modul ajar atasi brain rot siswa 2

Atasi Brain Rot pada Siswa, Tim PKM-RSH Umsida Buat Modul Ajar FOCUSMIND-AR

Umsida.ac.idTim mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PGSD Umsida) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2026.

Mereka membuat inovasi FOCUSMIND-AR, yakni Modul Ajar Digital Augmented Reality Berbasis Psikologi Kognitif untuk Mengelola Overstimulasi Siswa Akibat Paparan Konten Viral.

Lihat juga: Kelola Sampah Melalui Bio Circular Agro Estate , Himmapik Umsida Raih Pendanaan PPK Ormawa 2026

Tim ini diketuai oleh Fahmi Anisa Herviana dari Prodi PGSD dengan dibimbing oleh Mahardika Darmawan Kusuma Wardana MPd.

Ia bekerja bersama empat anggota, yakni Nur Zakiyyatul Ula dari PGSD, Tiara Insani Anggun Bekti Wiguna dari Psikologi, Salwa Muthia Rahma dari Psikologi, serta Rosania Ayu Setiawati dari Ilmu Komunikasi.

FOCUSMIND AR Atasi Krisis Fokus pada Siswa

modul ajar atasi brain rot siswa 2

Fahmi menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari fenomena “brain rot” atau krisis atensi belajar pada siswa sekolah dasar akibat konsumsi konten viral di media sosial.

Menurutnya, paparan video pendek yang terlalu intens dapat membuat siswa mengalami overstimulasi, cepat bosan, dan sulit mempertahankan fokus saat belajar.

“Topik utama yang kami angkat adalah fenomena brain rot atau krisis atensi belajar pada siswa sekolah dasar akibat overstimulasi konsumsi konten viral di media sosial,” ujar Fahmi.

FOCUSMIND-AR, imbuhnya, adalah modul pembelajaran digital berbasis Augmented Reality untuk mata pelajaran IPAS kelas 6.

Modul ini dirancang menggunakan prinsip psikologi kognitif dan Attention Restoration Theory. 

Desain visualnya dibuat minimalis dengan konsep whitespace agar tidak membebani kognitif siswa.

“Inovasi ini kami kembangkan sebagai solusi preventif dan rehabilitatif agar siswa dapat belajar dengan lebih fokus, tidak mudah terdistraksi, dan tetap nyaman secara kognitif,” jelasnya.

Kolaborasi Lintas Prodi Perkuat Riset

Keberhasilan tim ini tidak terlepas dari pembagian tugas yang jelas.

Sebagai ketua, ia mengkoordinasikan peran antar anggota.

Nur Zakiyyatul Ula bertugas melakukan validasi instrumen tes pemahaman IPAS, mengurus perizinan dengan SDN Lebo, mendampingi intervensi, serta mengelola administrasi tim.

Lihat Juga :  Brainrot, Pembusukan Otak Akibat Konten Receh di Medsos, Pakar Umsida Beri Penjelasan

Tiara Insani Anggun Bekti Wiguna menyusun kuesioner adiksi media sosial, mengambil data awal fokus siswa, serta mengolah data statistik menggunakan SPSS atau JASP.

Sementara itu, Salwa Muthia Rahma melakukan kajian literatur mengenai Cognitive Load Theory, menganalisis mekanisme brain rot dalam perilaku belajar siswa, serta mengevaluasi fokus pasca-intervensi.

Rosania Ayu Setiawati berperan menganalisis tren konten media sosial, melakukan observasi non-partisipatif, mengumpulkan data baseline dan evaluasi akhir, serta mengelola publikasi hasil riset.

“Proposal ini kuat karena kami menggabungkan bidang Pendidikan, Psikologi Kognitif, dan Ilmu Komunikasi. Jadi masalahnya tidak dilihat dari satu sisi saja, tetapi dari pembelajaran, atensi anak, dan budaya konsumsi konten digital,” kata Fahmi.

Proses penyusunan proposal dimulai sejak Januari. 

Meski terkendala jadwal kuliah dan libur pada Februari, tim tetap melanjutkan diskusi secara daring melalui Zoom.

Mereka bahkan rutin bertemu secara online pada malam hari untuk menyusun proposal, membagi tugas, dan mengevaluasi progres.

Dari Diskusi Menuju PIMNAS

modul ajar atasi brain rot siswa 2

Nur Zakiyyatul Ula mengaku sangat bersyukur saat mengetahui timnya lolos pendanaan PKM-RSH.

Baginya, hasil tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, komunikasi, dan kekompakan tim dapat membawa hasil positif.

“Perasaan saya sangat senang dan bersyukur ketika tahu tim kami berhasil lolos pendanaan PKM-RSH,” ungkap Nur.

Tantangan terbesar yang dirasakan adalah membagi waktu antara perkuliahan dan penyusunan proposal. 

Selain itu, tim juga harus mencari topik yang relevan, kuat secara akademik, dan memiliki nilai kebaruan.

Lihat juga: Banyak Karya Lolos di PKM dan P2MW 2026, Umsida Buktikan Implementasi Kampus Berdampak

“Jadi harapan saya, penelitian ini bisa berjalan lancar dan tim kami dapat melaju sampai PIMNAS untuk membanggakan nama Umsida,” tutur Nur.(Bella)