dosen Umsida tentang lagu bayar bayar bayar dan kasus Amsal Sitepu

Dosen Umsida Sebut Kasus Amsal Sitepu Cerminkan Krisis Nilai Karya Kreatif di Era Digital

Umsida.ac.id – Kasus yang melibatkan videografer Amsal Sitepu tengah menjadi sorotan publik. 

Ia diduga melakukan mark up anggaran dalam proyek pembuatan video profil 20 desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada tahun 2020–2022.

Lihat juga: Dosen Umsida Tanggapi Viralnya Lagu Bayar Bayar Bayar, Ketika Protes Melalui Seni Lebih Dilirik

Kasus ini tidak hanya memicu perdebatan soal angka dan anggaran, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana masyarakat memahami nilai sebuah karya kreatif di era digital.

Dosen New Media Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M Andi Fikri MIKom menilai bahwa kasus Amsal Sitepu tidak bisa dilihat secara hitam putih.

“Kasus ini sebenarnya menunjukkan pentingnya transparansi dan kejelasan komunikasi dalam proyek kreatif, terutama ketika karya sudah dipublikasikan dan masuk ke ekosistem digital,” ujarnya.

Menurutnya, ketika sebuah karya sudah beredar di media sosial, persepsi publik dapat berkembang sangat cepat. Hal ini membuka peluang terjadinya misinformasi dan kesalahpahaman.

Kasus Amsal Sitepu dan Miskomunikasi Pekerjaan Kreatif
kasus Amsal Sitepu (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Andi menjelaskan bahwa dalam konteks komunikasi digital, masalah utama kasus Amsal Sitepu ini bukan hanya pada hasil karya, tetapi juga pada bagaimana informasi disampaikan sejak awal.

Ia menambahkan bahwa kreator sendiri perlu memikirkan tidak hanya pada konten saja ataupun proyek yang dibuat, melainkan pada sisi bagaimana konteks dan ekspektasi yang disampaikan kepada klien ataupun pihak yang terkait. 

Dalam kasus seperti Amsal Sitepu, menurutnya, komunikasi yang kurang terbuka bisa memicu perbedaan persepsi antara kreator, klien, dan publik.

Jika informasi yang beredar tidak utuh, maka opini publik bisa berkembang secara sepihak dan memperbesar konflik.

Lebih jauh, Andi menyoroti bahwa kasus Amsal Sitepu juga mencerminkan adanya gap atau kesenjangan pemahaman antara kreator dan klien dalam menilai sebuah karya.

Menurutnya, perbedaan perspektif menjadi akar utama masalah ini.

“Kreator itu menilai dari kompleksitas proses kreatif, pengalaman, dan kualitas outputnya. Sementara klien atau yang order itu menilainya dari harga pasar atau output final saja,” terang sineas Sidoarjo itu.

Ia menekankan bahwa dalam dunia kreatif, nilai karya tidak hanya terletak pada hasil akhir berupa video atau produk visual.

Ada proses panjang yang dilalui, mulai dari ide, riset, pengalaman, hingga eksekusi teknis.

Andi juga menyinggung bahwa di beberapa sektor, masih terdapat budaya menilai karya kreatif dengan harga murah. 

Apalagi dengan apresiasi terhadap proses kreatif dan intelektual dari kreator yang masih kurang.

Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap proses intelektual yang dilakukan oleh kreator.

“Dari ide saja sudah berpikir. Dari prosesnya, dari pengalaman bertahun-tahun. Tapi itu sering tidak dihargai,” jelasnya.

Akibatnya, muncul anggapan bahwa karya kreatif hanya sekadar produk jadi, tanpa mempertimbangkan proses di baliknya.

“Kalau hanya sekedar produk jadi, ya berarti kan proses kreatifnya kan tidak ada. Itu yang menjadikan budaya menilai terlalu murah,” tegasnya.

Dampak Kasus Amsal Sitepu bagi Industri Kreatif
kasus Amsal Sitepu
Dok Instagram

Jika krisis pemahaman nilai karya ini terus berlanjut, Andi menilai dampaknya bisa sangat serius bagi industri kreatif di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa salah satu risiko utamanya adalah penurunan pekerja kreatif dan kualitas karya.

