Umsida.ac.id – Isu pengolahan sampah, menjadi perhatian dalam kolaborasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bersama pihak pemerintah dan juga DUDI.
Lihat juga: Inovasi Pengolahan Sampah Tanpa Asap Dosen Umsida Masuk Top Ten KISI 2025
Karenanya, Umsida menggelar sharing session pada Senin, (27/4), bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk.
Ketiga pihak menerangkan soal bahaya sampah dan penanggulangannya.
Memerangi Sampah Melalui Mindset
Plt Kepala DLHK Sidoarjo, Arif Mulyono S.STP M.HP, menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan “memerangi sampah”, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir masyarakat.
“Kalau kita perang dengan sampah, kita akan kelelahan. Tapi kalau kita perang dengan mindset kita untuk mengelola sampah dengan benar, kita akan menang,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa pengolahan sampah harus dimulai dari sumber, yakni rumah tangga.
Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat untuk mengetahui alur pembuangan sampah hingga ke tempat akhir, sehingga tidak terjadi pembuangan sembarangan yang berpotensi mencemari lingkungan.
Di Sidoarjo, kata Arif, produksi sampah mencapai 1.000–1.200 ton per hari, dengan sekitar 500–600 ton masih berakhir di TPA.
Jika tidak dikelola dengan baik, kapasitas TPA diperkirakan akan penuh dalam 3–5 tahun.
“Ayo kita kolaborasi. Pemerintah di sisi kebijakan, masyarakat ikut bertanggung jawab. Kampus juga harus menjadi bagian dari gerakan green campus,” pungkasnya.
Industri Mulai Menerapkan 5R

Selanjutnya, Public Affair & License Manager PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, Benny Haryawan ST SH MM mengatakan pentingnya efisiensi energi.
“Kadang kita tidak sadar, listrik itu tidak gratis. Menghidupkan AC, lampu, itu ada biayanya. Kalau tidak digunakan secara bijak, itu jadi pemborosan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa di PT Tjiwi Kimia, hal tersebut sudah dilaksanakan.
Salah satunya adalah memasang teknologi seperti turbo blower dalam proses produksi untuk mengurangi konsumsi listrik.
Tjiwi Kimia juga menerapkan prinsip 5R yakni Reduce, Reuse, Recycle, Replant, dan Replace.
Mereka menerapkannya di setiap proses produksi melalui inovasi dan kompetisi internal yang dilakukan setiap tahun.
Lantas, Benny juga menyoroti besarnya potensi ekonomi dari pengolahan sampah, khususnya kertas.
Ia mengungkapkan bahwa Tjiwi Kimia saat ini membutuhkan sekitar 1.000 ton karton bekas setiap hari sebagai bahan baku produksi.
“Tjiwi Kimia menerima berbagai jenis kertas daur ulang. Jadi seharusnya tidak ada lagi kertas yang terbuang sia-sia,” jelasnya.
Tidak hanya kertas, limbah lain juga dimanfaatkan secara maksimal.
Limbah hasil pembakaran yang sebelumnya tergolong B3 kini telah diolah menjadi produk seperti paving dan batako melalui program CSR.
Sementara limbah plastik yang tidak bernilai ekonomis dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti batubara untuk menghasilkan energi.
Mereka juga mengurangi emisi karbon dengan pemasangan panel surya skala besar di area pabrik dan melakukan penghijauan.
“Semua bisa dimanfaatkan, tidak ada yang benar-benar menjadi sampah jika kita mau mengelolanya,” pungkasnya.
Pengolahan Sampah Melalui Eco Enzym

Di diskusi terakhir, Dr Syamsudduha Syahrorini MT selaku Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC Umsida) menjelaskan bahwa sampah di Sidoarjo didominasi oleh sampah organik.
“Sosialisasi sudah sering dilakukan, tapi yang dibutuhkan bumi adalah tindakan langsung,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia memperkenalkan pemanfaatan eco enzyme sebagai salah satu metode pengolahan sampah organik.
Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi bahan organik seperti kulit buah dan sayur dengan perbandingan sederhana, yaitu 1:3:10 antara gula, bahan organik, dan air.
Proses fermentasi ini membutuhkan waktu sekitar 90 hari di wilayah tropis.
“Eco enzyme ini mampu mengurangi sampah organik hingga 50–70 persen dan dapat dimanfaatkan sebagai cairan multifungsi, seperti pembersih hingga pupuk,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumber, termasuk di kampus.
Ia mendorong mahasiswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan serta memanfaatkan teknologi dalam pengolahan sampah.
Salah satunya melalui pengembangan sistem berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau proses pengolahan sampah, seperti suhu, pH, hingga gas yang dihasilkan.
Lihat juga: PESTA, Inovasi Pengolahan Sampah Karya Dosen Umsida
Menurutnya, green campus tidak hanya terbatas pada pengolahan sampah, tetapi juga efisiensi energi, seperti penggunaan lampu LED, sensor otomatis, serta pemanfaatan energi terbarukan yang terintegrasi dengan sistem pintar.(Romadhona)



















