.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

a. Membuat perencanaan menu dan belanja

Penelitian dalam Journal of Nutrition and Consumer Behavior menunjukkan bahwa perencanaan menu membantu mengurangi pembelian impulsif dan pemborosan makanan. 

“Dengan membuat daftar belanja sesuai kebutuhan sahur dan berbuka, masyarakat dapat menghindari membeli bahan pangan secara berlebihan,” jelasnya.

b. Mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan gizi, bukan keinginan sesaat

Menurut rekomendasi WHO, kata Rahmah, tubuh tidak membutuhkan kalori berlebihan saat berbuka. Konsumsi makanan seimbang sudah cukup untuk memulihkan energi.

c. Menghindari belanja saat lapar

Studi perilaku konsumen menunjukkan bahwa orang yang berbelanja saat lapar cenderung membeli lebih banyak makanan, terutama makanan tinggi kalori dan gula.

“Oleh karena itu, lebih baik jika berbelanja dilakukan setelah makan atau dalam kondisi tidak lapar,” ungkapnya.

d. Mengutamakan porsi secukupnya dan makan bertahap

Ia juga mengutip Jurnal Appetite yang menjelaskan bahwa makan perlahan membantu tubuh mengenali rasa kenyang dan mencegah konsumsi berlebihan.

e. Meningkatkan kesadaran menghindari pemborosan makanan

Food and Agriculture Organization (FAO) yang ia kutip juga menekankan bahwa kesadaran masyarakat tentang pemborosan pangan dapat membantu mengurangi konsumsi berlebihan dan menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

Lihat juga: Gorengan Tiap Buka Puasa, Aman atau Tidak? Ini Penjelasan Ahli

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga belajar mengendalikan konsumsi.(Romadhona)

Sumber: Rahmah Utami Budiandari STP MP

Berita Terkini

hari kesehatan mental 1
Hari Kesehatan Mental, Satgas PPKPT dan Psikologi Umsida Buka Ruang Aman
October 12, 2026By
bramasgana terjun ke gempa ntt
Laporan Terkini Bramasgana Umsida dari Lokasi Gempa NTT
October 12, 2026By
pkmu 2026
PKMU 2026-2027 Dimulai, Usung Konsep Baru
October 11, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab
Pesan Rektor untuk 38 Lulusan Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida
October 8, 2026By
Haflu Takharruj Ma’had Umar bin Al-Khattab (5)
Haflu Takharruj ke-38, Ma’had Umar bin Al-Khattab Umsida Luluskan 38 Mahasiswa
October 8, 2026By
Persiapan PKMU 2026
Persiapan PKMU 2026, Bagaimana dengan Mahasiswa Non Muslim?
October 7, 2026By
panen budidaya melon
Panen Hasil Budidaya Melon Perdana, Umsida Kembangkan Ilmu Pertanian
October 7, 2026By
Bramasgana umsida bantu NTT (2)
Bramasgana Umsida Berangkat ke NTT, Fokus Pulihkan 2 Hal
September 30, 2026By

Riset & Inovasi

PPG Umsida ajari anak cinta alam
Cara Seru PPG Umsida Kenalkan Rasa Cinta Alam pada Anak
October 9, 2026By
plp umsida dampingi mabit (2)
Dampingi Mabit, PLP 2 Umsida Belajar Dampingi Pembelajaran Luar Kelas
October 9, 2026By
media pembelajaran digital (2)
Mengabdi di SDN Kepulungan, Ini Deretan Media Pembelajaran Digital PLP II Umsida
October 6, 2026By
peringatan hari batik plp umsida (2)
Peringati Hari Batik, PLP 2 Umsida Ajak Siswa Membatik Carbon Copy
October 6, 2026By
PLP SDN Sidokumpul
Siswa SDN Sidokumpul Peringati Kesaktian Pancasila Bersama Tim PLP 2 Umsida
October 5, 2026By

Prestasi

Pojok Statistik Umsida Ranking 1 Nasional (2)
Pojok Statistik Umsida Raih Ranking 1 Nasional Tahun 2026
October 5, 2026By
tim jenggolo ikuti kmhe 2026
Tim Jenggolo Umsida Siap Bawa Arshaka V2 ke KMHE 2026
October 2, 2026By
world university rankings (2)
Masuk THE World University Rankings 2027, Umsida Perkuat Rekognisi Internasional
October 1, 2026By
penghargaan Pojok Statistik Umsida
Pojok Statistik Umsida Kembali Jadi Terbaik 1 Nasional BPS RI
September 30, 2026By
beras analog rumput laut 2
DIARICE, Inovasi Rumput Laut Jadi Beras Analog Karya Umsida Lolos KMI Expo 2026
September 10, 2026By

Opini

bijak menggunakan teknologi AI (Pexels)
Teknologi Tak Bisa Dibendung, Ini Cara Bijak Penggunaan AI
October 2, 2026By
kebutuhan air data center AI (Pexels)
Benarkah AI Menguras Jatah Air Bersih? Ini Kata Pakar Umsida
October 1, 2026By
karhutla (Dok Antara Foto)
Mengapa Karhutla Terus Berulang? Bagaimana Mencegahnya?
September 23, 2026By
politik uang dalam Muhammadiyah 5
Politik Uang dalam Muhammadiyah
September 22, 2026By
satanic dan seni
Gunakan Simbol Satanic Saat Perayaan Seni, Ini Tanggapan Pakar Umsida
September 15, 2026By