“Kalau terus bersaing di harga rendah, kualitas karya pasti akan turun. Akhirnya industri kreatif nasional bisa stuck atau bahkan turun karena tidak bisa bertahan di ekosistem tersebut,” ujarnya.

Lantas Andi membagikan pengalamannya dalam membangun ekosistem film di Sidoarjo bersama komunitas kreatif.

Ia menegaskan bahwa dalam ekosistem tersebut, setiap karya tetap dihargai meskipun kegiatan terlihat sederhana.

“Kita tetap berbayar, tetap memberikan makan, snack, workshop. Karena ada value di situ,” jelasnya.

Menurutnya, jika tidak ada penghargaan terhadap karya, maka ekosistem kreatif akan melemah.

“Kalau tidak ada yang menghargai karya, pekerja kreatif akan turun. Semua akan bersaing di harga murah,” ujarnya.

Ia bahkan mengingatkan bahwa kondisi ini bisa membuat industri kreatif kehilangan identitasnya.

Lihat juga: Dosen Umsida Sebut Film Jumbo Sebagai Gebrakan Film Animasi yang Layak Dibanggakan

“Kalau terus seperti ini, semua akan menjadi “made in China” pada akhirnya,” tandas Andi.

Berita Terkini

penyerahan bingkisan idul fitri
Sinergi Umsida Bagikan Bingkisan Idul Fitri untuk Pegawai Supporting di 3 Kampus
March 16, 2026By
program studi umsida terakreditasi unggul
Umsida Teguhkan Langkah Menuju ASEAN Recognition 2038
February 13, 2026By
penghargaan dosen dan tendik, prof syafiq
Puluhan Tahun Mengabdi, Umsida Beri Penghargaan kepada Dosen dan Tendik di Milad ke-37
February 10, 2026By
abdimas prof Sigit 1
Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
February 10, 2026By
Prof Sigit Guru Besar
Targetkan dapat Gelar Guru Besar Sebelum 50 Tahun, Ini Perjalanan Akademik Prof Sigit
February 6, 2026By
aset kripto menurut dosen Umsida
Risiko Aset Kripto dan Bitcoin, Dosen Umsida Paparkan dari Perspektif Hukum dan Teknologi
December 15, 2025By
SDGs Center Umsida
SDGs Center Umsida Dorong Hilirisasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan Jawa Timur
November 20, 2025By
Apresiasi sekolah partnership Umsida
Umsida Beri Apresiasi untuk Sekolah Partnership yang Berkontribusi dalam Penerimaan Mahasiswa Baru
November 20, 2025By

Riset & Inovasi

kontrol produksi garam berbasis iot
Dosen Umsida Kembangkan PLTS untuk Kontrol Produksi Garam Menggunakan IoT
March 30, 2026By
daycare lansia 1
Tim PKM Umsida Dampingi Program Daycare Lansia Bersama PRA Boro
February 27, 2026By
abdimas kepada peserta didik sb at tanzil malaysia
Peserta Didik dan Guru SB At-Tanzil Malaysia dapat Penguatan Mental dari Psikolog Umsida
February 19, 2026By
pelatihan koding dasar dan kecerdasan artifisial
Abdimas Umsida Beri Pelatihan Kecerdasan Artifisial dan Koding Dasar pada 46 Guru MICA
February 3, 2026By
Edukasi TOSS TB 2
Edukasi TOSS TB, Upaya FK Umsida Perkuat Kader Kesehatan Desa Ketimang
January 28, 2026By

Prestasi

juara internasional tahfidz 30 juz
Mahasiswa Umsida Raih Juara 1 International Hifz Qur’an Competition Kategori 30 Juz
March 16, 2026By
mahasiswa Umsida raih 8 penghargaan
Mahasiswa Ini Meraih 8 Penghargaan dalam Kurun Waktu 3 Bulan
February 13, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026.
Usai Juara 1, IMEI Team Umsida Akan Buat Mobil Urban
February 5, 2026By
IMEI TEam Umsida Shell Eco Marathon Qatar 2026
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 4, 2026By
kejuaraan ju jitsu mahasiswa Umsida
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 20, 2026By