Umsida.ac.id – Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus.
Bagi banyak orang, bulan ini juga menjadi momen untuk melatih kesabaran, mengelola emosi, dan menenangkan pikiran.
Menariknya, proses spiritual ini ternyata juga memiliki dampak positif bagi kesehatan mental.
Lihat juga: 4 Manfaat Puasa Bagi Otak, Mental, dan Sel
Hal tersebut diungkapkan oleh Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA.
Ia menjelaskan bahwa puasa sebenarnya bisa menjadi sarana efektif untuk melatih pengendalian emosi sekaligus menjaga kesehatan mental.
Menurutnya, kunci utamanya adalah menyeimbangkan pendekatan biologis, psikologis, dan spiritual selama menjalani ibadah puasa.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga latihan mengelola emosi dan pikiran agar lebih stabil,” ujarnya.
Mengelola Stres Saat Berpuasa dengan Keseimbangan Fisik dan Mental

Menurut Ghozali, cara mengelola stres saat berpuasa perlu dilakukan dengan menyeimbangkan pendekatan fisik (biologis) dan mental (psikologis dan spiritual).
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Makan sahur dengan nutrisi seimbang
Secara biologis, menurutnya, mengkonsumsi karbohidrat kompleks dan protein saat sahur membantu mencegah kadar gula darah turun drastis (hipoglikemia), sehingga otak tetap memiliki energi untuk mengatur emosi.
Dalam Islam, hal ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW untuk tidak meninggalkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan (HR. Bukhari & Muslim).
“Keberkahan ini termasuk kesiapan fisik dan mental untuk beribadah sepanjang hari. Intinya jangan sampai meninggalkan sahur,” kata Ghozali.
- Menerapkan mindfulness dalam menjalankan puasa
Puasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum, tetapi juga memaknai hakikat ibadah tersebut.
Seseorang perlu menyadari kapan emosi mulai terpancing akibat rasa lapar, lalu mengambil jeda sebelum bereaksi.
Dalam ajaran Islam, ketika emosi muncul, seorang muslim dianjurkan untuk mengingat status puasanya dengan mengatakan “Aku sedang berpuasa”, membaca ta’awudz, serta mengubah posisi atau berwudhu untuk meredakan emosi.
- Menjauhi hal yang sia-sia (laghw)
Untuk mencegah kelelahan mental, seseorang sebaiknya menghindari perdebatan atau aktivitas yang menguras emosi.
Islam mengajarkan agar orang yang berpuasa meninggalkan perkataan dusta, perbuatan bodoh, dan hal-hal yang tidak bermanfaat agar energi mental tetap terjaga untuk hal yang lebih baik.
Ibadah Ramadan Membantu Menurunkan Stres
Ghozali juga menjelaskan bahwa pembiasaan spiritual selama Ramadan terbukti efektif membantu menurunkan tingkat stres apabila dilakukan dengan benar secara syariat maupun hakikat.
Hal ini terjadi melalui dua mekanisme utama:
- Relaksasi fisik dan batin (tatma’innul qulub)
Aktivitas ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan salat malam bekerja layaknya meditasi yang mendalam.
Secara biologis, rutinitas ini mampu menurunkan hormon stres (kortisol), menstabilkan detak jantung, serta membuat pikiran menjadi lebih rileks.
Dalam Islam, kondisi ini dikenal sebagai ketenangan hati atau tatma’innul qulub, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram.
- Terapi kognitif melalui ibadah
Rutinitas seperti berdoa, iktikaf, dan muhasabah (refleksi diri) membantu seseorang mengalihkan fokus pikiran dari tekanan duniawi menuju rasa syukur dan kepasrahan kepada Allah.
Proses ini dalam Islam dikenal sebagai tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa yang membuat seseorang lebih sehat secara mental, lebih positif, dan lebih tangguh menghadapi tekanan hidup.
Menurutnya, ibadah Ramadan tidak hanya menyehatkan jiwa melalui pendekatan spiritual, tetapi juga secara ilmiah mampu memperbaiki respons tubuh dan pikiran terhadap stres.
Cara Puasa Meningkatkan EQ

Selain membantu mengelola stres, latihan pengendalian diri selama Ramadan juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional (EQ) seseorang.
Hal ini terjadi melalui beberapa proses berikut:
- Pembentukan kebiasaan permanen (neuroplastisitas dan istiqomah)
Menahan amarah dan bersabar selama 30 hari berturut-turut melatih otak membentuk jalur saraf baru (neuroplastisitas).
“Latihan ini membuat kemampuan pengendalian diri tidak lagi terasa berat, tetapi menjadi respons otomatis yang terbawa bahkan setelah Ramadan usai,” ujar Ghozali.
- Mengasah empati dan kepedulian sosial
Merasakan lapar dan dahaga secara langsung membantu seseorang memahami kondisi orang yang kekurangan.
Pengalaman ini menumbuhkan empati yang kemudian mendorong tindakan nyata seperti bersedekah, berzakat, dan berbagi kepada sesama.
- Mencapai puncak kecerdasan emosional dan spiritual
Pada akhirnya, tujuan puasa adalah mencapai derajat takwa, yaitu kemampuan menahan diri dari hal-hal yang tidak baik sekaligus memiliki kebesaran hati untuk memaafkan orang lain.
Lihat juga: Puasa Bikin Mood Naik Turun, Ini Cara Efektif Menurunkannya
“Ketika seseorang mampu menahan amarah dan memaafkan, itu menunjukkan kecerdasan emosional sekaligus kecerdasan spiritual yang tinggi,” pungkas Sekprodi Psikologi itu.(Romadhona)
Sumber: Ghozali Rusyid Affandi SPsi MA



















