Umsida.ac.id – 10 hari terakhir Ramadan seharusnya menjadi media bagi kita untuk mengevaluasi capaian puasa, yaitu menjadi manusia yang bertaqwa.
Taqwa dalam konteks ini tidak hanya ibadah mahdahnya baik, tetapi juga ibadah sosialnya juga baik.
Lihat juga: Kapan Datangnya Lailatul Qadar? 3 Hadits Ini Beri Penjelasan
Berikut beberapa ciri orang yang bertaqwa:
- Mampu menjaga waktu-waktu salat
- Mampu menjaga waktu-waktunya dalam hubungan sosial
- Disiplin saat bekerja sesuai waktu yang ditetapkan oleh institusi
- Memanfaatkan waktu untuk bekerja dengan baik dan benar
- Tidak membuang waktu hanya sekedar melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi diri maupun institusi
Jika kita sudah mampu mengangkat takbiratul ihram saat ibadah, orang yang bertaqwa tercermin dalam dirinya sebagai orang yang tawadhu’ dan tawakal dalam kehidupan sosial.
Orang yang tawadhu’ merasa dirinya tidak ada apa-apanya dihadapan Allah, sehingga ia tidak mudah ujub (berbangga diri) atas prestasi dan jabatannya.
Karena sesungguhnya, jabatan dalam sebuah institusi adalah amanah yang pasti akan dipertanggung jawabkan kepada Allah di yaumul hisab.
Orang tawadhu’ tidak mentang-mentang kepada orang lain mumpung ia sedang menjadi penentu kebijakan, kemudian mendzalimi bawahannya atau orang lain dengan seenaknya.
“Cerminan orang yang tawakal kepada Allah bukanlah orang yang berebut jabatan, lobi-lobi teman dekat untuk mendapatkan jabatan yang diinginkan”.
Orang yang bertawakal adalah mereka yang tidak pernah berambisi atas jabatan yang diinginkan.
Tetapi jika ia diberi amanah jabatan atau pekerjaan tertentu, ia akan senantiasa memegang amanah tersebut dan mengerjakan yang terbaik atas kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya sebagai bentuk dari tanggung jawab amanah yang diembannya.
Dan banyak lagi bentuk kontekstualisasi taqwa ke dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, saudara, teman dekat maupun teman jauh baik dalam satu institusi ataupun yang lain, termasuk lingkungan sekitar kita.
Proses evaluasi tersebut dapat dilakukan di 10 hari terakhir Ramadan sebagai fase penentu kualitas dan kesempurnaan ibadah kita di bulan Ramadhan.
Jumhur para ulama tentang ibadah Ramadhan di 10 hari terakhir Ramadan adalah:
اَلْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَاتِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَاتِ
Artinya: Yang menjadi ukuran adalah kesempurnaan akhir, bukan kekurangan pada awal.
Makna dari teks tersebut adalah siapapun masih bisa meningkatkan kualitasnya di sepuluh akhir Ramadan, manakala hasil muhasabahnya tidak sampai pada capaian perintah puasa itu sendiri.
Keistimewaan 10 Hari Terakhir Ramadan

Oleh karena, atas dasar Rahman dan Rahim Allah, supaya di akhir Ramadan ini setiap mukmin yang melaksanakan perintah Allah, semakin bersemangat untuk menyempurnakan dan meningkatkan kualitas ibadahnya, Allah memberikan beberapa keutamaan bagi siapa saja yang tidak menyia-nyiakan waktu-waktu di 10 hari terakhir Ramadan, antara lain:
- Lebih Baik dari 1000 Bulan
Pertama, Di 10 hari terakhir Ramadan terdapat malam yang diistimewakan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam yang telah ditetapkan “Lailatul Qadar”.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3)
Sebuah malam dimana Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai way of life bagi umat Rasulullah Muhammad, yang menginginkan pencapaian kesuksesan dan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akherat.
Dan apabila kita melakukan ibadah dan kebaikan bertepatan dengan malam mulia ini, nilai ibadah dan kebaikannya diperhitungkan lebih dari seribu bulan.
Adanya lailatul qadar di 10 hari terakhir Ramadhan diinformasikan oleh Rasulullah secara langsung dari sebuah hadist sahihnya yang diriwayatkan oleh Aisyah binti Abu Bakar r.a yakni:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Rasulullah Saw bersabda: Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).
- Waktu Mustajab untuk Minta Ampunan
Kedua, 10 hari terakhir Ramadan merupakan waktu paling besar untuk mengharap ampunan dari Allah SWT.
Ramadan adalah bulan ampunan.
Namun 10 hari terakhir Ramadan adalah puncaknya, bahkan sampai pada terbakarnya dosa-dosa kita dan pembebasan dari api neraka (‘Itqun mina an-nār), terutama waktu lailatul qadar.
Lihat juga: Amalan Saat lailatul Qadar Seperti yang Rasulullah Lakukan
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).(Rahmad Salahuddin TP SAg MPdI)



















