Umsida.ac.id – Idul Fitri merupakan momen kembalinya manusia kembali kepada fitrah. Kembali kepada fitrah artinya kembali kepada jati diri manusia sebagai hamba Allah SWT sekaligus sebagai pengelola bumi (khalifah fil’ard).
Lihat juga: Idul Fitri Bukan Sekadar Perayaan, Ini 2 Hubungannya dengan Puasa Ramadan
Manusia sebagai hamba Allah, sebagai pondasi nilai-nilai kemanusiaan untuk bertauhid dalam ketundukan dan ketaatan hanya kepada Allah SWT.
Sementara kerja kekhalifaan harus didasarkan pada nilai-nilai ketaatan kepada Allah SWT sebagai pembentukan tabiat/karakter bertaqwa.
Sehingga makna fitrah sesungguh tidak hanya simbol, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembiasaan Ramadan sebagai Jalan Taat kepada Allah SWT
Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 36 merupakan contoh kualitas akhlakul karimah yang sebagai perwujudan karakter takwa tersebut.
Disamping itu, terdapat beberapa habitus (kebiasaan) yang membentuk pribadinya sebagai berikut:
1. Membiasakan Beribadah

Pertama, membiasakan diri untuk beribadah dengan berharap Ridho dan Rahmat Allah SWT.
Memperbanyak amaliyah ibadah kepada Allah dengan mempertimbangkan kualitas merupakan bentuk dari sikap ini.
Yang dimaksud dengan kualitas ibadah adalah ibadah dilaksanakan dengan benar atas dasar perintah Allah dan contoh dari rasul-Nya.
Syaikh An-Nawawi al-Bantani, dalam kitabnya Maraaqil ‘Ubudiyah, menjelaskan bahwa ibadah sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menjalankan ketaatan dari amalan yang diwajibkan oleh Allah atas dirinya baik secara individu (fardhu ‘ain), maupun secara kolektif (fardhu kifayah), dan amalan-amalan sunnah.
Dan apabila Allah telah mencintainya, maka a Allah SWT akan memelihara anggota badanya agar tidak berbuat apapun yang tidak di ridhoi oleh-Nya dan tidak berdiam diri tanpa melaksanakan ketaatan kepada-Nya.
Alhasil, barangsiapa yang bermujahadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan fardhu dan sunnah, niscaya Allah akan mendekatkan orang tersebut kehadirat-Nya, dan mengangkat derajatnya dari tingkat iman ke ihsan.
Ia akan menjadi hamba yang menyembah Allah dengan sepenuh hati dan rasa rindu sehingga dapat melihat Allah dengan mata hati seakan-akan ia melihat-Nya dengan mata lahir.
Pada saat itulah, hatinya dipenuhi dengan Ma’rifat Allah SWT dan perasaan cinta kepada-Nya, cintanya semakin bertambah sehingga tidak ada lagi tempat dihatinya kecuali kecintaan kepada Allah.
Jika sudah demikian, maka segenap anggota-anggota badannya tidak akan berbuat kecuali yang sejalan dengan hati nuraninya.
Inilah yang dimaksud bahwa di dalam hatinya tidak ada sesuatu melainkan Allah SWT , ma’rifat Allah, cinta dan zikir kepada-Nya.
2. Bisa Mengendalikan Nafsu

Kedua, bulan Ramadan membiasakan kita untuk mengendalikan nafsu amarah hingga kita menjadi pribadi yang tidak mudah marah dan menjadi pemaaf.
Nafsu amarah di dalam al-Qur’an disebut dengan nafsu yang memerintahkan kepada perilaku suu’ (kesesatan).
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Nafsu Amarah adalah nafsu yang pelengkap yang diberikan oleh Allah kepada manusia agar manusia dapat bergerak, berkembang biak, memiliki keinginan.
Ibn Sina menyebutnya dengan an-nafs al hayawaniyyah, sebagaimana nafsu yang dimiliki oleh binatang tentang keserakahan, ingin menguasai, ingin memiliki, suka menjalin permusuhan dan memiliki nafsu syahwat sebagai sifat dasar (menurut Ghazali: conatus) makhluk hidup.
Maka jika nafsu ini menguasai hati dan akal fikiran manusia, Allah SWT menggambarkannya seperti binatang bahkan lebih rendah darinya sebagaimana tertuang dalam QS. al-A’raf ayat 179 berikut:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ١٧٩
Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka).
Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah).
Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.
Melalui ibadah puasa inilah, nafsu ini dikendalikan, jika seorang mukmin berbuka sebagai tanda dibolehkannya makan dan minum, serta berhubungan suami istri diwaktu malam (QS. Albaqarah ayat 187).
Maka terdapat dua ciri perilaku terbuka bagi siapa saja yang mampu mengendalikan atau hanya sekedar menahan nafsunya.
Jika pengendalian ini dilakukan oleh seorang mukmin, maka cara berbuka puasa dapat mencontoh cara-cara Rasulullah berbuka.
Misalnya saja yakni hanya minum air putih dan 3 buah kurma (boleh diganti dengan ta’jil lain sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan tertentu dengan tidak berlebihan).
Akan tetapi berbeda dengan menahan hawa nafsu.
Baginya akan ditunaikan keserakahan dan keberlebihannya saat berbuka puasa, semua menu makanan disediakan untuk dirinya dan siap disantap habis meskipun sesungguhnya dirinya tidak mampu menghabiskannya.
Dengan demikian, tingkatan tertinggi dari pengendalian hawa nafsu tersebut, seseorang akan mampu menahan amarah, dan menjadi pemaaf, tidak ujub (membanggakan diri) dan sumbong, karena sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri dan sombong.
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali-Imron ayat 134)
3. Terbiasa Hidup Berdampingan dengan Al Quran

