Umsida.ac.id – Tim Tapak Suci Umsida kembali mengharumkan nama kampus pencerah dengan meraih Juara Umum 1 pada Kejuaraan Unesa Pencak Silat Challenge Competition III 2025.
Dalam ajang tersebut, kontingen Umsida berhasil membawa pulang 30 medali, terdiri dari 6 emas, 8 perak, dan 16 perunggu, mengungguli berbagai perguruan tinggi lain yang turut ambil bagian.
Lihat juga: Mahasiswa Umsida Raih Juara 1 dan Jadi Pesilat Terbaik di Kejuaraan Nasional
Keberhasilan Tapak Suci Umsida tidak diraih secara instan, melainkan melalui tahapan persiapan fisik, teknik, dan mental yang dijalankan secara disiplin selama dua bulan.
Tapak Suci Umsida Jalani Persiapan Sistematis dan Mental Juara

Pembina Tapak Suci Umsida, Arya Bimantara SH menerapkan pola latihan yang sistematis dan progresif.
Tahap awal difokuskan pada pembentukan fisik dasar, seperti kardio, kekuatan, kecepatan, dan daya tahan.
Memasuki pekan berikutnya, latihan mulai dikombinasikan dengan teknik pencak silat hingga simulasi sparring menjelang pertandingan.
Ia menekankan bahwa kunci kemenangan bukan pada banyaknya teknik yang dikuasai atlet, melainkan ketepatan dalam mengaksesnya di arena.
“Tidak ada teknik yang absolut sempurna. Yang terpenting adalah seberapa sempurna atlet bisa mengeksekusi teknik yang dimiliki agar menghasilkan poin,” ungkap Bima.
Selain aspek teknik, imbuhnya, pembentukan mental juara menjadi perhatian utama.
Atlet ditanamkan prinsip all-out, yakni bertanding dengan usaha maksimal tanpa dibayangi rasa takut akan hasil.
“Hasil pertandingan hanya ada dua, menang atau kalah. Yang bisa dipilih adalah seberapa keras dan optimal usaha yang dikeluarkan,” tambah Bima.
Ia mengatakan bahwa evaluasi dilakukan secara detail dan spesifik untuk setiap atlet.
Setiap hari setelah latihan, pembina dan pengurus menggelar briefing, evaluasi, serta motivasi.
Seleksi ketat juga diterapkan di sini. Atlet yang tidak menunjukkan komitmen terhadap kehadiran dan program latihan dapat dikeluarkan dari tim tanding.
Cara Tapak Suci Umsida Jaga Keseimbangan Akademik dan Prestasi

Di balik prestasi tersebut, tantangan besar yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan latihan intensif.
Pengurus Tapak Suci Umsida menyusun strategi latihan agar tidak mengganggu jadwal perkuliahan atlet.
Ketua Tapak Suci Umsida, Zain Zidan Amir, menegaskan bahwa latihan dan akademik harus berjalan beriringan.
“Kami selalu memberi arahan bahwa latihan dan kewajiban akademik harus berjalan bersama. Latihan ini bukan sekadar program kerja, melainkan fasilitas bagi atlet untuk bersaing,” jelasnya.
Perencanaan program latihan dilakukan jauh hari dengan pembagian periodisasi yang matang.
Manajemen keatlitan dibahas secara serius, termasuk pengaturan absensi dan seleksi atlet berdasarkan kesiapan bertanding di setiap kelas bobot.
Ia mengatakan bahwa pembina juga mengapresiasi semangat atlet yang memulai dari nol namun tetap konsisten berlatih.
“Banyak dari mereka benar-benar mengawali dari 0, namun tidak menyurutkan semangat dalam latihan dan keberanian dalam perlombaan,” ujarnya.
Targetkan Prestasi yang Lebih Tinggi
Meski berhasil meraih juara umum di awal periode, pembina menegaskan bahwa atlet tidak boleh cepat puas.
Konsistensi dinilai sebagai kunci utama dalam mempertahankan dan meningkatkan prestasi.
“Saya tidak hanya melihat hasil dan kemampuan, tapi juga progres dan kemauan. Ke depan masih banyak event, tantangan baru, dan medali yang harus diraih,” tegas Bima.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan membutuhkan proses panjang yang dilandasi niat kuat, cara yang tepat, tim yang suportif, serta keikhlasan menerima hasil
Hal senada disampaikan Ketua Umum Tapak Suci Umsida, Zidan selaku ketua.
Lihat juga: Diklat Tapak Suci Umsida Tak Hanya Tentang Fisik, Tapi Juga Akhlak dan Kesatria
“Di atas langit masih ada langit, sedalam sumur masih ada palung. Jangan berhenti dengan kesombongan atas prestasi yang pernah diraih. Kekalahan dan kemenangan adalah hal pasti, yang perlu dikejar adalah bagaimana agar kita selalu belajar,” ujarnya.
Penulis: Ikmal Syarif



