Ketiga, bulan Ramadhan telah membiasakan kita untuk senantiasa hidup berdampingan dengan al-Qur’an. Dengan al-Qur’an hidup kita selalu diberkahi dan dimudahkan oleh Allah SWT.
Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi para sahabat-sahabatnya di hari akhir sebagaimana sabda Rasulullah saw:
اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ -رَوَاهُ مُسْلِمٌ
“Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim, no. 804)
Dan para sahabat al-Qur’an dalam al-Bahr Muhith 16: 353 adalah sebutan dari siapa saja yang Yang terus menerus membacanya dan mengamalkannya (المُلاَزِمِيْنَ لِتِلاَوَتِهِ العَامِلِيْنَ بِهِ).
Disamping itu, perintah Allah SWT dalam membaca al-Qur’an akan menjamin kebahagiaan dan kemuliaan hidup kita, karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia di penjuru dunia ini bagi siapapun yang mempelajarinya (QS. Al-Alaq ayat 3-5)
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ; الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ; عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah!, dan Tuhanmu yang maha mulia, yang mengajarkan dengan qolam (pena), mengajarkan manusia dari sesuatu yang tidak mereka ketahui.
4. Terbiasa Berinfaq

Keempat, Ramadhan membiasakan diri untuk gemar berinfak dan berzakat.
- Infaq
Berinfak bertepatan di bulan Ramadhan setiap amalan dilipatgandakan pahalanya yaitu berupa 700 kali lipat dikali sepuluh.
Maka perlu dipersiapkan anggaran untuk infaq sebelum Ramadhan dan tidak harus dengan uang, misalnya dalam bentuk makanan untuk berbuka puasa. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Artinya: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Dan Rasulullah telah memberikan teladan bahwa dirinya sebagai sosok manusia yang dermawan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآن
Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadan ketika bertemu dengan malaikat jibril, dan jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan untuk mudarosah (mempelajari) Al-Qur’an” (HR. Al-Bukhari)
Gambaran pribadi yang dermawan di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧
Artinya: Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya (QS. Al-Furqon [25]: 67)
- Zakat
Sementara zakat yang kita keluarkan sebagai usaha untuk mensucikan harta dari hak-hak para delapan asnaf (QS. At-Taubah ayat 60) yang dititipkan oleh Allah lewat rizki yang kita terima sebagaimana disampaikan dalam QS. At-Taubah ayat 103:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ ١٠٣
Artinya: Ambillah zakat dari harta mereka (guna) mensucikan dan membersihkan mereka, dan doakanlah mereka karena sesungguhnya doamu adalah ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dan khusus untuk zakat fitrah sebagai pembuka jalan bagi setiap mukmin yang melaksanakan ibadah dibulan Ramadhan agar diterima oleh Allah Swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “bulan Ramadhan ibadahnya menggantung di antara langit dan bumi dan tidak sampai kepada Allah Swt hingga dikeluarkannya zakat fitrah” (HR. Bukhari).
5. Tidak Sombong

Kelima, Bulan Ramadhan telah melatih kita membersihkan hati kita dari penyakit sombong, gibah, atau membicarakan keburukan orang lain, hasad, namimah dan fitnah, dan sumpah palsu.
Kesemuanya penyakit hati tersebut berawal dari sikap ujub dan sombong.
Dan hal ini senantiasa dibersihkan agar ibadah puasa kita tidak sia-sia dihadapan Allah Swt. Sebagaimana tertuang di dalam QS. Al-Hujurat ayat 12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Dan dari kebersihan hati inilah Ramadhan telah mengajarkan kepada kita tentang cara menyambung tali silaturrahim.
Karena dengan cara inilah, Allah SWT tidak akan memutuskan Rahmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sebelumnya, (sabda Rasulullah: “Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi” -HR. Muslim).
Lihat juga: Idul Fitri Juga Disebut Sebaga Hari Kemenangan, Apa Artinya?
Bahkan semakin menambahkannya saat kita mampu menjadi pribadi yang bersyukur kepada-Nya (QS. Ibrahim ayat 7).
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”
Penulis: Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI